khuzaifah hanum

share to others

Zakat dalam Pengentasan Kemiskinan

leave a comment »

Pada tanggal 11-14 Agustus 2014 ini, forum informal menteri agama dari negara-negara serumpun Melayu (MABIMS) menyelenggarakan konferensi tahunannya. Tema yang diangkat dalam pertemuan kali ini adalah pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat miskin.

Hari ini, di saat orang-orang di seluruh kawasan Melayu bangun setiap pagi untuk menjalani aktifitas, masing-masing menjalaninya dengan situasi yang sangat berbeda. Sebagian memulainya dengan kecukupan materi, rumah yang nyaman, pakaian yang indah, makanan yang berlimpah, kesehatan yang baik, dan keuangan yang berkecukupan.

Sementara itu, sebagian mayoritas lainnya hidup dalam keadaan yang kurang menguntungkan. Mereka mungkin tidak memiliki makanan, pakaian yang cukup, atau tempat tinggal yang layak. Kesehatan mereka sering kali buruk, pendidikan yang rendah, dan peluang untuk hidup lebih baik di masa depan yang sulit. Ada lebih dari 40% penduduk regional ini yang hidup dengan kondisi seperti ini (UNDP, 2014), dengan pendapatan kurang dari US$2 per hari. Satu kondisi yang diacu sebagai kemiskinan absolut.

Kemiskinan seakan menjadi lubang hitam yang mengotori wajah peradaban. Sejarah telah panjang mencatat berbagai usaha manusia menciptakan kemajuan. Namun tetap saja, kesenjangan ekonomi hingga hari ini terus ada, bahkan kini problem kemiskinan semakin kompleks.

Masalahnya, dalam logika ekonomi, redistribusi aset hanya dapat dilakukan melalui transaksi ekonomi. Santunan untuk membantu orang-orang miskin adalah tindakan yang tidak rasional. Begitu pun dengan instrumen fiskal, keberpihakannya pada pengentasan kemiskinan hanya bersifat pilihan. Kebijakan pembangunan pro-poor pun sangat bergantung pada political will dari penguasa.

Dalam Islam, kemiskinan memiliki kecenderungan yang kuat pada kekufuran. Karenanya, Islam memiliki perhatian besar terhadap penanganan masalah kemiskinan. Al-Qu’an membahasakannya dalam kata-kata “memberi makan orang-orang miskin”, “mengeluarkan sebagian rezeki yang diberikan Allah”, “memberikan hak orang yang meminta-minta”, dan sebagainya. Islam ingin menegaskan bahwa memberikan perhatian terhadap penanganan masalah kemiskinan merupakan realisasi keimanan.

Intervensi Islam terhadap masalah kemiskinan secara eksplisit muncul dalam konsep zakat. Sebagai amal maaliyah ijtimaa’iyah, zakat memiliki peran strategis yang berfungsi dalam instrumen redistribusi kekayaan dalam masyarakat. Sementara itu, perintah zakat sebagai ibadah, memungkinkannya untuk menjadi sumber daya yang kekal dalam agenda pembangunan kesejahteraan mustahik.

Dalam satu dekade terakhir, pengelolaan zakat di wilayah serumpun mengalami perkembangan positif. Malaysia merupakan negara dengan tingkat penghimpunan tertinggi di antara negara-negara yang menganut kebijakan voluntary dalam zakat. Indonesia pun kini menjadi percontohan dari kreatifitas bentuk penyaluran zakat. Sama halnya dengan Singapura dan Brunei yang sedang memulai zakat sebagai instrumen redistributif.

Namun, karena bersifat ‘angel fund’, penyaluran zakat secara sporadis yang tanpa kejelasan kriteria dan orientasi program, justru memberikan pengaruh buruk dalam upaya pengentasan kemiskinan. Pemberian cuma-cuma kepada mustahik itu justru akan membangun kebiasaan malas berusaha dan tradisi meminta-minta. Oscar Lewis (1966) menyebutnya sebagai budaya miskin.

Berkaca pada pengalaman Indonesia, ada empat upaya intervensi dalam pemanfaatan zakat agar efektif dalam program pemberdayaan, tanpa menyuburkan budaya miskin. Pertama, pemenuhan kebutuhan pokok minimum. Untuk dapat mendorong mustahik dapat berdaya dan berusaha, maka kebutuhan minimum akan konsumsi harian, pakaian, dan tempat tinggal harus dipenuhi. Ini adalah keunggulan zakat sebagai instrumen redistribusi aset. Dengan demikian, mustahik dapat fokus menjalani program pemberdayaan dan mengembangkan usahanya.

Kedua, penyadaran diri dan ruhani. Sebagian besar masyarakat miskin cenderung pasrah dengan kondisi mereka yang serba terbatas. Mereka kehilangan kepercayaan diri untuk dapat meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik. Mereka lupa jati dirinya sebagai manusia yang diciptakan Tuhan dengan sebaik-baiknya penciptaan. Maka peran pemberdayaan zakat yang paling awal adalah menyadarkan potensi diri dari mustahik bahwa mereka mampu berdaya. Dengan kesadaran dan motivasi yang tumbuh dari dalam diri mustahik, maka upaya pemberdayaan akan lebih optimal untuk dilaksanakan.

Ketiga, pengembangan skill dan modal ekonomi. Karakteristik dari masyarakat miskin adalah siklus ekonomi yang berjangka harian danusaha yang bersifat subsisten. Dengan pendapatan yang minim, mustahik tidak bisa dan tidak terbiasa untuk menabung. Untuk problem ini, program pemberdayaan zakat yang dibutuhkan adalah pengembangan skill dan pemberian modal ekonomi. Intervensi ditujukan untuk memperbesar skala atau bahkan membuka baru lingkup usaha, sehingga penghasilan mustahik dapat meningkat.

Pelatihan keterampilan khusus yang sesuai dengan minat dan potensi mustahik merupakan menu wajib dalam pengembangan skill ekonomi. Sehingga, tidak semua mustahik diarahkan untuk menjadi pedagang retail. Di samping itu, financial literacy menjadi pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh mustahik. Karena, problem selanjutnya adalah bagaimana mendidik mustahik untuk dapat mengelola asetnya yang mulai bertumbuh.

Keempat, penguatan jaring pengaman sosial. Kesehatan yang sering kali buruk adalah dimensi lain dari masalah kemiskinan yang membuat mustahik menjadi subjek yang sangat rentan terjerembab dalam lingkaran kemiskinan. Upaya mitigasi atas kondisi ini adalah dengan membangun jaring pengaman sosial bagi mustahik dalam bentuk program jaminan atau layanan kesehatan cuma-cuma.

Keempat upaya intervensi tersebut merupakan kesatuan yang saling berkaitan erat dan harus dilakukan secara terintegrasi. Dengan demikian, manfaat zakat sebagai instrumen redistribusi kekayaan dan institusi pembangunan kesejahteraan dapat lebih terasa.

Dari kelebihan yang dimiliki, zakat memiliki potensi besar untuk mengisi lubang kesenjangan yang ditinggalkan oleh pembangunan konvensional. Pemberdayaan masyarakat miskin berbasis zakat menjadi sebuah langkah alternatif dalam pengentasan kemiskinan. Satu upaya yang setidaknya dapat dimulai dari lingkup kawasan rumpun Melayu.

Written by hanumisme

August 18, 2014 at 1:51 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: