khuzaifah hanum

share to others

Kongruen

with one comment

Perbincangan itu selintas terdengar menarik. Bukan bermaksud menguping. Tapi suara mereka memang terdengar dari kejauhan. Saat berjalan di lorong kampus, yang insyaAllah segera saya tinggali.

Mereka berdiskusi dengan asik. Seorang laki-laki dengan penampilan kucal. Sepertinya adalah sosok mahasiswa baru, yang kemarin bertemu di pojok kantin. Dengan santai ia berkata, “berjilbab itu, hatinya dulu, baru fisiknya.” 

Selorohnya memang begitu saja. Namun sepertinya sangat mengena. Bagi sang lawan bicara, perempuan berkerudung itu terdiam. Entah merenung atau, berpikir coba menimpali. Sadar pribadinya mungkin belum sempurna.

Tersentak, langkah saya  pun terhenti. Benarkah begitu? Adakah kebaikan harus dimulai dengan keimanan yang mantap. Baru kemudian amal-amal yang banyak? Lalu, selanjutnya, kalau belum penuh kadar imanya, tidak boleh kah kita beramal?

Mungkin logika ini banyak menghantui setiap kita. Keraguan untuk menciptakan amal. Di saat semangat belum diiringi keyakinan yang kuat. Terutama para perempuan yang ingin berjilbab. Hijrah dari kegelapan menuju cahaya iman.

Sejenak merenung. Sepertinya, pandangan itu keliru. Karena, logika keimanan tidak linear seperti itu, diyakini dulu baru diamalkan. Sebaliknya, keimanan itu kongruen, bersesuaian. Ya kongruen, ada harmoni di dalam hati yang diyakini, di dalam lisan yang dicuapkan, dan di dalam perbuatan yang diamalkan. Itulah keimanan.

Iman itu tidak hanya berhenti di dalam hati. Tapi harus dibuktikan dengan lisan dan perbuatan. Kalau yang di dalam hati, itu namanya niat. Jadi, kalau baru sebatas menguatkan hati, itu artinya baru berniat beriman, belum beriman.

Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam adalah contohnya. Bagaimana amal justru mengundang tumbuhnya iman di hati. Siapa yang meragukan keimanan bapak para nabi ini? Tapi tahukah kita, bahwa keimanan Nabi Ibrahim yang kokoh justru dimulai dengan amal. Sementara hatinya masih banyak pertanyaan akan apa itu hakikat iman. Bukan sebaliknya.

Tidak ada satu pun yang mengajarkan Ibrahim tentang iman. Pada awalnya semua tentang keraguan. Apakah berhala itu Tuhan, dan wajib disembah. Ibrahim muda pun memulainya dengan amal, ia menolak peribadatan kepada berhala. Satu langkah amal, yang kelak menjadi medium kokoh keimanan di hati.

Allah subhanallahu wa ta’ala melihat ketulusan amal Ibrahim muda. Kemudian Allah menumbuhkan kecerdasan berpikir padanya. Bertanyalah Ibrahim tentang patung-patung, matahari, dan rembulan. Siapakah sang Tuhan? Penolakannya terhadap berhala, membimbing hatinya kepada iman. Ada keselarasan iman dalam hati, lisan, dan amal, kongruen.

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).. (QS. Al-Fath [48]: 4)

Pun, iman ada kalanya naik, dan ada kalanya turun. Di saat turun inilah, iman itu harus dijaga, agar tidak terperosok lebih jauh lagi ke jurang kekufuran. Cara menjaga iman agar tidak terus tergelincir cuma satu: beramal. Ya memperbanyak amal, bukan yang lain.

Kalau logika linear tentang iman tadi dipaksakan. Bisa jadi, di saat iman kita sedang turun, ibadah kita pasti merosot. Habislah kita.

Padahal, dalam Islam, yang namanya amal ibadah itu keharusan, bukan pilihan kalau iman sedang optimal. Tidak ada ceritanya dalam sirah nabi, ada sahabat yang bilang: “Ya Rasulullah, iman saya sedang turun, jadi saya tidak shalat ya, mau perbaiki iman dulu.” Itu dudul namanya.

Sebaliknya, di saat keimanan sedang tidak sempurna, kita dianjurkan untuk disiplin dalam amal ibadah wajib, serta memperbanyak amal-amal sunnah. Pastinya berat. Tapi memang begitulah logika keimanan.

Kaitannya dengan berjilbab tadi, tidak harus hatinya dulu, lalu baru auratnya. Tapi ditutup secara bersamaan. Hatinya juga, fisiknya juga. Niat, lisan, dan amal selaras dalam keimanan. Bisa jadi kalau hatinya selama ini sulit untuk diperbaiki, maka dengan usaha berjilbab secara amal jasadiyah, nikmat iman itu tumbuh dan berkembang di dalam hati.

Karena kita adalah manusia, tak ada yang sempurna. Hanya amal-amal yang bisa menjaga. Selamat mencipta amal. Tak ada lagi defisit iman atau hati yang kurang baik yang jadi alasan. Karena itu hanyalah perangkap setan.

Written by hanumisme

November 9, 2012 at 6:13 am

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Reblogged this on monolog senja.

    monologsenja

    March 3, 2014 at 2:01 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: