khuzaifah hanum

share to others

Tabayun ála Socrates

leave a comment »

Suatu hari, Socrates didatangi seorang kenalannya dan berkata kepada filusuf besar itu, “Tahukah Anda, apa yang saya dengar tentang teman Anda dari orang lain?”

Sebelum membiarkan kenalannya itu berkata lebih jauh, Socrates memberikan tes sederhana yang disebutnya Triple Filter Test. Kenalannya itu setuju, dan mereka pun melanjutkan pembicaraan.

“Baiklah, filter pertama adalah kebenaran.” ujar Socrates, “apakah Anda yakin apakah yang akan Anda katakan kepada saya itu benar?”

“Tidak,” jawab orang itu, “sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu.”

“Baik,” ujar Socrates, “jadi Anda tidak yakin kalau hal itu benar.”

Socrates melanjutkan pada filter yang kedua, yakni kebaikan.
“Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu adalah sesuatu yang baik?”

“Tidak, malah sebaliknya..”, jawab orang itu.

“Cukup”, sela Socrates, “Jadi, Anda akan menceritakan sesuatu yang tidak baik tentang teman saya, tetapi Anda sendiri tidak yakin akan kebenaran hal itu. Anda masih memiliki satu kesempatan lagi, masih ada satu filter lagi, yaitu filter ketiga, kegunaan.”

“Apakah yang akan Anda katakana pada saya tentang teman saya itu adalah hal yang berguna bagi saya?” tanya Socrates.

“Tidak, sama sekali tidak”, jawab kembali orang itu.

“Jadi,” Socrates menyimpulkan,

“Mengapa anda harus menceritakan itu kepada saya, sementara Anda tidak meyakini cerita itu sepenuhnya benar, bukan pula tentang kebaikan, dan bahkan tidak berguna bagi saya?”

Itulah Socrates. Mengapa kemudian ia dianggap sebagai filusuf besar nan terhormat. Ia disegani tidak hanya pada komunitas lokalnya di masa ia berada, tapi nama kebesarannya menggema di jagad dunia.

Socrates mengajarkan kita tentang salah satu etika berinteraksi. Dalam suatu komunitas, di mana banyak kepala memiliki ide masing-masing, namun berupaya bergerak bersama, dipastikan akan ada selisih pendapat. Di sanalah zhan (prasangka) berbicara.

Socrates, sebagaimana juga Al-Ghazali menyadari, sangat menghindari zhan. Ia tahu betul, zhan tidak hanya akan merusak seseorang, namun juga akan menghancurkan suatu entitas peradaban.

Pun, di dunia kita saat ini, di mana teknologi informasi telah mengubah ranah publik dan ranah privat. Setiap manusia dapat dengannya mudah masuk dalam berbagai komunitas, Georg Simmel mengistilahkannya sebagai ranah interaksi triadic (tiga atau lebih pelaku komunikasi).

Dalam model komunikasi baru ini, banyak orang yang tak sadar dalam membedakan informasi publik dan informasi personal. Di sinilah problem etika berkomunitas muncul. Informasi yang sebenarnya hanya untuk dirinya sendiri dan tidak disebarluaskan, tertukar dengan informasi publik. Akibatnya, muncul banyak prasangka dalam dunia kita.

Walhasil, komunitas kita menjadi sangat lemah, diterpa gelombang prasangka yang belum teruji keotentikannya. Trus antar individu menurun. Fukuyama menyebutnya kemunduran komunitas.

Semua itu berawal dari rendahnya kesadaran etika berinteraksi. Kegagalan menyaring informasi, menjadi kegalauan kolektif. Saatnya mengenang kembali Socrates akan kebijaksanaannya dahulu. Menyaring informasi dalam komunitas kita dengan filter kebenaran, kebaikan, dan kegunaan, yang kita sudah kenal sebagai tabayun.

Written by hanumisme

August 14, 2012 at 10:14 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: