khuzaifah hanum

share to others

Refleksi Uhud

leave a comment »

Ada satu fragmen dalam sejarah dalam kehidupan Rasulullah SAW (Sirah Nabawiyah) yang begitu dikenang oleh ummat Islam. Dalam lembar sejarah tersebut, tidak kurang 70 sahabat penghafal al-Qur’an syahid disaksikan para malaikat. Tidak hanya itu, di medan Uhud, hembusan fitnah akan kematian rasulullah begitu dekat di telinga para sahabat.

Perang Uhud terjadi pada tanggal 15 Syawal 3 H di Bukit Uhud. Perang ini terjadi 13 bulan setelah perang Badar (17 Ramadhan 2 H). Tulisan ini tidak bermaksud mengurai kisah penyebab dan detail peristiwa berlangsungnya perang tersebut. Namun lebih melihat bagaimana sikap Nabi SAW dan kaum muslimin dalam menangani krisis Uhud tersebut.

Seperti yang telah banyak diketahui, Bukit Uhud menjadi saksi kekalahan kekalahan barisan kaum muslimin dari pasukan musyrikin Makkah di bawah komando Khalid bin Walid. Para mujahidin pun kocar-kacir dan berhimpun kembali di perbatasan Madinah dengan kekuatan seadanya. Sementara, kaum musyrik Makkah berpesta pora merayakan kemenangannya di kamp Uhud.

Rasulullah SAW dengan kapasitas kepemimpinannya tidak membiarkan kekuatan mujahidin tenggelam dalam duka dan isu-isu yang terus menggulir dan membesar tentang kekalahan kaum muslimin. Menjelang subuh, Rasulullah SAW menghimpun para sahabat yang sebelumnya menghadiri kekalahan di Uhud.

Dengan membawa obor-obor besar, para mujahidin kembali menuju medan Uhud di sepertiga malam tersebut. Dari kejauhan di bukit Uhud, pasukan musyrikin Makkah melihat seakan ada serombongan pasukan besar dari arah Madinah menuju Uhud. Dalam kondisi yang lelah setelah perang dan lengah setelah pesta kemenangan, tanpa komando, pasukan musyrikin lari tunggang langgang meninggalkan Uhud untuk menyelamatkan diri dan rampasan perang kembali menuju Makkah.

Dari kisah tersebut, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita semua bagaimana memutarbalikkan krisis menjadi sebuah supremasi. Rasulullah menyadari betul, bahwa setelah kekalahan di Uhud, seluruh mental juang para sahabat mengalami krisis yang luar biasa, belum lagi hembusan fitnah yang melumpuhkan semangat dan nalar para mujahidin, serta kerugian fisik, luka-luka, serta kematian para sahabat yang tidak sedikit.

Namun, Rasulullah SAW berkeinginan untuk membangun kembali semangat jihad para sahabat dengan menyerang kembali bukit Uhud pada saat menjelang subuh. Bukan dengan serangan yang diam-diam, tapi dengan menampakkan kebesaran diri melalui obor-obor raksasa. Dan hasilnya, pasukan musyrikin Makkah yang di siang harinya meraih kemenangan, justru lari dengan rasa takut yang luar biasa.

Langkah kecil yang dilakukan, namun memiliki efek yang luar biasa besar. Bisa dibayangkan, apabila Rasulullah SAW dan para sahabat tidak berinisiatif menegakkan supremasi masyarakat muslim pada waktu itu. Pasukan musyrik Makkah dipastikan mengejar sisa-sisa para mujahidin beserta Rasulullah SAW, dan bukan tidak mungkin Madinah yang tanpa pertahanan akan dibumihanguskan oleh pasukan musyrik Makkah. Dan, kisah sejarah Islam pun berakhir tragis.

Dua langkah yang berbeda memiliki hasil yang sangat berbeda. Di sinilah Nabi SAW dan para sahabat mengajarkan kepada kaum muslimin, bahwa dalam kondisi krisis, tidak seharusnya kita menyerah dan pasrah oleh keadaan. Tapi sebaliknya, sudah seharusnya kita mampu mengolah kondisi krisis untuk menjadi peluang dalam menegakkan supremasi kita.

Kita memang tidak diwajibkan untuk menciptakan akhir kisah, tapi kita dituntut untuk menciptakan amal terbaik (ahsanu amala) dalam setiap momen kehidupan kita, baik dalam kondisi normal, dan juga dalam kondisi krisis. Karena, kita yakin bahwa Allah SWT menyaksikan kerja-kerja kita semua.

Ketika kerja dipenuhi dengan niat yang ikhlas dan semangat yang sungguh-sungguh menjalankan sunnatullah kemenangan, bukan tidak mungkin Allah SWT akan ridha dengan perjuangan kita. Dan, pada saat itulah pertolongan Allah SWT datang.

Kondisi Uhud inilah yang tengah menimpa Bangsa Indonesia. Saat ini, bangsa kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang tangguh. Pemimpin yang bukan sekedar mampu membangun peradaban bangsa dalam kondisi yang normal. Tapi, pemimpin yang mampu menanggulangi krisis menjadi supremasi, untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Written by hanumisme

May 10, 2011 at 9:24 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: