khuzaifah hanum

share to others

Anatomi Gerakan Islam di Indonesia

with 3 comments

Kegagalan dalam mengkomunikasikan perbedan merupakan problem mendasar yang kerap kali melanda, bahkan meremukkan gerakan Islam di mana pun, tidak terkecuali di Indonesia. Problem ini merupakan sebuah keniscayaan yang pasti ada di setiap masa, bahkan sejak masa Nabi saw. Perbedaan yang tidak mampu dikomunikasikan dengan baik tidak hanya berdampak pada perpecahan, namun juga berunjung pertikaian hingga peperangan antar kelompok dari gerakan Islam.

Perang Shiffin telah menjadi contoh bagaimana sebuah perpecahan yang sedemikian kronis, hingga berujung pada peperangan antara sahabat-sahabat ra. Perbedaan pendapat tidak mampu dikelola dengan baik hingga tumpah dalam medan peperangan. Meski pun demikian, pasca perang Shiffin, konflik tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan tidak terwariskan turun temurun.

Di era kontemporer, para orientalis sangat jeli melihat titik lemah gerakan Islam ini. Karenanya, dengan dalih akademik, mereka membuat klasifikasi-klasifikasi terhadap kelompok Islam. Gerakan Islam disekat-sekat dalam ruang antara kelompok fundamental dan liberal, sebagaimana banyak disinggung dalam tinjauan sosiologi konvensional. Sebuah kategorisasi yang sebenarnya tidak perlu dan tidak benar.

Dalam terminologi Islam, tidak ada pembedaan semacam itu. Kategorisasi gerakan dalam konsep Islam yakni gerakan Islam (kelompok mu’minuun) dan gerakan non-Islam (seperti kelompok musyrikuun, faasiquun, munafiquun, dan lainnya). Kelompok mu’minuun adalah kelompok yang meyakini Islam sebagai asas yang paling benar, dan tidak ada keselamatan (akhirat) di luar Islam. Karenanya, kelompok ini senantiasa memperjuangkan Islam sesuai dengan arahan Nabi saw.

Lantas, bagaimana dengan gerakan Islam liberal yang sedang marak dewasa ini? Maka, tentu saja, kelompok liberal tersebut bukan bagian dari gerakan Islam. Karena mereka tidak memiliki orientasi yang benar terhadap Islam dalam berkehidupan di dunia maupun di akhirat (pasca-dunia).

Adapun, dalam konteks Indonesia, terdapat gerakan Islam yang beragam. Keragaman ini hadir karena perbedaan pandangan dalam hal metodologi dan strategi perjuangan, bukan dalam hal yang ushul, terkait masalah keyakinan. Secara umum peta gerakan dapat dilihat dalam bagan dibawah ini.

Problem klasik yang masih menimpa gerakan Islam saat ini adalah kegagalan dalam membangun komunikasi antar elemen gerakan. Semisal saat ini, yang sangat ekstrim, sangat sulit bagi kalangan Salafi berkompromi dengan kaum NU yang bernuansa kultural. Dalam dunia politik, PKS yang disokong oleh gerakan Tarbiyah, masih belum mampu berkomunikasi secara efektif dengan kalangan Muhammadiyah maupun NU. DDII yang dahulu diharapkan mampu menghimpun gerakan Islam sebagaimana dicitakan sebagai manifestasi Masyumi, ternyata kandas ditinggal gerakan-gerakan Islam lainnya. Belum lagi perbedaan metodologi dan strategi perjuangan antara PKS dan HTI yang tidak juga terselesaikan.

Perbedaan pada hakikatnya adalah sebuah kewajaran. Namun, ketika perbedaan tersebut memicu pertikaian, maka perbedaan tersebut tidak lagi menjadi sebuah kewajaran. Karenanya, dalam konsep Islam, sudah sepatutnya dalam perbedaan tersebut, setiap elemen gerakan Islam dapat saling menasehati. Saling menasehati di sini tentunya didasarkan pada kejujuran serta niat yang ikhlash dan adab yang benar tentunya.

Untuk ke depan, pekerjaan rumah gerakan Islam masih cukup berat untuk membangun soliditas gerakan. Dua langkah yang mendukung hal ini adalah menjalin silaturahim antar sesama gerakan Islam dan menentukan ‘musuh bersama’. Sehingga energi gerakan tidak terbuang sia-sia hanya untuk menyelesaikan friksi internal yang tak jua kunjung padam.

Terakhir, sudah sepatunya setiap gerakan Islam menyiapkan masyarakat yang akan menopang kebangkitan. Ada dua karakter masyarakat yang bangkit. Pertama, masyarakat yang memiliki tradisi ilmu. Kedua, masyarakat yang mencintai pengorbanan, di mana ikatan sosial jauh lebih diutamakan dari egoisme personal. Ini telah dicontohkan hampir oleh semua peradaban. Masyarakat Madinah di masa Nabi saw, atau pun masyarakat Eropa di pre-renaissance, masyarakat Jepang di masa Restorasi Meiji maupun pasca Perang Pasifik, dan masyarakat peradaban lainnya. [khh]

 

*) Tulisan ini merupakan catatan diskusi #10 Komunitas LENTERA20, bersama Dr. Adian Husaini

Written by hanumisme

March 23, 2011 at 11:39 am

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. assalamu’alaykum, ana tambahkan dari yang ana tangkap ya…🙂

    Dalam tradisi keilmuan Islam, baik muslim maupun muslimah tidak dibeda-bedakan karena sala satu kewajiban muslimadalah menuntut ilmu. ilmu yang bagaimana? ada 2 kategori ilmu dalam Islam yakni yang fardhu ‘ain (setiap orang harus pelajari) seperti tauhid, ushul fiqh, nahwu-sharf, dsb juga fardhu kifayah (sejumlah orang hingga mencukupi untuk menebarkan kebaikannya)eperti ilmu kedokteran, matematika, astronomi dsb.

    Hanya saja, seringkali terdapat pemikiran bahwa kaum muslimah tidak perlu terlalu pintar apalagi yang sudah menikah dan hanya mengambil tugas di ranah domestik padahal anggapan ini salah. kewajiban mulia seorang muslimah khususnya yang telah menjadi seorang ibu, membutuhkan ilmu yang memadai misalnya, seorang ibu juga harus memahami pelajaran apa yang diterima oleh anaknya di sekolah agar dapat membenarkan seandainya ada yang bertentangan dengan realita dan kaidah Islam, misalnya sejarah yang sudah banyak dimanipulasi menjadi dongeng.
    akan tetapi, kendala muslimah biasanya terkait dengan kodratnya sendiri untuk melahirkan, menyusui, dsb sehingga waktu untuk menuntut ilmu tidaklah seluang para kaum adam. maka dari itu, sebagai muslim (baca: suami & ayah) yang bijak, harus menjadi corong ilmu dan saling berbagi ilmu dengan istrinya semisal sering melakukan diskusi keilmuan di sela waktu keluarga juga (menurut saya pribadi berdasarkan bacaan dari http://keluargahanif.blogspot.com/2011/03/emang-gampang-jadi-suami.html), seorang istri tidaklah wajib dibebankan seluruh tugas mengurus rumah tangga dari pagi hingga pagi lagi karena tugas utama istri adalah melayani suami dan mendidik anak sehingga ia memiliki waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu terkait serta memberikan manfaat bagi masyarakatnya sebagai ikhtiar membangun peradaban terbaik bagi anak-cucunya kelak.

    waLlahua’lam bish shawab

    rona khatulistiwa

    March 24, 2011 at 8:30 am

  2. […] inspired by here […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: