khuzaifah hanum

share to others

Masa dan Konsistensi Amal

leave a comment »

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

(Q.S. Al-Ashr [103]: 1-3)

Imam Syafi’I radhiyallahu anhu pernah berkata, “Sekiranya Allah tidak menurunkan al-Qur’an secara keseluruhan, niscaya surah al-Ashr tersebut sudah cukup bagi manusia”. Bukan tanpa alasan Imam Syafi’i mengutarakan hal tersebut. Bagi sang imam, surah makiyyah ini dirasa sudah mewakili dan mencakup seluruh hikmah yang terkandung dalam al-Qur’an, tentang sebuah jalan keselamatan.

Adalah sebuah kepastian bahwa al-Qur’an merupakan kitab yang memuat tentang peringatan dan kabar gembira. Begitupun dalam surah ini, Allah Subhanallahu Wa Ta’ala memberikan sebuah peringatan yang keras bagi setiap manusia, bahwa setiap manusia tanpa terkecuali senantiasa berada dalam kondisi yang merugi.

Namun, Allah Maha Adil. Karena, justifikasi atas kondisi merugi di sini bagi manusia bukan tanpa arahan jalan keselamatan. Dalam kelanjutan ayat berikutnya, Allah Yang Maha Rahiim mensyaratkan bahwa ada empat fase jalan keselamatan bagi setiap manusia yang harus ditempuh.

Pertama, keselamatan ada bagi orang-orang yang beriman. Di sini, beriman dimaknai sebagai beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, beriman kepada kitab-kitab-Nya, beriman kepada para nabi dan rasul-Nya, beriman kepada hari akhir, serta beriman kepada qada’ dan qadar Allah atas manusia. Di luar keimanan ini, tidak ada jalan keselamatan.

Kedua, keimanan seseorang ternyata bukan menjadi syarat tunggal bagi keselamatan manusia. Keimanan tersebut menuntut sebuah amal shalih sebagai sebuah pembuktiannya. Amal shalih merupakan indikator sesungguhnya dari keimanan. Iman dan amal merupakan dua hal yang saling berkaitan dan tak terpisahkan. Seseorang yang beriman tanpa beramal shalih, jadilah ia dalam golongan kaum maghdub. Sementara itu, suatu amal tanpa keimanan, sekalipun sangat banyak menggunung, maka jadilah amal-amal tersebut seperti anai-anai yang beterbangan, sia-sia.

Keimanan dan amal shalih ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan manusia dari kerugian, kecuali diikuti dengan syarat yang ketiga, yakni “nasihat menasehati dalam kebenaran”. Dalam bahasa yang lebih spesifik, implementasi dari makna nasihat menasehati dalam kebenaran ini adalah berdakwah, menyebarkan kebenaran kepada orang-orang di sekitar melalui proses nasihat menasihati yang baik. Dakwah merupakan bagian peran yang tidak terlepaskan dari setiap orang-orang yang beriman.

Kewajiban untuk menyebarkan kebenaran ini berlaku baik dalam dakwah yang menyerukan kebaikan (amar ma’ruf), maupun dalam dakwah yang mencegah kerusakan (nahi munkar). Karena, prinsip hidup seorang mu’min adalah menyebarkan kebenaran walau hanya satu ayat. Setiap mu’min harus mampu memimpin lingkungannya untuk taat kepada Allah SWT. Sebagaimana amanah Rasulullah, “perbaikilah lingkungan mu dengan tangan mu; dan jika tidak bisa, perbaikilah dengan lidah mu; dan jika tidak bisa, perbaikilah dengan hati mu; dan itu adalah selemah-lemahnya iman”.

Namun, dakwah, amal shalih, dan keimanan, belum menjamin keselamatan bagi manusia ketika tidak menjalankan syarat yang keempat yakni “nasihat menasihati dalam kesabaran” atau dalam bahasa yang lebih lugas ‘konsisten’. Poin yang keempat ini mengingatkan kita akan sebuah hadist Nabi, bahwa keimanan itu sangat fluktuatif. Bisa jadi seseorang beriman di pagi hari, namun ingkar di sore hari. Dan, bisa jadi seseorang beriman di sore hari, namun ingkar di pagi harinya.

Karenanya, konsistensi baik dalam dakwah, amal shalih, dan keimanan menjadi sebuah prasyarat mutlak untuk sebuah keselamatan di dunia dan di akhirat. Keimanan, amal shalih, bahkan dakwah yang temporer tidak menjamin manusia. Di sinilah kemudian makna waktu yang diambil sebagai awal dari peringatan bagi manusia. Bahwa, setiap kadar kebajikan yang dibuat oleh manusia, hanya akan dapat terbukti setelah melewati ujian masa. Pembuktian tersebut hadir dalam bentuk konsistensi. Tentunya konsistensi dalam keimanan, beramal shalih, dan berdakwah.

Dalam kesimpulan ini, masa menjadi variabel yang menentukan dari setiap amal perbuatan. Inilah yang sudah seharusnya hadir tidak hanya dalam alam sadar, namun sejak alam bawah sadar setiap orang yang menyatakan dirinya sebagai seorang muslim. Bahwa, setiap amal kita tidak akan berarti apa-apa jika gagal melewati ujian masa, bagaimana menjadi manusia-manusia yang senantiasa menyebar kebajikan dari awal hingga akhir. Bukan sekedar semangat kebaikan di awal, namun luntur di akhir. Memiliki konsistensi yang kontinyu dalam menyebarkan kebaikan sebagaimana telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul, serta para ulama yang mewarisi mereka.

Konsisten untuk keimanan, beramal shalih, dan berdakwah memperbaiki masyarakat merupakan prinsip hidup yang harus terjaga dalam diri setiap muslim. Konsisten untuk membangun Islam yang rahmatan lil ‘alamiin.

Written by hanumisme

March 16, 2011 at 9:56 am

Posted in tentang Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: