khuzaifah hanum

share to others

Zakat sebagai Insentif Pajak

leave a comment »

Upaya revisi UU Pengelolaan Zakat kembali terkendala. Menteri Keuangan menyatakan keberatannya atas usulan zakat sebagai pengurang pajak. Insentif pajak merupakan salah satu dari tiga poin mendasar dari upaya revisi UU PZ yang tengah bergulir. Adakah kerugian zakat sebagai insentif pajak?

Penolakan Menteri Keuangan tersebut tampak wajar. Kesadaran membayar pajak masyarakat Indonesia saat ini masih rendah. Berdasarkan APBN 2010, tax ratio di Indonesia hanya 12,4 persen dari PDB. Angka ini berada di bawah rata-rata tax ratio negara-negara Eropa (39,3 persen), bahkan di bawah negara-negara ASEAN (20 persen).

Sementara itu, pajak merupakan sumber utama penerimaan negara. Saat ini, hampir 78 persen pemasukan negara berasal dari pajak. Hingga kini, pemerintah terus meningkatkan perolehan pajak. Karenanya, wajar jika wacana zakat sebagai insentif pajak tertolak. Hal ini dikhawatirkan menjadi kebijakan yang kontra produktif dalam upaya optimalisasi penghimpunan pajak, yang tentunya akan memangkas pendapatan negara.

Titik Tengah

Melihat zakat sebagai insentif pajak secara kasar, tentu akan berdampak pada pertentangan konseptual, yang mungkin tak akan pernah selesai. Karenanya, tulisan ini mencoba mencari titik tengah antara zakat dan pajak. Mensinergikan keduanya menjadi komponen yang kontributif dalam mengupayakan kemakmuran bersama.

Pajak pada dasarnya merupakan kewajiban masyarakat terhadap negara. Dalam penggunaannya, pajak ditujukan untuk membangun fasilitas umum bagi masyarakat. Seiring berkembangnya pemikiran negara kesejahteraan, di beberapa negara kemudian mengalokasikan pajak sebagai bantuan subsidi ataupun program jaminan sosial bagi warga negara.

Meski secara teoritik tidak ada yang menyatakan pajak digunakan bagi masyarakat miskin. Namun, di Indonesia, konstitusi mengamanahkan negara untuk memajukan kesejahteraan umum. Secara sederhana, negara (pemerintah) bertanggung jawab untuk memanfaatkan pajak untuk membangun kesejahteraan masyarakat, mengurangi kesenjangan dan mengentaskan kemiskinan.

Objektif pajak tersebut terlihat tidak begitu berbeda dengan orientasi zakat. Zakat dengan sangat eksplisit ditujukan bagi orang-orang yang dikategorikan lemah (dhuafa’). Baik lemah dalam hal ekonomi (fakir, miskin), sosial (muallaf, ibn sabil), maupun politik (gharim, riqab, fii sabilillah). Pemanfaatan zakat diluar kategori tersebut jelas-jelas tertolak.

Zakat secara harfiah yang berarti tumbuh dan berkembang. Karenanya, zakat memiliki tujuan untuk menumbuh-kembangkan kesejahteraan masyarakat dhuafa’. Hakikat zakat adalah agar kemakmuran tidak hanya dinikmati oleh sekelompok elite masyarakat. Dalam pengertian ini, zakat dan pajak memiliki maksud yang sama, yakni redistribusi harta untuk kemakmuran bersama.

Sinergi Positif

Malaysia merupakan contoh menarik dari kebijakan sinergis antara zakat dan pajak. Pengelolaan zakat sejak awal memang sudah dilaksanakan oleh aparatur negara. Namun, baru pada tahun 2004, pengelolaan zakat resmi berada dalam Departemen Zakat, Wakaf, dan Haji (JAWHAR). Departemen ini secara langsung bertanggung jawab kepada perdana menteri.

Setiap negara bagian memiliki Pusat Pungutan Zakat (PPZ). Lembaga ini melakukan penyuluhan intensif kepada masyarakat tentang kewajiban zakat. PPZ merupakan unit teknis pengelola zakat yang berperan dalam menghimpun dan mendayagunakan zakat pada setiap negara bagian.

Di samping pelaksanaan penyuluhan zakat, keberadaan zakat sebagai insentif pajak berhasil mendorong pertumbuhan angka penghimpunan zakat. Model ini mengintegrasikan zakat dengan sistem perpajakan nasional. Sistem ini memungkinkan adanya pertukaran informasi antar institusi pengelola pajak dengan pengelola zakat.

Pola sinergi zakat dan pajak tersebut memudahkan pemerintah mendeteksi siapa yang tidak membayar zakat dan siapa yang tidak membayar pajak. Karenanya, dengan kebijakan tersebut, secara tidak langsung, penghimpunan pajak juga mengalami peningkatan, dengan tax ratio diperkirakan mencapai 20,2 persen.

Model seperti inilah yang ke depannya perlu dikembangkan di Indonesia. Ada sinergi positif antar institusi, bukan ego sektoral yang menyekat. Dalam hal ini, kerja sama antara institiusi pajak dan pengelola zakat.

Harus oleh Negara

Namun, perlu ditekankan bahwa skema zakat sebagai insentif pajak juga harus didukung dengan sistem pengelolaan zakat yang terpadu. Negara harus mengambil alih peran sebagai komando yang mengayomi pengelolaan zakat nasional. Peran ini tidak ditujukan hanya sebagai operator zakat yang berjibaku sekedar pada proses penghimpunan dan pendayagunaan.

Fungsi regulator dan koordinator dalam pengelolaan zakat merupakan peran sentral yang semestinya dijalankan oleh negara. Dalam artian, negara membuat sejumlah kebijakan dan arahan yang mendorong optimalisasi penghimpunan zakat, transparansi pengelolaan zakat, dan efektifitas pendayagunaan zakat dalam memberdayakan kelompok dhuafa’.  Untuk operator teknis, partisipasi masyarakat tak ada salahnya.

Dari peran sentral tersebut, diharapkan negara memiliki informasi agregat pengelolaan zakat nasional, baik penghimpunan maupun pendayagunaan. Dari data penghimpunan, informasi tersebut dapat diolah menjadi sumber data wajib pajak. Kebijakan insentif pajak diharapkan menstimulus pembayar zakat. Ini tentunya juga akan memperbesar jumlah wajib pajak. Artinya, target pemasukan pajak negara tentu akan meningkat, seiring dengan pertumbuhan zakat.

Dengan demikian, zakat sebagai insentif pajak sama sekali tidak akan merugikan negara. Zakat tidak lagi diasumsikan mengurangi pemasukan pajak. Sebaliknya, kebijakan tersebut justru akan mendorong pertumbuhan pajak. Ini tentunya akan meningkatkan kebermanfaatan negara bagi masyarakat, yakni sebagai redistributor kemakmuran.

Written by hanumisme

September 22, 2010 at 10:03 am

Posted in Indonesia ku

Tagged with , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: