khuzaifah hanum

share to others

Sejarah Pengkhianat

with 3 comments

Sejarah Pengkhianat. Mungkin itulah kesimpulan mendasar ketika membaca sejarah Indonesia. Pengkhianatan demi pengkhianatan terus berjalin membuat satu alur cerita yang menyakitkan. Mayoritas muslim terkhianati di sejarah negerinya sendiri. Tapi, begitulah sejarah. Hanya dapat diceritakan, dan tak dapat kembali.

Sejak meraih capaian prestatif pada kemerdekaan Indonesia, mayoritas muslim terus mengalami marjinalisasi, baik secara ekonomi dan politik. Pengkhianatan kaum sekuler di sidang PPKI menjadi awal kemunduran Islam dari struktur kenegaraan. Terhapuskannya peran negara dalam pelaksanaan syariat Islam. Islam terkungkung dalam ranah domestik masyarakat muslim. Muslim kehilangan kedaulatannya di negeri yang diperjuangkannya.

Pengkhianatan terus berlanjut. Begitu berkuasa, Soekarno beraliansi dengan kelompok komunis, yang kemudian menghancurkan Masyumi, partai representasi masyarakat muslim. Selain karena memperjuangkan Islam, Masyumi didakwakan kontra-revolusi karena menuntut demokrasi. Tak ada dialektika, ketika logika kekuasaan begitu berkuasa. Begitulah, kekuasaan Soekarno absolut penuh. Masyarakat muslim kembali tersingkir.

Keabadian bukan milik manusia, hal yang juga berlaku bagi Soekarno. Begitu cepat, Soeharto merebut kekuasaan dengan cerita yang penuh misteri. Situasi yang memunculkan harapan bagi masyarakat muslim. Berharap, penguasa baru lebih bersahabat dengan ummat mayoritas ini. Tapi, ambivalensi sikap begitu tampak di awal Orde Baru. Negara kembali tertutup bagi masyarakat muslim.

Bukan hanya marjinalisasi politik dan ekonomi, Orde Baru begitu hegemonik, mengamputasi Islam sebagai pandangan hidup muslim. Akibatnya, banyak muslim kehilangan identitasnya, menjadi kejawen atau sekuler. Tradisi Hindu dihidupkan sedemikian rupa. Simbolisasi Jawa begitu kentara. Menghapus jejak kebesaran Islam di bumi nusantara. Menggantikannya dengan kedigdayaan negara penjajah klasik, Majapahit.

Pancasila yang tak lain sintesis nilai Islam dalam konteks ke-Indonesia-an, dikooptasi dengan penafsiran filsafat kebajikan Jawa, yang mengada-ada. Di luar definisi mutlak dari Soeharto, pendefinisan makna Pancasila dicap sebagai sebuah ekstrimis. Letupan protes kelompok muslim disambut pembantaian militer; Tanjung Priok, Haur Koneng, dan semua peristiwa yang sengaja dilupakan.

Tapi, sejarah adalah milik penguasa. Siapa yang berkuasa, dialah yang berhak mengarang cerita. Sebusuk apapun pengkhianatan, penguasa berhak merangkainya dengan alur narasi yang indah. Hingga satu saat, biarkan sejarah itu membuka dirinya sendiri.

Written by hanumisme

May 18, 2010 at 4:59 am

Posted in Indonesia ku

Tagged with , , ,

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. masihkah bisa kenyataan hari ini dan akan datang menjadi sejarah hasil manipulatif, mengingat semakin terbukanya era informasi. Semoga era sejarah palsu sudah berakhir..

    skeptis adalah senjata agar tidak dikelabui, kritis itu harus, tapi jangan jadikan luka lama mengikat kaki untuk melangkah ke depan, stay optimistic..

    ditunggu postingan kontemplatif nan renyah berikutnya.. =)

    mas awe

    May 19, 2010 at 7:21 am

  2. kapankah “Pengkhianatan” ini kan berakhir??? (bikin tulisan baru gitu… :p )

    Ney

    September 27, 2010 at 9:41 am

  3. langsung bales.. “Zakat sebagai Insentif Pajak” ^^

    hudzaifahh

    September 28, 2010 at 2:30 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: