khuzaifah hanum

share to others

Matinya si Biang Kerok

leave a comment »

“Akhirnya mati juga si Biang Kerok itu!”. Seloroh itu terlontar begitu saja dari salah satu mulut warga yang berkerumun di tepi pemakaman keluarga itu. Beberapa warga lain yang mendengar, hanya tersenyum miris meng-iya-kan. Kata-kata yang tak etis untuk sebuah prosesi pemakaman. Tapi, itulah kenyataannya.

Sebagian pengunjung tampak gembira yang agak malu tertutupi rasa empati semu. Sementara beberapa warga yang tidak lain keluarga sang mayat, berekspresi tak seragam. Sebagian, tampak iba, sebagian lain entah tak terdefinisi. Tapi, hampir semua mencoba menunjukkan kesedihan yang entah dibuat-buat.

Tidak ada yang menyangka, takdirnya begitu cepat. Seluruh keluarga terkejut, begitu pun para tetangganya. Tapi, itulah takdir. Tak ada siapa pun yang mengetahuinya. Termasuk umur si Biang Kerok itu.

Keterkejutan itu tampak wajar. Karena tak siapa pun menyangka bahwa ajalnya secepat itu. Barang kali satu periode yang singkat untuk sebuah peran jahat, sebagaimana yang banyak hadir dalam sinetron kita. Dalam banyak parodi, tokoh antagonis yang picik, biasanya berumur panjang.

Tapi, jika melihat usianya yang sudah cukup uzur, kematiannya tinggal-lah menunggu waktu. Gelas-gelas kopi kental dan puluhan batang rokok secara alamiah memang pasti akan merenggut nyawanya. Mungkin, tak sedikit yang berharap akan ujung umur tua bangka itu segera.

Biang Kerok itu benar-benar biang kerok di kampung itu. Wataknya yang arogan, keras kepala, tamak, dan hasud, melengkapi sikap buruknya. Tak ada satu pun warga di kampung itu, yang tidak pernah merasakan perangai buruknya.

Entah warga kampung asli atau pendatang, pasti tidak akan nyaman tinggal bertetangga dengannya. Orang-orang tua, para remaja, dan bahkan anak-anak di kampung itu, sangat membencinya. Namun, tempramenya yang meledak-ledak, membuat warga di kampung itu enggan membuat masalah dengannya.

Berbagai tokoh kampung pernah berupaya penuh untuk menasehati kekolotan sikapnya. Tapi gagal. Begitu pun, sejumlah kiai kampung pernah menegurnya, dengan berbagai sindirian dalam ceramah di surau desa. Tapi, tak mempan. Keangkuhannya begitu kokoh untuk ditebas sekadar dengan nasihat.

Pada satu hari, pernah nenek tua yang tanpa sanak saudara datang ke kampung ini. Menumpang tinggal di sisa usianya yang lanjut. Entah hasud karena banyak yang berempati dengan sedekah ke nenek itu, si Biang Kerok memporak-porandakan bedeng nenek tua yang sebenarnya sudah tak layak huni itu.

Mungkin itu hanya satu dari rangkaian perilaku buruk si Biang Kerok. Catatan hari-harinya tak lepas dari keburukan-keburukan. Banyak orang menyangka usianya masih akan cukup panjang untuk menambah daftar sakit hati yang dirasakan para tetangganya.

Tapi, hari-hari yang menyakitkan warga itu telah berlalu. Si Biang Kerok telah tertimbun dalam kuburnya yang sempit. Sendiri, memendam semua keegoisan yang menjadi perangai hidupnya. Keberanian dalam keangkuhan yang begitu ia tonjolkan, kini terinjak-injak bersama tanah yang memenuhi liang lahat.

Tak ada siapa pun yang tahu kabarnya di alam sana. Yang pasti, kesombongan yang dahulu dibanggakan kini menjadi kutukan warga di kampung itu. Kenoaran dan hasud yang dibalut perangai kasar nan arogan, kini terkapar dalam jasad yang tak bernyawa, mati. Tak ada lagi yang dapat dibanggakan.

Si Biang Kerok telah memenuhi takdir hidupnya dengan keburukan yang ia pilih. Tuhan tidaklah mengutuknya, dengan menjadikannya sebagai makhluk busuk yang dibenci warga kampung. Tapi, ia telah meniti jalan hidupnya seperti itu.

Sebuah akhir cerita yang buruk untuk sebuah perjalanan kehidupan. Tapi itulah seni dari sebuah hakikat usia yang tak seorang pun tahu, kapan waktu pemberhentiannya. Memilih mencukupkan usia sebagaimana si Biang Kerok telah jalani, atau biografi lain yang lebih menawan.

Written by hanumisme

May 8, 2010 at 1:33 pm

Posted in jejak hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: