khuzaifah hanum

share to others

Salah Antri (Takdir)..

with 2 comments

Menjelang siang itu, udara terasa begitu panas tak biasanya. Memasuki sebuah lobi kantor cabang bank swasta di pinggiran ibukota, semilir udara yang terdinginkan cukup menyejukkan. Tapi, pandangan terbelalak dengan panjangnya antrian yang harus dilalui.

Ya, itu mungkin situasi yang biasa di akhir Ramadhan. Setiap orang ingin menarik uang untuk membelanjakan keperluannya di hari raya. Transfer uang menjadi ritual yang menjadi biasa, antrian di kasir menjadi buktinya.

Lama tak terkira menunggu antrian. Lelah berdiri, berharap pelayanan disegerakan. Ada pembedaan loket. Untuk ukuran transfer nominal besar dan kecil. Mungkin untuk memudahkan pelayanan, atau mungkin eksistensi pembedaan kelas sosial.

Sekilas, pandangan terperangah pada sosok lelaki paruh tua. Setelah lelah berdiri, berjejar untuk waktu yang tidak bisa dibilang singkat. Wajahnya bergurat penuh kecewa, segenap argumen dikemukakan. Mencoba menuntaskan lelah yang cukup panjang.

Namun, penjaga loket itu tegas. “Tidak bisa, Anda salah antrian. Silahkan ke barisan sebelah, masuk ke awal antrian!”

Seraya kecewa, lelaki itu bergegas, bergumam dalam kecewa untuk memulai barisan yang pastinya juga tidak kalah panjang.

Iba. Satu kata yang mungkin mencoba ber-empati atas suasana hati lelaki itu atas apa yang baru saja dialaminya. Setelah lelah berdiri berjejar, menanti sebuah antrian panjang yang meletihkan.

Bayangan menerobos konstruksi realitas antrian yang dihadapi oleh lelaki tua itu. Membayangkan antrian itu adalah sebuah antrian takdir. Saat memproyeksikan akhir, setiap dari kita memasang target di ujung yang hendak kita gapai. Dan, kita berjejar menyusuri akhir takdir tersebut.

Namun, dapat dibayangkan, ternyata akhir takdir tersebut ternyata bukan milik kita. Ketika orientasi hidup dipenuhi keangkuhan. Nasihat atas kekeliruan tidak dapat merebah kokohnya kata sombong. Dan, obsesi atas takdir yang salah terus menhujam keras di dasar jiwa. Salah menyusuri jalan takdir.

Tak ayal, kecewa tak terkira tertumpah ruah dalam segenap ruang hari. Mimpi dan harap yang begitu indah yang senantiasa melayang indah dalam cakrawala nuansa, pupus dalam peluh yang mendalam.

Rencana atas takdir memang merupakan bagian dari tugas kehidupan manusia. Tapi, keliru jika kita berlaku sombong atas keegoisan mimpi. Sudah selayaknya setiap harap disandarkan, hanya kepada Sang Penguasa Harap.

.

Akhir Ramadhan 1930 H, di Karang Tengah

Written by hanumisme

May 6, 2010 at 10:14 am

Posted in jejak hari

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. takdir Anda tidak akan meleset ? Gitu ?

    Fachrie Lantera

    January 31, 2013 at 12:10 pm

    • ya, selama tidak bertentangan dengan kauniyah dan kauliyah-Nya.

      hanumisme

      July 8, 2014 at 8:00 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: