khuzaifah hanum

share to others

Mengenang Gus Dur

with 2 comments

Takdir bak misteri. Ia layak sebuah kotak Pandora, yang tak seorang pun tahu apa isinya. Ya, adagium tersebut tampak menunjukkan eksistensinya. Saat mendengar berita kematian Gus Dur, kemarin malam. Terkejut dan hampir tidak percaya, terjadi begitu saja. Begitulah takdir memainkan perannannya. Ia hadir begitu elegan dengan kedigdayaannya. Kadang mengalir cepat, melambat, kembali cepat, dan mendadak terhenti.

Bagi para pengagumnya, kabar kematian ini mungkin bagai petir yang menyambar di siang bolong. Saat mentari masih keras memancarkan sinarnya. Kesedihan merundung, seakan menutupi langit seantero negeri. Bahkan, ba’da subuh tadi, salah satu, atau mungkin beberapa masjid di sekitar rumah, mengumumkan agar mengibarkan bendera setengah tiang. Bentuk berkabung atas musibah yang membawa kedukaan ini. Tapi itulah takdir, tak siapapun bisa mengelak.

Media massa mempublikasikan kabar ini dengan massif. Entah sekedar bentuk simpati, atau dramatisasi situasi, yang memang terlalu sering terjadi. Para tokoh memberikan komentar sebagai bentuk empati. Mengenangnya sebagai sosok yang hebat, Pahlawan Budaya dan Demokrasi, Tokoh Pemersatu, dan berbagai sebutan mencuat, sebagai ekspresi emosional. Walau tak lepas dari kekurangannya sebagai manusia. Betul, Gus Dur bukan malaikat. Ia berijtihad dengan kapasistasnya. Hingga menjelang tengah malam, masuk pesan singkat:

Terlepas dari sosoknya yang kontroversial, dia (Gus Dur) tetaplah tokoh yang telah terlahir untuk bangsa ini.

Bagi sebagian yang kontra dengannya, tak kuasa saya menuliskannya. Biarlah dicukupkan pada mereka. Meski ada yang meresponnya dengan kesyukuran, atau sekedar momentum refleksi akan kematian, tentang takdir. Yang pasti, keputusan tentang hari akhir, ada di tangan sang Khaliq. Tak perlu kita memperbincangkannya.

Peristiwa kematian Gus Dur ini seakan mengingatkan kodrat kita sebagai manusia, yang tak terlepas dari takdir, kematian. Gus Dur bukan orang sembarangan. Ia pernah menduduki kursi tertinggi di negeri ini. Secara informal, Gus Dur memiliki legitimasi yang kokoh. Bahkan, dahulu, ketika negeri ini masih dalam kemelut reformasi, ada sekelompok besar masyarakat yang ‘siap mati untuk Gus Dur’. Semasa hidup, Gus Dur begitu digdaya, berpengaruh kuat. Tapi, takdir membatasi usia dan karyanya.

Gus Dur telah mengukir garis hidupnya, dalam koridor takdir yang mencukupinya. Ia memilih perjalanannya sedemikian rupa. Patut kita hargai pemikirannya, kita apresiasi kontribusinya. Meskipun kita berbeda.

Tak perlu pujian berlebih, tak perlu kesedihan berlebih, dan tak perlu hal-hal lain yang berlebih. Takdir telah mencukupkan segala baginya. Berpikir positif, Gus Dur berupaya memberikan peran terbaiknya bagi kita yang masih di sini. Menyusun mosaik-mosaik takdir yang telah dipilihnya. Dan, bagaimana kita kemudian mengambil pelajaran dari peristiwa ini, berupaya dengan lebih baik untuk menciptakan amal-amal yang terbaik. Menyusun pilihan takdir kita sendiri.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun..

(al-Mulk [67]: 2)

Written by hanumisme

December 31, 2009 at 2:53 am

Posted in jejak hari

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. yya… gusdur memang sosok kontroversial. secara pribadi, saya beberapa kali tidak sepaham dengan pendapat2nya. Tapi saya menghormati beliau sebagai orang yang pernah memimpin bangsa ini dan sebagai tokoh intelektual yang kharismatik

    cizz

    February 9, 2010 at 8:20 am

  2. Mungkin kita terutama saya, akan sangat merindukan sosok “Abu Nawas bersarung”…mungkin di alam yang lain Beliau sedang berbincang dengan “Abu Nawas yang memakai jubah”…Pemikirannya banyak yang menginspirasiku…selamat jalan menuju keabadian sang Guru Bangsa…

    okky

    March 11, 2010 at 12:01 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: