khuzaifah hanum

share to others

Muhammad the Conqueror

with 4 comments

“Sesungguhnya, Konstantinopel itu pasti akan dibuka (ditaklukkan). Sebaik-baiknya pemimimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.”

-Muhammad SAW-

Perkataan sang Rasul Terakhir itu begitu kuat terngiang dalam ingatan Sultan Murad, Khalifah Turki Utsmani. Karena, apa lagi yang ditunggu, kekuasaannya sudah melingkupi wilayah kekuasaan Byzantium di Asia dan Eropa. Kecuali satu, Konstantiopel.

Semangat tersebut, terbaca oleh Syaikh Syamsudin, sang penasihat sultan. Tapi bashirah sang mahaguru menyimak bahwa bukan Sultan yang akan merealisasikan janji Nabi tersebut. Melainkan, putranya yang masih dalam kandungan, kelak bernama Muhammad.

Mendapati nasehat tersebut, Sultan kemudian beristighfar, memperbaiki diri, dan mempersiapkan kelahiran dan pembinaan sang pangeran yang terjanjikan, the conqueror.

Wajar, kemudian dalam usia dini, Muhammad muda mendapatkan pengemblengan yang sangat keras dari ayahnya melalui guru terpilih, Syaikh al-Kurani. Tarbiyah dini yang diperoleh pangeran muda ini kelak membekas, yang kemudian menorehkan sejarah emas peradaban muslim, menaklukkan dinding kokoh Konstantinopel setelah 12 abad terkunci.

Narasi singkat tentang masa muda Muhammad al-Fatih tersebut mungkin terasa asing ditelinga pemuda muslim. Dibandingkan dengan cerita dramatis roman picisan atau novel fiktif remaja metropolis lainnya. Bagai sejarah yang terbuang, kita kehilangan rekam jejak historis. Yang tanpa kita sadari, memupus harapan dan semangat kita dalam membangun peradaban baru, yang lebih berkemanusiaan, dalam visi mulia Islam, rahmat lil ‘alamin.

Muhammad al-Fatih tidak lahir dengan sendirinya. Begitupun, takdir sebagai sang penakluk tidaklah melekat begitu saja. Tapi, ada yang membuatnya menjadi berbeda, dengan para pemuda di masanya, bahkan di perjalanan zaman sebelumnya. Satu kata yang mencipta perbedaan itu adalah mimpi.

Ya! Mimpi yang membedakannya. Mimpi sang ayah, yang ingin membentuk karakter generasi penggantinya, menjadi generasi terbaik yang pernah ada. Sebagaimana arahan sang Nabi. Ada niat, yang menghadirkan transformasi, perbaikan dalam ruang kebenaran.

Sang Sultan sadar, usianya sudah senja. Separuh lebih usianya telah terlewati. Disadari, banyak jejak waktu yang tak selamanya terjaga dalam kebaikan. Karenanya, tongkat estafet pembebasan itu harus segera dipersiapkan. Memulainya kembali dalam kebaikan yang sempurna.

Begitu pun, Muhammad muda, seperti remaja lainnya. Tak jarang tergiur akan dunia. Tapi, Syaikh al-Kilani menyadari itu betul. Mendidiknya dengan sabar, dalam tarbiyah Islam. Karena, Muhammad sedang diproyeksikan tidak sembarangan. Tapi, untuk sebuah misi besar, membuktikan hipotesis Nabi, akan penaklukan terbesar sepanjang zaman.

23 tahun sejak kelahirannya, Muhammad masihlah sebagai sosok pemuda. Tapi, tarbiyah Islam yang begitu keras membuatnya berbeda. Seperti janji Sang Nabi, mempimpin sebaik-baiknya pasukan. Dan, tentunya menjadi sebaik-baiknya pemimpin.

Kota Konstantinopel sudah terkepung. Tapi, sejarah tampak membuktikan mitosnya. Altileri meriam raksasa, barisan solid Jannisary, dan pasukan Zeni yang penghancur tak kuasa merobohkan dinding Konstantinopel yang masih berdiri dengan kokohnya. Begitu pun, armada laut Kekhalifahan selalu kandas oleh benteng rantai besi di dalam Selat Bosphorus.

Namun, bukan sebaik-baiknya pemimpin namanya jika tak mampu mencipta inovasi baru. Lautan Galata yang selama ini tersekat oleh rantai besi, coba diterobos dengan langkah tak lazim. Meratakan daratan berbukit, pohon-pohon ditebang sebagai jalur kapal dan dijadikan alas roda kapal. Kapal pun menyeberang melalui daratan. Menyerbu tiba-tiba dari arah utara. Pada saat yang bersamaan, invantri berhasil membuat lorong-lorong raksasa di bawah dinding kota. Dan, Konstantinopel pun jatuh, beriringan dengan pekik takbir.

Itulah perjalanan muda Muhammad al-Fatih. Ia hadir untuk menggenapi takdirnya. Risalah yang dijanjikan Nabi. Tidak dengan diam, tapi dengan penuh persiapan. Masa mudanya tidak dihabiskan dengan foya-foya. Menikmati kemewahan yang dimiliki ayah, sang Sultan.

Jalan pembinaan dilaluinya dengan berat. Walau terkadang dengan paksaan. Meski indah dunia tampak begitu menggiurkan Tapi, buah yang dihasilkan tidak sia-sia. Tidak seperti remaja sekarang, yang cenderung tenggelam dalam dunia. Luput akan orientasi akhirat, terlebih merealisasikan wasiat abadi sang Nabi, meninggikan Islam, Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaih.

Adakah al-Fatih berikutnya di sini?!

Cilandak, 22 November 2009

Written by hanumisme

November 19, 2009 at 1:39 am

Posted in tentang Islam

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Subhanallah…a story remind us about how important to have a dream, and fight for it…Good job num

    Rina

    December 1, 2009 at 12:59 am

  2. bener nih bang!! orang awam kalo ngeliat orang yang berhasil, disanjung-sanjunglah dia. tanpa melihat sulitnya proses yang dilaluinya. dan, dia pengen didoakan supaya bisa sesukses dia. tapi ketika “proses” datang untuk “mengantarnya” menuju ke kesuksesan yang sama ato lebih baik, enggan ato gentarlah hati dan niatnya…

    akhdaafif

    December 23, 2009 at 1:41 am

  3. Kalau besok punya anak, kita bentuk menjadi generasi yang terbaik. Dididik dan dibangun sejak dalam kandungan, anak-anak, remaja sampai dewasa. Melahirkan penakluk2 baru yang Insya Alloh menjadi Muhammad Al fatih berikutnya. Keep Nice post brother…

    Nafis

    December 29, 2009 at 12:20 am

  4. Benar, jgn hanya mampu mengagumi seseorang tanpa berupaya meneladani proses yg membentuknya mjd ‘manusia’.

    *calon bunda yg tengah mempersiapkan proyek laboratorium peradaban*

    Asti Latifa Sofi

    December 31, 2009 at 9:18 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: