khuzaifah hanum

share to others

Menggugat Takdir

with 11 comments

Siapa pun, ketika menjadi mahasiswa, tentu sangat ingin memberikan kontribusinya kepada masyarakat. Terlepas dari atribut sebagai aktivis, kita sangat ingin menjadi agent of chance yang memperbaiki lingkungannya. Tapi sayangnya, tidak semua bisa merealisasikan mimpinya itu menjadi kenyataan. Karena takdir hidupnya berkata lain. Terjerat dalam keterbatasan yang menjadi bagian dari rangkaian hidupnya yang tidak bisa dilepaskan. Walhasil, mereka hanya bisa menjadi ‘aktivis’ bagi dirinya sendiri, berjuang untuk hidup.

Ya! Takdir telah menyisihkan orang-orang tersebut untuk dapat disebut sebagai ‘aktivis’. Sebuah gelar terhormat bagi mahasiswa yang selalu turun ke jalan, yang selalu berdiskusi tentang rancangan besar baikan bangsa, yang selalu terdepan dalam perbincangan politik negara, yang selalu terkenal bagi adik2 kelasnya karena popularitas mereka di lembaga kampus, yang selalu dikenang namanya sebagai aktivis kampus. Walaupun setelah itu, banyak dari ‘aktivis’ itu menghilang eksistensinya, di dunia paska-kampus!

Lain halnya dengan D. Salah satu mahasiswi yang saya kenal. Ia memang memiliki cita-cita untuk menjadi ‘aktivis’ di kampusnya. Tapi sayang, takdir tidak berpihak kepadanya untuk dapat menjadi ‘aktivis’. Anak pertama dari dua bersaudara yang sejak SMA sudah mencari nafkah untuk adik dan ibunya, dan bahkan untuk neneknya. Ayahnya sudah lama menghilang sejak lama. Tapi, semangatnya untuk melanjutkan kuliah tidak pupus karena keterbatasan ekonomi.

Datang ke Jakarta hanya berbekal uang kurang tiga ratus ribu rupiah. Sisa tabungan hasil kerja selama SMA untuk biaya hidup dan kuliah di Jakarta, tanpa bantuan siapa pun. D pernah menceritakan keinginannya untuk menjadi ‘aktivis’. Bahkan ia pernah bercerita senangnya bisa masuk FSI. Tapi sayang, ia tidak bisa exist di sana, karena harus mencari uang untuk biaya hidup dan kuliah yang ditanggungnya sendiri, dan juga mempersiapkan kiriman uang untuk keluarganya di daerah.

Akhirnya, selama kuliah D sulit untuk aktif di lembaga kemahasiswaan untuk menjadi ‘aktivis’. Hampir sebagian besar waktu sisa kuliahnya habis untuk mengajar privat, magang di institusi kampus, menjadi pengawas ujian, dan beberapa aktifitas lain yang bisa mendatangkan uang. Bukan untuk membeli pulsa atau hape baru. Bukan untuk tabungan ‘masa depan’ sebagaimana sejumlah aktivis. Tapi, untuk makan hari ini dan esok, dan untuk cicilan biaya kuliah yang bagi para aktivis lainnya tidak seberapa, karena masih ada kemapanan orang tua dan keluarga yang membiayai.

Tidak jauh berbeda dengan I. Mahasiswa yang sudah saya kenal sejak ikut KADAIS. Sejak tahun2 awal kuliah, keluarganya masih dalam kecukupan. Karenanya, masa2 awal kuliah tersebut bisa dihabiskan untuk menjadi aktivis. Ya, tak seorang pun dari kami meragukan kontribusinya menjadi ‘aktivis’ di FSI. Tapi, takdir tampak tidak mengizinkan ia menjadi ‘aktivis’ lebih lama. Memasuki pertengahan kuliah, kesulitan2 hidup menimpanya. Hingga kabar terakhir ayahnya menghilang dan ibunya wafat. Dan kini, ia hidup sendiri dan harus menghidupi 2 adiknya.

Mundur perlahan dari status ‘aktivis’ dan hanya kuliah ketika berada di kampus. Setelah kuliah, I bekerja hingga larut malam dan bahkan begadang untuk ‘lembur’ di percetakan. Mengejar target2 pemasukan yang tidak realistis untuk ditanggungnya sendiri. Tapi, itulah yang I lakukan. Ia rela bekerja apa saja dan melepaskan gelar ‘aktivis’ yang kita banggakan, bukan untuk kekayaan. Tapi untuk menanggung beban ekonomi keluarga yang sangat tidak rasional dengan kapasitasnya.

Berbeda dengan A (inisial ini sekedar gambaran umum, tidak menjadi representasi seseorang yang saya kenal). Ia hadir dari keluarga yang relatif mapan dan serba berkecukupan. Orang tua A memiliki kecukupan untuk dapat membelikan tipe-tipe hape dan laptop baru. A terbiasa membawa kendaraan pribadi yang menjadi hadiah karena A berhasil masuk UI. A tidak perlu berpikir bagaimana biaya kuliah dan makan sebagaimana dijalani oleh D dan I. Terjamin sudah dengan kekayaan orang tua dan saudaranya.

Dengan kenyamanan finansial dari orang tuanya, A dapat aktif di lembaga kemahasiswaan. Ketika uang A habis untuk sejumlah kegiatan kampusnya, orang tua A dapat segera memberikan uang tambahan di bulan itu. Malah, orang tua A bangga, karena anaknya menjadi ‘aktivis’ di kampusnya. Jadilah A menjadi sosok yang dikenal di kampusnya sebagai ‘aktivis’. Adik2 kelasnya pun begitu mengagumi A dengan gelar ‘aktivis’nya.

Setiap sehabis kuliah, ia menghabiskan waktu di mushalla atau di BEM, dan ruang-ruang kampus lainnya untuk membicarakan ‘kemaslahatan’ masyarakat. A biasa membicarakan ‘masalah strategis’ dalam divisi kajian strategis lembaga mahasiswa atau kelompok diskusi elite mahasiswa. A juga dikenal sebagai intelektual mahasiswa yang sangat konsern dengan masalah politik negara. A biasa membahas isu2 konspirasi di dunia yang mencengkram negara ini. A menjadi sangat terkenal karena sering diundang menjadi pembicara dalam diskusi mahasiswa atau orasi di jalan. A terbiasa membahas masalah2 yang sophisticated di atas maqam-nya sebagai mahasiswa umum. Jadilah, A sebagai ikon ‘aktivis’ dan terkenal. Hal yang tidak pernah bisa dilakukan oleh D dan I.

Barangkali, banyak mahasiswa seperti D dan I sangat menginginkan bisa menjadi A. Sosok mahasiswa ideal, dengan kemapanan yang diberikan oleh orang tua dan keluarganya, sehingga dapat meraih gelar ‘aktivis’. Banyak mahasiswa seperti D dan I yang tidak ingin menjalani takdirnya yang buruk itu. Mereka ingin seperti A, yang berkontribusi untuk masyarakat. Tapi sekali lagi, takdir tidak berpihak kepada mereka!

Sebaliknya, bagi segelintir ‘aktivis’ seperti A, mahasiswa2 seperti D dan I ini justru dihujat. Dengan sejumlah bahasa2 penghinaan karena lalai dengan amanah-nya sebagai ‘aktivis’: “hanya memikirkan diri sendiri!”, dan bahkan ada yang berkata “sudah, coret saja mereka dari kelembagaan. Kontribusinya diragukan!”.

Tampaknya, takdir menjadi tidak adil bagi D dan I ketika dikomparasikan dengan A. Sosok A hadir dengan kemapanan dari orang tua dan keluarganya, sehingga bisa menikmati status ‘aktivis’.  Adakah takdir Tuhan yang tidak adil?! Atau memang kita semua sudah terkelabui oleh gelar ‘aktivis’, sehingga terobsesi untuk meraihnya. Mematikan kepedulian kita kepada kondisi-kondisi ketidakidealan seperti yang dijalani D dan I. Melemparkannya jauh dalam keangkuhan. Ketamakan akan atribut ‘aktivis’ telah membutakan hati kita untuk dapat peduli. Memahami keterbatasan saudara-saudari kita sebagaimana D dan I rasakan.

Haruskah mereka yang seperti D dan I meminta revisi atas takdirnya? Mereposisi takdir mereka untuk menjadi seseorang seperti A, ‘sang aktivis’. Lantas menuding Tuhan atas ketidakadilan yang diberikan. Menggugat takdir!

Written by hanumisme

November 7, 2009 at 8:06 pm

Posted in jejak hari

11 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. assalaamu’alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh,
    ah, syukurlah ws bukan aktivis… (iya tak ya?)😀

    tak perlu lah bagi D dan I menggugat Allah, ws rasa,
    karena apa yang dijadikanNya bagi umatNya, tentu adalah yang terbaik,
    pun ‘aktivis’ cuma cap dari pandangan manusia,

    “mata manusia itu fana”
    kata seorang teman dahulu…

    “ah, nikmat sekali menjadi orang2 yang pandai bersyukur dan qona’ah…”

    *btw ini nyambung nda si komen ws?😀

    awisawisan

    November 9, 2009 at 8:18 am

  2. nyambung wis.. koneksinya bagus, wireless nya juga mantab,, nyambung dahsyat lah awis! Setuju dengan mu.. kita hanya manusia yang bodoh karena bisa jadi apa yang kita anggap hebat, justru malah hina

    Ang

    November 9, 2009 at 9:57 am

  3. hehe.. sayangnya dunia tidak dipenuhi oleh orang2 seperti kalian berdua yah..

    hudzaifahh

    November 9, 2009 at 1:03 pm

  4. Sepakat ma sahabatku di atas….!!!

    Smg kita menjadi orang yg pandai bersyukur shg Allah berkenan manambah nikmatny buat kita…!!!

    egastory

    November 10, 2009 at 5:36 am

  5. sepertinya bukan takdir yang dipermasalahkan penulis. karena Tuhan tentu adil. tapi ini masalah ketiadaan penghargaan atas perjuangan mereka memperbaiki takdir, dan tentang kepedulian. pastinya, ada perbedaan antara kepedulian yang sekedar simpati abstrak yang sekedar rasa iba. dan, kepedulian yang lahir dari pengalaman empirik, buah dari pergumulan dalam kehidupan. seringkali, mereka yang tidak pernah merasakan pahit, sulit menghadirkan kepedulian yang nyata. yang ada hanya retorika..

    agakiri

    November 10, 2009 at 5:59 am

  6. hudzaifah itu ka hanum?
    (kirain ada hudzaifah lagi…)

    nda seru ka kalo hidup cuman terdiri dari orang yang itu2 sahaja,
    jadi emang mesti terdiri dari berjenis2 orang…😀

    awisawisan

    November 10, 2009 at 7:15 am

  7. agakiri? kamu kenal agakanan? aku agatengah.. He..
    Iya, betul Anda

    Ang

    November 10, 2009 at 9:20 am

  8. Wah klo begitu apa bisa y jika kondisi kita tidak jauh berbeda dengan D dan I untuk menjadi aktivis, minimal untuk keluarga dan sanak sodaranya.
    Lantas, bagaimana kita memposisikan diri kita untuk menghadapi dan menjalani takdir yang seringkali tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan dan kita harapkan…
    ^_^

    Fahru

    November 11, 2009 at 3:15 am

  9. D dan I tidak sempat berpikir untuk menggugat Tuhan.
    Mereka sedang berupaya (tentunya lebih keras dari A), hingga mengerti bagaimana takdir Tuhan untuk mereka.
    🙂

    Di sisi lain, bisa jadi kekerabatan antar mahasiswa (bahasa saya : ukhuwah) sudah terjangkit penyakit, hingga tafahum saja tidak bisa. Bahkan jangan-jangan fase ta’aruf nya juga belum sampai.

    “Atau memang kita semua sudah terkelabui oleh gelar ‘aktivis’, sehingga terobsesi untuk meraihnya. ”

    label memang memuakkan.

    Chai

    November 11, 2009 at 3:42 am

  10. salam dakwah!

    hanum, memang seringkali makna dakwah dan pengorbanannya itu trasa begitu kabur. Ketika seseorang mjd bagian dr kampus, akan ada byk tumpukan harapan dr byk org untuknya terlibat aktif dlm DK. Dan keaktifan itu diindikasikan oleh keintensifan dia utk hadir. Bukankah selama ini itu yg terjadi&dibudayakan?

    tulisan ini skaligus mjd koreksi bwt kt smua krn seringkali kt mengabaikan faktor2 dan kondisi2 lain diluar kampus, apa yg sdg terjadi dan dijalani para “aktivis” yg dianggap pasif itu.

    Maju trus dalam berkarya Hanum! ^^

    azizah

    November 11, 2009 at 5:32 am

  11. bagus num. jadi evaluasi bersama. suwun..

    akhdaafif

    November 13, 2009 at 12:55 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: