khuzaifah hanum

share to others

Copet

with 6 comments

Perempuan muda itu menjerit sejadi-jadinya, penuh histeria. Sementara para penumpang yang baru turun tampak tak bisa banyak melakukan apa-apa. Sebagian terdiam, dan sebagian yang lainnya terlihat penasaran. Ia masih terus meronta-ronta, sebuah ungkapan kecewa yang tak terkira.

Di saat yang sama, petugas penjaga stasiun kereta tampak bingung-acuh, atau seakan mencoba menunjukkan empati dengan apa yang terjadi pada perempuan muda itu. Tapi, apalah daya. Tak ada yang banyak bisa dilakukan oleh para petugas itu, selain bergerak mondar-mandir, mencoba menenangkan dan sekedar menunjukkan bahwa mereka telah berusaha. Meski sia-sia!

Perempuan muda itu masih terus menjerit. Meratapi takdir yang begitu kejam menimpanya. Kehilangan barang yang baginya mungkin begitu berharga. Tapi, barang kali tidak seberapa bagi orang-orang kaya.

Jelaslah, rata-rata penumpang kereta ekonomi yang rela berdesakan dalam peluh keringat pagi bukan lah orang berpunya. Jika ia dan para penumpang lainnya berpunya, mereka tentu tidak memilih resiko kehilangan ataupun rentan akan kecelakaan dalam sistem transportasi kereta yang tinggal menunggu maut. Sistem yang tidak manusiawi, meski pengelolanya adalah manusia, entah bernalar atau tidak.

Begitulah. Telepon selulernya melayang begitu saja. Dalam ketidaksadarannya, ditengah padatnya penumpang kereta pagi ke arah Jakarta. Memang, pagi ini dan seperti hari-hari biasanya. Kereta selalu terlambat, yang membuat penumpang harus bersesak dalam kereta yang sangat tidak layak. Kondisi yang membuka celah bagi hati mereka yang sesat. Memetik kelengahan orang lain untuk sekedar materi yang tak banyak berarti.

Sejenak berpikir, mengapa Tuhan tampak tidak adil. Menjadikannya korban dari keganasan manusia. Hasrat akan menguasai. Mengapa ia yang lemah, harus menjadi korban pula dalam ketiadaan. Mengapa Tuhan tidak mengutus copet itu ke pada orang-orang kaya, yang nyata-nyata tidak pernah berderma. Sebagai peringatan atas Tuhan yang Maha Besar.

Tapi begitulah aturan-Nya. Tuhan tampak ingin menguji kita, siapa yang terbaik amalnya. Dan, Tuhan pasti tak pernah sia-sia menciptakan makhluknya, copet dan segala aktifitasnya.

Tuhan tampak ingin mengajarkan manusia, berpikir tentang perbaikan. Mungkin, copet tidak akan pernah ada dalam kereta yang sesak dan penuh. Tidak langsung, Ia memerintahkan kita untuk menata kereta agar lebih manusiawi. Menyingkirkan mereka yang merusak sistem kereta, dengan tatanan yang korup dan feodal. Menyingkirkan orang-orang tamak yang berada di dalamnya. Tuhan menyuruh kita berpikir, dan menyingkirkan mereka!

Mungkin juga, copet tidak pernah ada ketika tersedia pekerjaan yang layak. Mereka yang memilih menjadi copet, bisa jadi bukanlah orang-orang kaya, yang rela mengorbankan jiwanya jika tertangkap basah, mati di tengah kerumunan massa. Tuhan menyuruh kita untuk membentuk lapangan kerja!

Mungkin juga, copet tidak kan pernah ada ketika orang-orang kaya senantiasa berderma. Menunaikan 2,5 persen kewajibannya bagi mereka yang tak berharta. Tuhan menyuruh kita, mengingatkan derma dan zakat bagi orang-orang kaya.

Harus berapa banyak lagi copet yang dikirim Tuhan untuk mengingatkan kita?!

Written by hanumisme

November 2, 2009 at 9:50 am

6 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. getir. tetap dengan gaya bahasa yang sama.
    🙂

    Chai

    November 17, 2009 at 4:03 am

  2. mantab gan!!!

    akhdaafif

    November 17, 2009 at 4:19 am

  3. HAHAHA….
    curcol niy kayanya..

    ulyn

    November 17, 2009 at 5:26 am

  4. assalaamu’alaykum,
    udah dua kali ilang hape T.T
    tak papa la,
    di kereta banyak cerita ya ka
    kalo ws pernah lihat seorang anak meninggal seketika waktu ia sedang berdiri di atas atap kereta…
    tersetrum… T.T

    awisawisan

    November 17, 2009 at 7:48 am

  5. Saya teringat the Against Third Way, Alex callinicos yang nulis. Tapi ana baca versi bahasa Indonesianya:
    Ada dalam satu Bab : Kesatria Kemanusiaan, JG Ballard dalam novel terakhirnya, Supercannes menceritakan gambaran utopia kapitalis, (Eden-Olympia)katanya taman usaha tempat para eksekutif multinasional berada, dikawasan elitis subur, keamanan yang ketat, terawat, dan sangat canggih. Tapi di balik kenyamanannya itu, mereka mengalami paranoid luar biasa karena ketakutan mereka pada penjahat-penjahat pinggiran, sibuk mencari tahu kelompok-kelompok penyerang malam. Tidur kesejahteraan orang kapitalis selalu terganggu, dan harus berpikir keras untuk berbagai tindak pengamanan kaum pinggiran ini…

    -nur aini-

    asri nur aini

    November 18, 2009 at 11:50 am

  6. loh? loh? kok cerita pengalaman sendiri num?😛

    iftirar

    November 18, 2009 at 2:50 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: