khuzaifah hanum

share to others

Renovasi Masyarakat Dakwah

leave a comment »

Ada nuansa yang berbeda dalam susunan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Jika sebelumnya, Muhammadiyah dan NU selalu mewarnai komposisi kabinet. Maka kali ini, kedua entitas masyarakat dakwah terbesar tersebut ditinggalkan begitu saja. Satu era baru telah dimulai. Ketika dinamika politik nasional terlepas dari aktifisme dakwah. Dan, masyarakat dakwah terhempas tanpa peran.

Dalam jejak historisnya, Muhammadiyah dan NU merupakna dua elemen fungsional yang selalu diperhitungkan dalam ranah politik. Di saat Orde Baru meniti jalan kejayaannya, dua entitas masyarakat dakwah tersebut menempati posisi politik yang lebih strategis, jika dibandingkan dengan politisi muslim. Memang, depolitisasi Islam pada masa itu tengah gencar dilakukan. Memisahkan gerakan dakwah dan aktifitas politik praktis menjadi satu jalan banyak diambil aktifis muslim untuk menyelamatkan misi mereka. Tidak terkecuali bagi Muhammadiyah dan NU, yang keduanya merupakan simpul masyarakat dakwah yang menjadi pilar bagi gerakan politik muslim.

Nyaman dengan posisi yang kondusif, dekat dengan kekuasaan, membuat dua entitas masyarakat dakwah tersebut lupa akan peran strategis mereka. Pada awalnya dua institusi tersebut melepaskan diri dari aktifitas politik praktis. Namun kemudian, Muhammadiyah dan NU melepaskan aktifitas politik yang merupakan bagian dari kesempurnaan dakwah. Memisahkan aktifitas dakwah dengan politik, yang berujung pada stagnansi dakwah itu sendiri. Dakwah tidak lagi dirancang dengan strategi politik, bagaimana dakwah itu dimenangkan. Mendiagnosis problematika ummat, lantas membuat formulasi dakwah, untuk mencerdaskan ummat.

Memang Muhammadiyah dan NU bukan aktor politik praktis. Namun, hakikat peran dakwah tidak bisa terlepas dari gerak politik. Sebagaimana sejarah awal berdirinya, Muhammadiyah merupakan upaya perlawanan politik dalam ranah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Sementara, NU tidak lain adalah gerakan politik pencerdasan masyarakat pedesaan yang berbasis pesantren. Kedua masyarakat dakwah ini memang tidak bergerak dalam politik praktis, sebagaimana Sarikat Islam. Tapi, keduanya mengemban misi politik non-praktis, memperjuangkan perbaikan bagi ummat.

Ketika unsur politik dipisahkan dari dakwah, seketika itu dakwah kehilangan elan vitalnya untuk memperjuangkan Islam. Dakwah terkurung dalam ruang imajiner yang jauh dari realitas ummat. Karena, dakwah hanya diformat sebatas aktifisme transenden yang berkutat dalam logika kebajikan an sich. Tanpa ada upaya membumikan keidealan Islam dalam kefana-an dunia. Akibatnya, masyarakat tidak tersentuh oleh dakwah. Karena, dakwah tidak lagi memiliki semangat untuk memenangkan misinya. Terkapar dalam perangkap sekularisme. Menjerat dakwah sekedar dalam aktifitas transenden-individual. Menjauhkannya dari dimensi politik, sebagai fitrah kemanusiaan.

Dalam posisi ini, wajar kemudian dakwah kehilangan kekuatan besarnya sebagai simpul kekuatan ummat. Padahal, sejarah mencatat bagaimana dahulu lingkungan pesantren menjadi jaringan kekuatan generasi pembaruan. Mengguncang kejumudan tradisionalisme dalam semangat modernisasi, menantang kolonialisasi. Bahkan, seorang Indonesianis, George Kahin mengapresiasi bagaimana masyarakat dakwah mampu membentuk aliansi strategis dari gerakan pembaruan tersebut, yang kemudian bertransformasi mencipta cita nasionalisme Indonesia. Semua itu terjadi di saat dakwah berdialektika dengan realitas. Dalam upaya mengentaskan persoalan keummatan. Menjalankan peran politiknya.

Masyarakat dakwah tampak masih terpenjara dalam ingatan historisnya akan dikotomi politik dan dakwah. Hal yang terus membayangi Muhammadiyah dan NU. Saat gelombang reformasi menderu, dua entitas masyarakat dakwah ini seakan tertinggal dalam mimpi lalu. Trauma historis begitu membenak dalam nalar mereka, politik adalah kotor dan dakwah adalah suci. Disposisi nalar yang membuat keduanya begitu alergi akan politik, bukan hanya politik praktis. Padahal, di saat yang bersamaan, ummat tengah limbung dan membutuhkan bimbingan dalam orientasi politiknya. Kemandulan ijtihad, yang seharusnya terus direproduksi oleh para ulama, masyarakat dakwah.

Dalam keangkuhan identitas, ummat kian terjauhkan dari sentuhan dakwah. Kebutuhan kontemporer ummat tidak lagi mampu dipenuhi masyarakat dakwah yang terus mengalami kejumudan. Dakwah mengalami kemandegan akibat hilangnya semangat dalam memenangkan dakwah. Wajar kemudian, apabila ummat hirau akan seruan dari da’inya. Dalam sejumlah kesempatan, kedua seruan kedua entitas masyarakat dakwah ini tidak lagi diikuti oleh ummatnya. Hadirlah Muhammadiyah dan NU sekedar menjadi catatan historis, bahwa dahulu ada dua kekuatan masyarakat dakwah yang begitu berpengaruh.

Renovasi Dakwah

Fakta bahwa Muhammadiyah dan NU sebagai entitas yang kehilangan legitimasinya merupakan realitas empirik. Masa kegemilangannya telah terlalui dalam fase sejarah yang tampak sulit berulang. Kecuali, dua entitas masyarakat dakwah ini berupaya memperbaiki dirinya. Mengemban kembali dakwah, sebagai langkah terpadu dalam memenangkan Islam. Mengenang nasihat Mohammad Natsir, bahwa tidak selayaknya dakwah dipisahkan dari politik. Dakwah tidak lain adalah upaya memenangkan Islam, dengan semua sarana terbaik. Dalam pemahaman ini, secara alamiah, dakwah memiliki dimensi politik. Memurnikan dakwah dengan menjauhkannya dari aktifitas politik, menjadi satu kekeliruan bagi dakwah. Dan, justru menghancurkan masyarakat dakwah itu sendiri. Seperti yang sekarang terjadi.

Dipahami bahwa dakwah merupakan upaya dalam menyeru ummat kepada Islam sebagai ajaran yang utuh dan menyeluruh. Menjadikan Islam sebagai sistem yang mengatur seluruh urusan manusia tidak hanya di akhirat, tapi juga di dunia. Bagi sekelompok spiritualis, dan bahkan banyak dari kalangan Islam itu sendiri yang memandang keliru, bahwa Islam hanya disadari sebagai konsep transenden yang hanya berorientasi pada akhirat. Di sinilah peran dakwah, untuk memberikan pemahaman yang benar. Bahwa seruan Islam juga untuk diamalkan di dunia, dalam aktifitas kemanusiaan.

Implementasi Islam dalam aktifitas kemanusiaan bukan upaya dekonstruksi konsep ajaran Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan manusia. Menembus dikotomi sekular, yang menyekat sempit agama dalam ruang privat. Melainkan langkah peka membaca problem masyarakat, menciptakan formulasi penyelesaian masalah tersebut dalam kerangka norma Islam. Dan, dii sinilah peran sentral masyarakat dakwah, bagaimana memformat  ummat dengan konsep Islam dalam semua apsek kehidupan.

Dalam upaya tersebut, penting bagi entitas masyarakat dakwah itu untuk memperkokoh kekuatannya, sebagai agen perbaikan masyarakat. Langkah tersebut tidak dapat dicapai melainkan dengan merencanakan dakwah sebagai strategi memenangkan Islam dalam kontestasi keberadaban. Strategi yang hadir dari reflesi atas realitas masalah yang dihadapi ummat, namun bersumber dari keidealan nilai Islam. Melakukan transformasi global kehidupan, dengan melakukan pembinaan para pendukung dakwah dengan ajaran Islam. Menjadikan masyarakat dakwah sebagai suri teladan bagi ummat dalam menjaga prinsip, memelihara, dan menegakkan ajaran Islam. Ketika itu, masyarakat dakwah akan kembali kepada posisi mulianya. Simpul terhormat kekuatan ummat.

Written by hanumisme

October 24, 2009 at 11:11 am

Posted in masyarakat Madani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: