khuzaifah hanum

share to others

Jejak di Daarul Qur’an

with one comment

pppa daarul qur'an

Alhamdulillah, satu fase perjalanan pasca kampus terselesaikan sudah.

Magang pertama pasca kampus di Lembaga Amil Zakat (LAZ) Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an (PPPA) Daarul Qur’an, terlewati sudah. Sekitar 2,5 bulan terlalui dengan pengalaman-pengalaman ‘baru’, yang insyaAllah begitu bermanfaat.

Berawal dari ketidaktahuan, tapi takdir telah memutuskan. Berbekal hanya semangat, berharap menjadi jalan yang terbaik. Meskipun ‘melanggar’ sunnah kauniyah-Nya, tapi sudahlah. Mau apa dikata. Wajar kemudian, saat wawancara dengan lugu menjawab ketidaktahuan tentang apa itu PPPA Daarul Qur’an. Insiden konyol untuk sebuah proses pengajuan magang. Entahlah, mengawali semuanya dengan begitu kuat bergantung pada qadar yang ghaibi.

Potret awal tersebut, tampak menjadi mainstream perjalanan pengalaman di PPPA Daarul Qur’an. Setelah hampir 4 tahun ter-cekok-i dengan positivist paradigm dengan pola nalar yang sangat linear. Maka, di sini, konsep-konsep baku tersebut terguncang. Bukan sekedar men-transform-nya menjadi siklikal, tapi justru menjadi pola yang abstrak. Relasi kausalitas rasional yang selama ini terbangun, membentur satu sisi lain akan keyakinan kekuatan-Nya yang Maha Berkehendak.

Jika selama ini, ide materialisme begitu kokoh memuncaki akal. Maka, perjalanan magang ini membawa pada sisi lain akan takdir (ghaibi). Ketika, hak prerogatif Nya dirasakan begitu dominan. Kapitalisme yang selama ini menjadi pola umum dalam interaksi materialistik, konsep yang begitu mapan dalam kecanggihan struktur ilmu sosial, terdekonstruksi pada makna sederhana akan sedekah.

“Bersedekahlah, maka engkau kan menjadi kaya”

Mungkin, sesuatu yang konyol jika ditelaah dalam pandangan materialisme. Tapi, begitulah. Pengalaman-pengalaman yang di luar nalar, menciptakan wawasan yang ‘irasional’ bagi pengagum renaissance. Semangat kedermawanan begitu kokoh, bersandarkan pada keyakinan akan Dzat yang Al-Ghanny. Sekali lagi, relasi transenden yang sulit dijabarkan dalam logika-logika ‘ilmiah’, mampu mematahkan teori-teori mutakhir tentang makna sebuah tindakan.

Hanya kesyukuran, yang bisa mengungkapkan, atas karunia yang tak terkira. Mengingatkan kembali, arti sebuah perjalanan kehidupan. Mengembalikan keseimbangan yang selama ini, mungkin dirasakan timpang. Untuk sekedar mengingat kembali hakikat kekuasaan Sang Khaliq. Melepaskan jerat gravitasi keduniaan, untuk dapat kembali melesat menuju langit ketakwaan.

Aku yang masih begitu lemah.

Karang Tengah, 13 Jul-2 Okt 2009

Written by hanumisme

October 8, 2009 at 10:24 am

Posted in jejak hari

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. kereeen…. dahsyat dah kak hanum.. curhat aja tetep pake bahasa2 ilmiah yak! Saya suka kata2 “Mengembalikan keseimbangan yang selama ini, mungkin dirasakan timpang”.. yah, harus diseimbangkan! hee ^^

    Ang

    October 8, 2009 at 3:27 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: