khuzaifah hanum

share to others

Idul Fitri dan Solidaritas Profetik

with 9 comments

Untuk kesekian kalinya, Idul Fitri kita lalui. Hampir setiap dari kita berusaha sesuai dengan kemampuannya untuk menghadirkan kemeriahan hari raya ini. Sekedar mengekspresikan bentuk kebahagiaan, setelah satu bulan menahan hawa nafsu di Ramadhan. Hadirlah selalu, Idul Fitri dalam wujud perayaan dengan berbagai kekhususan yang hampir tidak biasanya, momentum berbagi kepada semua.

Perayaan Idul Fitri memang sudah menjadi tradisi yang melekat dalam budaya masyarakat kita. Hal itu tampak memang tidak terlepas dari makna Idul Fitri itu sendiri, yang berarti makan atau tidak berpuasa, al-fithr. Hakikat tersebut membawa konsekuensi bahwa pada saat Idul Fitri, seharusnya semua orang dapat merasakan makan. Karenanya, wajar kemudian bila Idul Fitri kerap kali dipahami sebagai momentum yang harus dirayakan dengan memberikan perjamuan khusus kepada keluarga dan tetangga, ataupun sedekah kepada orang miskin.

Idul Fitri seakan memupuk kembali rasa solidaritas kepada sesama. Semangat untuk saling berbagi dan memberi, memastikan bahwa setiap dari kita dapat terbebas dari rasa lapar. Hal yang mungkin telah banyak terkikis dalam keseharian hidup, menjadi manusia-manusia yang egois dan mementingkan diri sendiri. Hingga melalaikan keberadaan kondisi orang lain di sekitar kita yang terkungkung dalam ketidakmampuan. Idul Fitri seakan mengajarkan hakikat sebuah gerakan moral untuk mengingat keberadaan orang-orang miskin, yang senantiasa terjerat dalam kelaparan. Mengingat mereka untuk kemudian saling berbagi, memberi makan sesama, dan membangun kemakmuran bersama.

Akar Kemiskinan

Orang-orang miskin tampak menjadi kondisi yang inheren dalam masyarakat kita. Secara tersirat, eksistensi kemiskinan tersebut menyerukan kita untuk membebaskan dari penderitaan yang mereka alami. Sayangnya, sering kali seruan implisit tersebut terabaikan oleh hasrat dan ego pribadi untuk menguasai. Akibatnya, realitas kemiskinan tidak juga masuk ke dalam kesadaran primer kita. Yang ada adalah bagaimana kita dapat menjadi kaya. Atau sebaliknya, gambaran kemiskinan malah pupus dari ingatan, terhempas ketamakan akan materi. Setiap dari kita, sibuk memperkaya diri. Dan, dengan cukup tega untuk menegasikan keadaan orang lain yang tak berdaya. Melemparkannya jauh dalam jurang ketidakpedulian.

Sekalipun terlihat, kemiskinan sekedar tersimpan dalam catatan paling pinggir dalam memori kehidupan. Ia hadir terpaku pada kesadaran yang sebatas asumsi-asumsi teoritik belaka atau sebatas pengetahuan kognitif-normatif. Pembahasan tentang kemiskinan sebatas pada diskursus abstrak yang tidak menyentuh kenyataan, yang seharusnya tertuang dalam sebuah aksi konkret pengentasan kemiskinan secara sistematik. Jalinan yang ada dengan orang-orang miskin sekedar pada rasa iba dan sebatas kebanggaan akan kedermawanan sesaat, yang seketika itu juga hilang tak membekas.

Sementara itu, proses pemiskinan terus berlanjut secara sistematik. Ketamakan individual berkorelasi dalam suatu himpunan orang-orang serakah dan membentuk struktur yang tidak adil. Struktur ketidakadilan tersebut kemudian berkelindan dalam berbagai kebijakan diskriminatif negara, yang seharusnya melindungi kesejahteraan seluruh rakyatnya. Begitupun, negara tidak sendiri, dalam arus liberalisasi, wajah tamak para pemilik modal semakin nyata dinamika pasar kapitalis. Keberadaannya semakin menyingkirkan orang-orang miskin  dan terus membenamkan mereka dalam kemiskinan yang akut. Orang-orang miskin dan proses pemiskinan terus berputar-putar dalam lingkaran setan kemiskinan yang tak terhentikan. Dan, semua itu berawal dari individu-individu yang tamak.

Akar kemiskinan sesungguhnya adalah ketamakan individual. Yang ketika menemukan kesempatannya, karakter tersebut bermetamorfosa menjadi struktur yang tidak adil. Adalah percuma dengan banyaknya upaya-upaya pengentasan kemiskinan. Sementara, hampir sebagian masyarakat masik aktif menggenangkan diri dalam keserakahan. Yang dibutuhkan untuk mengkikis kemiskinan, tak lain hanyalah keberadaan masyarakat baru yang memiliki kepedulian terhadap sesama, dan terutama kepada orang-orang miskin. Berbagi merupakan kunci mendasar dalam mentransformasikan kemiskinan menuju kesejahteraan bersama. Mereduksi ego pribadi, dan meleburnya dalam solidaritas profetik, semangat untuk peduli kepada orang-orang lemah sebagaimana yang banyak dianjurkan Nabi.

Idul Fitri dan Solidaritas Profetik

Pengalaman kita dalam menjalani Idul Fitri tampak berdasar pada semangat untuk saling berbagi. Sayangnya, kesadaran untuk peduli tersebut sekedar menjadi ritual yang tanpa kesadaran penuh oleh sebagian besar dari kita. Menyadari hal tersebut, patut bagi kita kemudian melakukan rekonstruksi atas makna dan perayaan Idul Fitri. Dari sekedar ritual tradisi, menjadi sebuah aktifisme keimanan yang memiliki korelasi kebaikan nyata dan kontribusi kepada sesama, berbagi dengan orang-orang yang tak berdaya.

Refleksi atas Idul Fitri semestinya menyadarkan kembali kepada kita akan anjuran Nabi untuk berbagi kepada sesama, terutama mereka golongan yang tak berdaya. Upaya tersebut setidaknya diharapkan menjadi instrumen dalam menyegarkan kembali akan semangat solidaritas profetik, dalam membangun tata masyarakat baru yang menyayangi kepada orang-orang lemah di antara kita. Lebih lanjut, kesadaran tersebut tersebut tidak semestinya terhenti sebatas pada satu hari raya semata. Melainkan, semestinya, mengalir jauh sepanjang rentang waktu kehidupan kita. Mewarnai setiap jejah hari dengan kepedulian dan berbagi kepada mereka yang lemah atas dasar keimanan akan seruan Nabi.

Memang, kemiskinan merupakan problematika kompleks yang melintasi batasan-batasan konsep religi. Namun, disadari juga, bahwa kemiskinan dimulai dari aksi-aksi para individu yang terlepas dari ikatan solidaritas di antara sesamanya. Untuk mereduksinya, diperlukan suatu solidaritas yang kuat untuk menjalin kembali ikatan yang terputus tersebut. Solidaritas antara yang kaya dengan mereka yang papa, dalam suatu semangat peduli serta saling berbagi. Satu solidaritas yang mutlak bersyarat dengan motivasi yang kokoh. Dan, di sini, peran seruan religius menemukan momentumnya dalam meneguhkan semangat tersebut. Bukankah Islam mengajarkan bahwa memberi makan orang-orang miskin merupakan realisasi dari keimanan.

Karenanya, jika selama ini kita memaknai Idul Fitri sekedar pada perayaan yang bersifat ritual tradisi yang membudaya. Maka, selayaknya kini, kita merekonstruksi pemahaman tersebut, dengan menjadikan Idul Fitri sebagai momen untuk berbagi kepada sesama. Menjadikan hari raya tersebut benar-benar menjadi hari al-fithr bagi semua, dengan landasan keimanan dan kemanusiaan. Membangun kepedulian dalam solidaritas baru yang mengantar orang-orang miskin pada gerbang kebebasan dari rasa lapar. Dalam sebuah kesadaran yang berpijak pada anjuran Nabi untuk menyayangi sesama insan.

Written by hanumisme

September 28, 2009 at 6:53 am

9 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. sebuah ironi yang besar ya Num? Bahkan kewajiban kita untuk menyisihkan 2,5% dari harta aja bagi sebagian besar umat Muslim rasanya masih sulit. Kalau udah gini, gw juga bingung solusi praktis apa yang mesti ditawarin..

    Fajri

    September 28, 2009 at 7:43 am

  2. kalo yang tentang the advantage of poverty itu gimana Num? setuju tak? pernah gag sih di dunia ini ada masa yang gak mengalami kemiskinan? bukannya jaman Rasul dulu tetap ada ya kemiskinan?

    iftirar

    September 28, 2009 at 4:00 pm

    • Di salah satu zaman Khulafaur rasyidin, ada suatu waktu dimana zakat sudah tidak diterima lagi karena masyarakat sudah makmur pada ukuran zaman itu. sampai khalifah yang berkuasa pada waktu itu, khawatir zakat sudah tidak berguna lagi.

      tulisanwahid

      September 29, 2009 at 1:53 am

  3. Peringatan idul fithri masih bersifat kontraproduktif. Secara religi, pemahaman masyarakat masih terbatas pada praktek peribadahan ritual sempit: hanya bayar zakat fithrah, tidak berhitung zakat maal; kesalihan hanya selama ramadhan, terjebak pada amaliyah temporer, dll. Secara kultural, Idul Fithri terperangkap pada simbolisme gaya individualis, suka cita dianggap semu tanpa pamer materi & polesan fisik.

    Defny Holidin

    September 28, 2009 at 8:28 pm

  4. Ketika kemiskinan dianggap properti bangsa, kontraproduksi hasil kecacatan religi, kultur, dan kelembagaan umat Islam di negeri ini justru menjustifikasi keberadaan kaum miskin, bahkan cenderung mempertahankannya. Na’udzubillah min dzaalik! Sangat disayangkan, moga kita bisa secara berangsur-angsur bersama mengubah realita ini.

    Defny Holidin

    September 28, 2009 at 8:31 pm

  5. @ Iftirar: zaman pemerintahan Umar bin Abdul Azis r.a. pernah terjadi pemberantasan kemiskinan secara signifikan hingga diriwayatkan bahwa tidak ada rakyat yang merasa berhak menerima zakat sehingga hasil pengumpulan zakat didistribusikan ke pelosok-pelosok negeri yang baru bergabung dalam naungan khilafah, serta daerah-daerah konflik di bawah jajahan negara lain.

    Sebelum pembicaraan mengarah pada the advantage of poverty, perlu redefinisi dan indikator terukur mengenai kondisi yang bagaimana bisa disebut poverty tadi. Merujuk pada standar bank dunia cuma akan memalingkan persepsi kita pada kenyataan yang seharusnya kita pahami tentang poverty itu sendiri.

    Defny Holidin

    September 28, 2009 at 8:36 pm

  6. jadi, teringat konsep kebudayaan kemiskinan (Oscar LEwis) dimana kepasrahan yang menyerang orang-orang miskin bahwa tidak mungkin bisa keluar dari kemiskinan. kepasrahan bisa disebabkan karena berbagai faktor.

    tulisanwahid

    September 29, 2009 at 1:59 am

  7. @ Defny Holidin: jadi standar kemiskinan apa yang harusnya digunakan kak? kalau dalam islam sendiri definisi miskin itu yang bagaimana ya?

    @fajri: gw rasa itu balik ke individunya masing2, kalau mereka terbiasa bershadaqoh, mengeluarkan zakat pasti gag akan berat

    -laisal ghinaa ghinal maal, wal ghinaa ghinannafs-

    iftirar

    September 29, 2009 at 12:33 pm

  8. hmm.. seru juga diskusinya di sini.. kalo dari yang saya baca, pengukuran kemiskinan dalam islam itu berkaitan dengan sandang pangan dan papan yah? tapi isaya lupa, sifatnya fiks atau tidak? apa saya salah ?
    lalu, bukankah jika kita hanya memandangg hidup ini dari segi materinya saja, secara tidak langsung akan tetap membawa kita pada statement bahwa “kemiskinan akan selalu ada”. maksudnya, orang yang dulu dianggap kaya dengan gaji 3 juta per bulan, sekarang dianggap biasa saja, bahkan kurang (memang tergantung beban hidupnya sih)..
    maksudnya, apakah kemiskinan selalu dipandang dari segi ekonomi?
    hee.. maap.. gak tahu apa2 nih..

    Ang

    September 30, 2009 at 4:56 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: