khuzaifah hanum

share to others

Amil Zakat dan Revitalisasi Kedermawanan

with one comment

Niat baik ternyata tidak cukup, tapi harus juga terkelola dengan baik. Mungkin begitulah hikmah yang diperoleh ketika kita mendapati kericuhan dalam pembagian paket sembako di Balai Kota DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Kehadiran orang-orang miskin yang seharusnya mendapat santunan, malah saling berdesakan tak beraturan, terinjak-injak dan pingsan. Hal yang hampir saja selalu berulang, semangat untuk berderma justru menghadirkan petaka.

Memang diakui, semangat kepedulian sosial masyarakat tampak dirasakan meningkat dewasa ini. Tidak jarang kita menyaksikan sejumlah parade kedermawanan dari banyak kalangan elite masyarakat. Terutama di sekitar hari raya Idul Fitri, aktifisme sosial tersebut semakin meningkat intensitasnya. Banyak elite yang ‘berlomba-lomba dalam kebaikan’, dengan memberikan santunan langsung kepada kelompok masyarakat miskin. Mengundang mereka dalam even-even tertentu untuk kemudian diberikan bingkisan sedekah.

Keinginan untuk saling berbagi ini memang patut kita apresiasi. Tapi, sangat disayangkan, dalam pelaksanaannya, realisasi kedermawanan tersebut sering kali hanya didasarkan pada niat baik, tanpa adanya perencanaan yang baik. Banyak dari acara pembagian santunan itu tidak mempertimbangkan aspek keselamatan dan resiko kericuhan yang sangat potensial terjadi. Padahal, ketika kericuhan terjadi, biaya yang ditanggung korban, yang pada umumnya adalah masyarakat miskin, jauh melebihi dari nilai santunan yang mereka peroleh. Tapi, banyak para elite yang berderma cenderung tidak peduli akan hal ini.

Perspektif pertukaran melihat bahwa perilaku kedermawanan dari kelompok elite jika dikaitkan dalam proses demokratisasi yang ada sekarang ini tampak menjadi sesuatu yang wajar. Setiap tindakan individu, bahkan aktifisme sosial sekalipun, tidak lah bebas kepentingan. Semua aksi yang dilakukan menuntut akan hasil yang diproyeksikan. Berkaitan dengan konteks demokratisasi yang bergulir, popularitas figur merupakan hal yang terpenting bagi elite dalam menjaga posisinya. Sementara itu, bentuk-bentuk kedermawanan merupakan langkah akseleratif paling cepat dalam membangun citra baik dan popularitas di mata publik. Khalayak ramai cenderung mengapresiasi elite yang suka berderma, apapun motifnya itu. Ketika kedermawanan dikaitkan dengan popularitas, maka kepedulian tidak selamanya bermakna baik. Karenanya, muncullah banyak tren di kalangan elite untuk memberikan sedekahnya secara langsung.

Sementara itu, bak gayung bersambut, upaya pemberian santunan secara langsung sering kali disambut semarak oleh banyak kelompok masyarakat miskin. Begitu mendengar kabar adanya pemberian sedekah langsung, mereka berlomba-lomba untuk mendapatkannya, bahkan jika sampai harus saling dorong dan berdesak-desakan. Walaupun, telah banyak muncul pemberitaan di media massa tentang kericuhan dan korban dalam sejumlah pembagian santunan seperti itu, kelompok masyarakat yang lemah ini seakan tak kenal jera.

Memang, perilaku kalangan masyarakat miskin tersebut sepenuhnya tidak dapat disalahkan. Tidak mungkin melarang mereka untuk mendatangi pembagian sedekah yang memang mereka butuhkan. Dalam kondisi kemiskinan yang sudah begitu menghimpit, bantuan dengan resiko apapun tampak menjadi peluang yang bisa menyelamatkan. Kemiskinan seakan sudah melekat dalam identitas mereka, karenanya tidak lagi malu untuk berdesakan meminta-minta. Terlebih negara memang mengkonstruksi orang-orang miskin sebagai subjek yang tidak bisa menolong dirinya sendiri. Sebagaimana terlihat dalam program Bantuan Langsung Tunai (BLT), yang tidak memberdayakan orang-orang miskin, malah sebaliknya menghancurkan moral mereka menjadi pengemis harta.

Gambaran tersebut ingin menunjukkan bahwa semangat kebaikan tak selamanya memperoleh hasil yang positif ketika tidak dikelola dengan baik. Sebaliknya, aksi kepedulian yang serampangan justru menimbulkan efek negatif yang jauh lebih besar. Aktifisme sosial yang seharusnya dapat meningkatkan kesejahteraan bagi orang-orang miskin, justru malah menghancurkan martabat mereka. Sementara itu, langkah tersebut sekedar menjadi aksi pamer bagi kalangan elite, dalam menjaga popularitasnya di hadapan publik. Mengeksploitasi kedermawanan menjadi alat kepentingan.

Peran Amil Zakat

Menyikapi hal tersebut, Islam memandang bahwa kedermawanan sesungguhnya merupakan perilaku yang terpuji. Bahkan dalam banyak ayat, terdapat dorongan untuk memperhatikan orang-orang miskin, memberikan mereka makan, dan memberikan ancaman bila kelompok masyarakat yang lemah tersebut terlunta-lunta. Sebagaimana juga telah diyakini, bahwa memberi makan orang-orang miskin merupakan realisasi konkret dari keimanan. Memberi makan orang miskin dalam hal ini juga meliputi pemberian pakaian, perumahan, dan sejumlah kebutuhan pokoknya. Membantu melepaskan mereka dari penderitaan kemiskinan dan menghadirkan kehidupan yang layak.

Namun, berkaitan dengan upaya pengentasan kemiskinan, Islam memiliki pandangan yang tersendiri. Keberadaan orang-orang miskin bukan sekedar dampak dari ketidakpedulian dari kalangan elite semata, yang tidak memperhatikan mereka. Tapi, kemiskinan juga merupakan dampak dari struktur sosial yang tidak adil. Harta sebagai instrumen kesejahteraan hanya bergulir dikalangan elite semata. Usaha karitatif dalam sejumlah bentuk kedermawanan, dipastikan tidak akan mampu mengentaskan kemiskinan tersebut dan membebaskan orang-orang miskin dari penderitaan. Karena, kemiskinan telah membentuk strukturnya yang mengakar dalam tatanan masyarakat. Untuk itu, kedermawanan tersebut harus diberdayakan. Mentrasnformasikan sikap peduli itu dari sekedar kesadaran individual menjadi kesadaran kolektif, dan tentunya dikelola dengan baik.

Dalam hal ini, Islam menghendaki adanya lapisan buffer yang menghubungkan golongan miskin dan kalangan elite dalam masyarakat. Dan, dalam hal ini, amil zakat sebagai lembaga merupakan aktor yang terkonsepkan dalam menempati posisi strategis tersebut. Amil zakat merupakan realisasi dari kesadaran kedermawanan kolektif, yang terinstitusikan dalam bentuk lembaga. Keberadaannya memang ditujukan sebagai elemen aktif dalam meredistribusikan kesejahteraan dari kelompok elite masyarakat, kepada golongan dhuafa’. Karenanya, amil zakat bertanggung jawab memastikan harta yang didermakan oleh kalangan elite terkelola dengan baik, memberdayakan kedermawanan.

Ketika kedermawanan tersebut disalurkan melalui amil zakat, kebermanfaatan dari aktifisme sosial dirasakan lebih termaksimalkan dalam mengentaskan kemiskinan. Pertama, harta yang disumbangkan dapat lebih dikelola secara efektif. Dalam hal ini, amil zakat sebagai lembaga memiliki kapasitas untuk langsung menyentuh lokasi kemiskinan dengan program pemberdayaan yang lebih terpadu. Dengan demikian, masyarakat miskin tidak lagi perlu berdesakan penuh resiko untuk sekedar memperoleh santunan yang terbukti tidak bisa melepaskan mereka dari kemiskinan.

Kedua, keadilan distribusi dapat lebih terwujud. Santunan langsung yang diberikan dipastikan memiliki resiko ketidakadilan bagi masyarakat miskin. Bisa jadi, tanpa data yang mendukung, santunan langsung tersebut sangat sulit untuk mendistribusikan bantuan secara merata dan rentan manipulasi identitas miskin. Tidak selamanya, bantuan langsung yang diberikan tepat sasaran kepada masyarakat miskin yang membutuhkan. Karenanya, ketika bantuan itu diberikan kepada amil zakat, potensi keberadilan distribusi dapat lebih tercapai. Karena, penyaluran bantuan tidak hanya terfokus pada satu area saja, melainkan juga dengan memberikan prioritas kebutuhan dari masyarakat miskin dan juga lingkup persebaran bantuan.

Ketiga, menyalurkan santunan melalui amil zakat, memilik peluang untuk meminimalkan eksploitasi kedermawanan. Karena, bantuan tidak diberikan secara langsung dari donatur kepada masyarakat miskin. Di sini, pemberi derma lebih terjaga hatinya dari kecenderungan pamer kebaikan, seperti yang banyak terjadi sekarang ini. Sementara itu, bagi orang-orang miskin, mereka lebih terjaga martabatnya dari sikap meminta-minta. Karena bantuan yang diberikan, diantarkan ke lokasi mereka berada oleh amil zakat. Sehingga, kedermawanan yang ada tidak menimbulkan kerusakan moral bagi masyarakat.

Hingga di sini, kesadaran berderma masyarakat yang sudah tumbuh, patut disyukuri. Namun, perlu langkah lebih lanjut agar kedermawanan tersebut menghasilkan efek yang baik pula. Menjaga agar tidak kehilangan orientasinya, dengan pengelolaan secara baik dan terencana, hingga menumbuhkan kebaikan untuk semua. Merevitalisasi kedermawanan tersebut, terinstitusikan melalui amil zakat.

Written by hanumisme

September 20, 2009 at 7:01 am

Posted in masyarakat Madani

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Subhanallah, pengemasan pikiran yang baik. Sistematis. actually this is one of ‘easy-consumed’ opinion. Two Thumbs up for you…

    Rina

    September 29, 2009 at 2:17 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: