khuzaifah hanum

share to others

keburukan, tidak semudah itu..

with one comment

setan

Dua orang sahabat itu sudah lama saling mengenal satu sama lain. Persahabatan mereka unik. Mereka disatukan oleh perbedaan-perbedaan yang ada dari karakter dan perilaku mereka. Salah seorang dari mereka sangat gemar berbuat baik. Sedangkan, yang satunya lagi cenderung berperilaku buruk.

Hingga pada satu ketika, sahabat yang selalu berbuat baik, merasa jenuh dengan kebaikan-kebaikan yang selalu dilakukannya. Ia mendatangi sahabat dekatnya yang cenderung berlaku buruk. Dan, mengutarakan kegundahan hatinya.

“entah mengapa, saya menjadi bosan dengan amal-amal kebaikan yg saya lakukan selama ini” ujar sahabat baik itu. “sering kali, saya mengamati mu berbuat buruk, dan itu tampaknya menyenangkan”.

Sahabat yang terbiasa berbuat buruk terkejut mendengar penuturan dari sahabatnya itu. Bagaimana tidak, sahabatnya itu adalah orang yang selalu menjaga dirinya dalam kebaikan. Tapi, tiba-tiba ia mengeluh kecewa dan putus asa seperti ini.

Walaupun, berperilaku buru, tapi ia mencoba berbuat baik kali ini, dengan bertanya lebih jauh, “mengapa engkau berpikir seperti itu?”.

Sahabat yang selalu berbuat baik itu kemudian menjawab, “iya,, sering kali saya menyaksikan engkau berbuat buruk dengan begitu mudahnya dan tampak menyenangkan. Sementara, ketika saya melakukan amal-amal kebaikan, saya merasakan sebuah kesulitan yang sangat.”

Senyum miris terpancar dari sahabatnya yang berperangai buruk itu. Reflek ia membalas, “begitu kah engkau melihatnya?! Haha.. betapa bodohnya kalian orang-orang baik, yang berprasangka bahwa kami yang buruk ini dapat melakukan keburukan dengan mudah. Tidak! Sungguh tidak! Memang, ketika niat itu terbesit, seakan keburukan itu mudah dilakukan. Tapi, begitu tangan bergerak dan kaki melangkah, untuk merealisasikan keburukan tersebut. Sungguh, itu jauh lebih sulit dari apa yang kalian bayangkan!”

Dengan suara yang bergetar, tampak ia mengutarakan kekecewaan dan penyesalannya. “Memang, ketika kalian menyaksikan apa yang kami lakukan, itu tampak mudah dan indah. Tapi, sungguh, itu sangat menyulitkan.”

“tapi..” sergah sahabat yang biasa melakukan kebaikan itu.

Belum lagi kata-katanya berlanjut, sahabat yang sering melakukan keburukan itu memotong jedanya.

“ketika niat buruk itu terlintas, memang nafsu buruk membujuk sedemikian indah.. tapi, kemudahan dan keindahan pandangan mata tersebut terhenti begitu saja ketika kita bertindak jauh dalam mewujudkan niat buruk tersebut.”

Sejenak, mereka terdiam.

“begitu kah..”, ragu sahabatnya.

“iya, begitu lah. Dan, karenanya, penyesalan itu selalu saja hadir ketika kami menyelesaikan satu tahap keburukan dari rangkaian keburukan yang kami niatkan. Ingin segera menghentikan keburukan itu. Tapi, lagi-lagi nafsu buruk dan setan selalu membisikkan kami dengan kata-katanya yang memukau.”

“Untuk apa berhenti disini, walau pun sulit, toh kamu telah melakukan satu fase keburukan, dan itu sama saja. Maka, lanjutkan saja. Tidak ada beda, engkau menghentikan langkah keburukan di sini, atau di akhir nanti. Toh, engkau telah melakukan keburukan yang sama..”

“Penyesalan itu tidak berhenti di situ”, lanjutnya. “Ketika kami berhasil menyelesaikan rangkaian keburukan tersebut, rasa kecewa atas diri semakin memuncak. Betapa bodohnya kami melakukan itu semua..”, rintihnya putus asa.

“Setiap kami selesai melakukan keburukan itu, kami diliputi perasaan yang menyesal. Tapi, apalah kuasa kami. Kami sudah melakukan keburukan itu. Ingin rasanya kami kembali menjadi baik, atau setidaknya tidak mengulangi keburukan itu. Tapi, kami malu untuk kembali. Dan, kami pun menjadi ahli keburukan..”

“Setiap satu keburukan yang kami jalani, itu terus membuka peluang-peluang keburukan lainnya. Sehingga terkesan, tampak lebih mudah dan menyenangkan melakukannya..”

“Jika ingin jujur dengan semua itu.. kami menyesal!!! Tapi, kami tak kuasa menghentikan rangkaian keburukan yang telah mengendap di dasar hati kami. Dan, setiap keburukan itu terus berkorelasi dengan keburukan yang lain. Dan, hati kami pun mati, bahkan untuk sekedar menghadirkan niat kebaikan lagi..”

“kami menyesal, dan berharap tidak ada lagi orang-orang yang seperti kami.. itu semua tidak mudah. Berfikirlah berulang-ulang sebelum berniat melakukan keburukan. Karena, melalukan keburukan seperti yang biasa kami lakukan, tidaklah semudah yang kalian bayangkan.. dan, sayangnya, penyesalan selalu hadir di belakang.. “

Mereka berdua  pun terpaku dalam diam. Nalar mereka tampak mencoba mencerna setiap kata-kata yang terungkap. Tak ada suara, hanya jeritan hati yang memberontak.

Written by hanumisme

September 17, 2009 at 4:42 am

Posted in jejak hari

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilayk…

    rona khatulistiwa

    September 17, 2009 at 8:36 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: