khuzaifah hanum

share to others

Jika surga dan neraka tak pernah ada..

with 8 comments

“jika surga dan neraka tak pernah ada.. masihkah kau sujud kepada-Nya..”

Lirik lagu itu terus mengalun memenuhi isi ruangan kerja saya, pagi ini. Mungkin biasa-biasa saja, sebuah tembang lagu ‘pop-religi’ yang dilantunkan oleh grup band Dewa. Tapi, entah mengapa, ada ketidaknyamanan ketika saya mendengar lagu itu. Terlebih ketika merenunginya lebih jauh.

Sesaat, memang terkesan, lirik lagu itu ingin menunjukkan betapa pentingnya sebuah keikhlasan ketika kita beribadah kepada Rabb. Seperti nasihat salah seorang ‘kakak dan juga guru’ saya, bahwa ketika beribadah, sudah selayaknya keikhlasan menjadi dasar utama. Dan, perilaku ibadah yang penuh keikhlasan seperti itu memang dicontohkan oleh Rasul saw dan para sahabat ra terbaiknya.

Seperti ungkapan Raja Perancis yang tertawan dalam salah satu episode Perang Salib, “Kaum muslimin begitu unik. Di siang hari, mereka berperang begitu hebat bak singa gurun. Tapi, begitu malam, mereka beribadah dengan begitu ikhlasnya, bak rahib yang mendamba Rabb-nya”.

Kembali ke lirik lagu tersebut. Tapi, haruskah kita menjadi seorang manusia yang menjadi hampa, tanpa pengharapan terhadap Rabb-nya? Membangun ibadah kita dengan sekedar keikhlasan abstrak. Bukankah Rasul saw mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita beribadah, bersujud kepada Allah SWT, Sang Illah. Tapi, surga dan neraka merupakan sebuah kepastian yang haqqah.

Bukankah Rasul juga mengajarkan bahwa di samping keikhlasan, harus ada khouf dan juu’. Ketika beribadah, semestinya juga dilandaskan pada rasa takut dan harap kepada Allah SWT. Takut akan neraka-Nya dan harap akan surga-Nya. Justru dengan rasa takut tersebut dan harap tersebutlah, kemudian keikhlasan semakin kokoh dalam hati, yang berimplikasi dalam setiap amal kita.

Dalam beribadah, memang harus ikhlas. Dan, tidak diperkenankan adanya kesombongan dalam diri kita sebagai hamba yang dha’if ini. Ketika kita mengklaim bahwa ibadah kita selalu ikhlas, hingga menolak ketetapan Allah SWT yang memang telah ada, surga dan neraka. Bukankah, kita telah sombong atas takdir Allah SWT dan hari akhirat?

Lebih jauh, ketika memang kita beribadah dengan ikhlas tanpa menghiraukan surga dan neraka, bukankah kita juga telah menyangsikan keberadaan Rasul saw yang mengajarkan kepada kita untuk beriman akan hari akhir, dan konsekuensi surga bagi orang-orang beriman serta neraka bagi orang-orang yang ingkar?!

Perilaku ikhlas seperti itu (menafikan surga dan neraka), mungkin tidak bisa dikatakan ikhlas, tapi lebih dekat dengan gaya iblis yang sombong. Bukankah Nabi saw juga berdo’a, “asyhadu’alla ilaha ilallah, astaghfirullah, as’alukal jannata, wa a’udzubika minan naar”.

Saya kembali teringat dalam salah satu kelas Sosiologi Agama, bahwa sekularisme telah gagal membendung evolusi spiritual kaum muslimin. Yang ketika modernisme pasca rennaisance diterapkan, agama seharusnya dimarjinalkan ke dalam lingkup domestik yang sempit. Tapi sebaliknya, semangat keagamaan kaum muslimin justru semakin bergairah, menunjukkan identitasnya sebagai ad-diin yang syamil. Kalangan orientalis bagitu menggebu untuk menyingkirkan spirit Islam tersebut, dan memperkenalkan metode baru pluralisme, relativisme kebenaran.

Mungkin, agak berlebihan bila saya mengaitkan lirik lagu yang ‘ikhlas’ tersebut, dengan fenomena pluralisme ini. Tapi, sangat tidak berlebihan bila kesimpulan bahwa lagu tersebut secara halus mendekonstruksi konsep ibadah dalam Islam, menafikan hari akhir dan juga hirau akan seruan Nabi saw, adalah benar. Upaya meruntuhkan jelasnya kebenaran yang dibawa Islam, dengan keabu-abuan ala pluralisme. Menyamaratakan ajaran Islam yang benar dengan kesesatan akidah dan penipuan dalam ibadah. Meng-cover kebusukan dalam indahnya kebersamaan semu.

Wa idzaa wa qa’atil waa qi’ah, laysa li waq’atihaa kaadzibah ..

Written by hanumisme

September 15, 2009 at 2:45 am

8 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Jika tidak salah, lyric lagu tersebut diambil dari salah satu ungkapan seorang sufi, Rabi’ah al Adawiyah. Ungkapan tersebut menggambarkan sudut penghambaan adalah mencari Rahmat/Ridho/Kasih Sayang Allah SWT. Ikhlas karena mengharap Kasih Sayang Allah. Khouf, takut jika Allah tidak mecintai, dan Ju’ sebagai pengharapan kasih sayang Allah.
    Perkara Syurga dan neraka bukan terletak pada “Jumlah Nominal” Pahala, akan tetapi semata2 sebagai bentuk kasih sayang Allah.
    Memang agak berat sih jika kita baca literature ttg konsep tersebut. Gak usah “risau dan risih”..

    hadi

    September 15, 2009 at 3:39 am

  2. Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh’
    Salam kenal, ni Asri
    (menulis sambil menasihati diri sendiri)
    Saya setuju sekali, karena Ahlus Sunnah menghadirkan cinta, khauf, dan raja’ dalam beribadah. Mencintai Allah, takut kehilangan cinta Allah, dan berharap Allah tetap mencintai kita
    jika hanya menghadirkan cinta saja, tanpa rasa takut.. maka cepat sekali terusik, takut tanpa cinta.. jadi terpaksa,.. apalagi hanya raja’, maka manusia tidak melaksanakan fungsi khalifah
    Sepakat kak Hanum
    Jika surga dan neraka tak pernah ada
    maka sia-sialah apa yang diperintahkan Allah untuk manusia agar beriman
    cahayamatadanhati.wordpress.com

    AsriNurAini

    September 15, 2009 at 3:56 am

  3. lagunya ahmad dhani dan Almarhum Chrisye. yah, sempat terpengaruh juga sih lagunya. but, tanamkan niat bahwa “dan tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepadaKu”.

    saya juga setuju dengan “karena Ahlus Sunnah menghadirkan cinta, khauf, dan raja’ dalam beribadah. Mencintai Allah, takut kehilangan cinta Allah, dan berharap Allah tetap mencintai kita
    jika hanya menghadirkan cinta saja, tanpa rasa takut.. maka cepat sekali terusik, takut tanpa cinta.. jadi terpaksa,.. apalagi hanya raja’, maka manusia tidak melaksanakan fungsi khalifah”

    tulisanwahid

    September 29, 2009 at 2:07 am

  4. assalaamu’alaykum,
    ws sepakat, lagipula, surga itu awal mula tempat nenek moyang kita, nabi Adam, maka adalah fitrah jika kita merindukannya…
    wallohu a’lam

    awisawisan

    September 29, 2009 at 7:18 am

  5. Jangan mengatakan andai ini dan itu, karena membuka pintu bagi setan. Jangan mengatakan andai (jika) surga dan neraka tidak ada karena Alloh telah menetapkannya ada. Aku 100% setuju dengan pesannya. Tulisannya Hanum ini pun sebuah tulisan yang bagus dan inspiring menurutku. Terima kasih.

    Nafis. http://www.senyumkita.com

    nafismudrika

    September 29, 2009 at 5:09 pm

  6. Beuh kak hanuuuuum…. four thumbs up (cuman punya 4 jempol) hee
    Lanjutkan! (udah basi yak) ^^v

    Ang

    September 30, 2009 at 5:01 pm

    • ya tak usah risau dan risi saudarakau, lirik lagu itu penuh dengan perenungan. mangingatkan kembali apa tujuan di ciptakan manusia,yaitu untuk menyembah sang pencipta. itulah TUJUAN UTAMA, tapi tentu kita juga dilarang berandai-andai. karena SURGA DAN NERAKA MEMANG ADA.Jadi bagaimana? yang terbaik adalah memandangnya secara bijak. BERIBADAHLAH DENGAN TUJUAN UTAMA HANYA KARENA ALLOH.. DAN TETAPLAH MENGINGINKAN SURGA YANG TELAH DI JANJIKAN ALLOH. (sebagai konsekuensi yang sangat nikmat). berandai-andai disini menurut saya hanya untuk mengantarkan kita pada perenungan jadi tidak apa-apa. tetapi jangan diartikan sebagai penyangkalan takdir.>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
      ANALOGI : seorang karyawan yang bekerja/berkarya karena cinta pada pekerjaannya. seandainya dia tidak di gaji dia tetap mau bekerja. karena cintanya. tapi sang majikan pasti meng-gaji nya. maka karnyawan itu pun tak pernah menolak. karena iya juga mengiginkan bayaran. dan terlalu sombong jika ia menolak bayaran. tapi gaji bukanlah tujuan utama. karena tujuan utamanya adalah berkarya, mengabdi, karena cinta dan menyenagi pekerjaannya.

      >>>JADILAH HAMBA DENGAN ANALOGI TERSEBUT.>>>>>>>>>>>>>>>>

      BERIBADAHLAH DENGAN TUJUAN UTAMA HANYA KARENA ALLOH.. DAN TETAPLAH MENGINGINKAN SURGA YANG TELAH DI JANJIKAN ALLOH.

      cakra

      August 18, 2011 at 5:39 am

  7. John Lenon memang mencari tuahn kemana-mana bahkan dia mengaku lebih tenar dari Jesus Kristus kalau di inggris ada ormasa kayak FPI dia udah abis digrudug.
    Setiap usaha ada reward dan punisment cinta tanpa pamrih itu 1 dari 1 juta. Minimal cinta kita dibalas sekedarnya. Setiap kejuaraan ada Pialanya. Dan kehidupan punya keinginan sesuatu untuk dikenang pada akhirnya. Cintalah yang menghidupkan gairah jiwa dan raga.Level tertinggi pengabdian seorang hamba.

    karnadi

    June 18, 2012 at 10:46 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: