khuzaifah hanum

share to others

Etika Idul Fitri dan Kesadaran Lingkungan

with one comment

Lonjakan konsumsi di saat perayaan Idul Fitri merupakan sebuah fenomena yang menarik untuk dicermati. Hampir di setiap penjuru negeri ini merayakan Idul Fitri dengan suasana yang bisa dikatakan cukup mewah. Walhasil, nuansa Idul Fitri menjadi lekat dengan proses eksploitasi lingkungan secara masif untuk memenuhi semua kebutuhan konsumsi saat Idul Fitri.

Fenomena semaraknya perayaan Idul Fitri sepertinya menunjukan antusiasme ummat Islam di negeri ini untuk menunjukkan rasa keberagamaan mereka. Selintas, ini merupakan sebuah predikat yang membanggakan. Mengingat kesadaran keberagamaan ummat Islam sudah mulai menurun. Namun, dalam kacamata agama dan lingkungan hidup, hal ini tidak selamanya benar. Konsumsi berlebih justru perbuatan yang ditentang oleh Islam itu sendiri, terlebih lagi jika hal itu mengarah pada eksploitasi alam yang menimbulkan kerusakan lingkungan.

Tradisi merayakan Idul Fitri merupakan sebuah budaya yang telah lama melekat pada bangsa ini. Hal itu didasarkan pada makna Idul Fitri yang berasal dari kata al-fithr, yang berarti makan atau tidak berpuasa. Sehingga, kerap kali Idul Fitri diinterpretasikan dengan perayaan dengan perjamuan besar. Menyediakan makanan yang banyak dan mewah telah menjadi hal yang sangat lumrah saat Idul Fitri.

Pendefinisian kata konsumsi ini ternyata tidak sebatas hanya pada makanan, tetapi lebih jauh dari itu. Konsumsi di sini diartikan pula dengan menggunakan pakaian baru, merenovasi rumah, membeli perhiasan, dan konsumsi materi lainnya yang mewarnai setiap Idul Fitri. Akibatnya, hampir setiap muslim berbondong-bondong membeli barang-barang saat menjelang Idul Fitri yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Asumsi konsumsi ini semakin kuat, terlebih lagi, dikarenakan persepsi ummat Islam bahwa Idul Fitri adalah hari raya yang harus dirayakan.

Akibatnya, perayaan Idul Fitri nampaknya telah ditangkap lebih sebagai pengistimewaan dari segi materi. Hal ini teraplikasikan sebagai sebuah kewajiban untuk menggunakan segala sesuatu yang khusus dan tidak biasa dikonsumsi. Perilaku ini pun mengarah pada pola konsumsi yang berlebih. Pemahaman ini tampaknya menjadi sebuah standar baku yang menjadi acuan bagi ummat muslim dalam merayakan Idul Fitri.

Kecenderungan seperti ini bukanlah sesuatu yang baru dalam setiap peryaan Idul Fitri, melainkan sudah terbentuk jauh pada banyak perayaan Idul Fitri sebelumnya. Ummat Islam terkondisikan dan mengkondisikan diri untuk melakukan hal ini karena kondisi sosial di sekitarnya melakukan hal yang sama, meskipun hal ini tidak pernah disyari’atkan untuk dilakukan.

Etika Idul Fitri

Jumlah konsumsi yang berlebih ummat Islam dari setiap perayaan Idul Fitri memiliki kecenderungan yang relatif konstan dan bahkan terus meningkat. Memang, secara bahasa, Idul Fitri berarti hari al-fithr yang memiliki padanan kata konsumsi. Namun, apakah definisi kaku seperti itu yang diharapkan dari setiap perayaan Idul Fitri. Sebuah perayaan keagamaan yang justru merusak
lingkungan.

Idul Fitri tidak seharusnya didefinisikan dengan materi dan konsumsi berlebih seperti itu. Ada esensi penting dari perayaan even ini, yaitu tumbuhnya etika Idul Fitri dalam setiap jiwa muslim. Sebuah etika yang membangun kesadaran lingkungan. Maksud dari etika Idul Fitri ini sesungguhnya adalah melestarikan lingkungan dengan tujuan agar sumber daya alam bagi konsumsi manusia dapat tersedia secara berkelanjutan dan tidak terputus.

Manusia, sesungguhnya, memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap dan lingkungan hidup dalam sebuah mata rantai konsumsi. Lingkungan hidup dengan segala sumber daya alamnya merupakan sumber dari setiap proses produksi. Gangguan pada lingkungan hidup, akan berdampak pada terganggunya proses penyedian hasil akhir produksi –produk. Selanjutnya, gangguan pada produk akan mengguncangkan kestabilan pola konsumsi manusia. Oleh karena itu, Idul Fitri, dengan pemaknaan pelestarian konsumsi, sebenarnya merupakan momen yang mengingatkan manusia akan mata rantai konsumsi ini. Sehingga, dengan perayaan Idul Fitri, diharapkan akan memunculkan jiwa-jiwa baru yang peduli akan kelestarian alam sekitarnya.

Membangun kesadaran terhadap lingkungan memang bukan sebuah kejadian yang seketika dapat terbentuk, melainkan melalui sebuah proses. Di sini, etika Idul Fitri telah merangkainya sebagai sebuah proses pembelajaran untuk dapat memahami lingkungan. Hal ini sesuai dengan konsep pencapaian Idul Fitri itu yang tidak serta-merta terjadi dengan begitu saja. Tetapi melalui sebuah proses penyadaran diri dalam jangka waktu satu bulan dalam Ramadhan. Bagaimana selama proses itu, kita diajarkan untuk dapat selalu berbuat baik secara maksimal. Lingkungan hidup merupakan salah satu ladang amal bagi ummat Islam untuk berbuat baik.

Kesalahan yang terjadi selama ini dalam memaknai setiap perayaan Idul Fitri sebenarnya hanya terjadi pada tataran praktis. Semua itu dikarenakan pola sosialisasi yang sedikit menyimpang dalam mendefinisikan perayaan Idul Fitri itu sendiri. Jika pola sosialiasi mengenai perayaan Idul Fitri ini sudah dapat diperbaiki, maka sesungguhnya etika Idul Fitri yang selama ini tertutupi akan kembali muncul.

Sudah saatnya kini, kita membangun sebuah kesadaran mengenai pentingnya lingkungan hidup melalui etika Idul Fitri. Jangan lagi mengartikan Idul Fitri dengan pemaknaan sebagai baju baru, makanan yang banyak, dan segala kebutuhan konsumsi yang meningkat. Tetapi Idul Fitri merupakan momen untuk menyadarkan kembali pentingnya kelestarian lingkungan hidup.

*) Koran Tempo, 28 Oktober 2006

Written by hanumisme

September 12, 2009 at 7:14 am

Posted in jejak hari

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. hm.. belum sempat baca semuanya, tapi saya teringat seseorang berkata : idul fitri milik semua, tapi bulan puasa milik sebagian orang saja..

    Asri Nur Aini

    September 15, 2009 at 2:30 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: