khuzaifah hanum

share to others

Dialektika (Damai) Islam dan Barat

leave a comment »

Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and it has done at lease twice. (Samuel P Huntington)

Pada awal dekade 1990-an, Samuel P Huntington menjadi sangat terkenal dengan wacana yang digulirkannya the clash of civilizations. Dalam bukunya, Huntington (2005) mengarahkan Barat dan para pemimpinnya untuk mewaspadai keberadaan Islam. Pasca kemunduran komunisme, Islam menjadi satu-satunya peradaban yang memiliki potensi besar untuk menggoncang peradaban Barat, seperti apa yang telah dibuktikan dalam sejarah.

Kekhawatiran tersebut tampaknya hampir menjadi kenyataan absolut saat pasca terjadinya Tragedi WTC, 11 September 2001. Meskipun hingga saat ini belum ada penjelasan dan kejelasan ilmiah mengenai siapa sesungguhnya aktor utama di balik peristiwa ini. Namun, secara sepihak, AS, sebagai pimpinan dalam struktur hegemoni Barat, mengarahkan tuduhannya terhadap Islam yang ditunjukkan dengan ekspansi militernya ke Afghanistan dan Irak. Peristiwa tersebut seakan memberikan sebuah pembenaran bahwa dekade benturan peradaban telah dimulai.

Proses dialektis antara Islam dan Barat dalam interaksi pada masa lalu telah menggariskan perjalanan panjang dan alur sejarah yang cukup kompleks dengan menciptakan sebuah produk pengalaman sejarah yang berbeda bagi kedua belah pihak. Damai dan perang mewarnai pola relasi mereka, sebagaimana bentuk relasi dua peradaban dunia lainnya. Salah satu sudut sejarah yang mungkin banyak disinggung dalam pembahasan ini adalah pada periode kejayaan Islam (7-14 M). Selama masa tersebut, Islam menjadi sebuah kekuatan yang mampu mendominasi dua per tiga wilayah peradaban dunia, mulai dari Andalusia di sisi barat, hingga Cina.

Posisi Eropa sebagai tanah pertiwi kelahiran peradaban Barat pada masa tersebut tidak lain sebagai sebuah area pemukiman ‘primitif’ yang sangat kental dengan nuansa mistik dan absolutisme gereja sebagai kekuatan hegemonik. Hingga tidak heran, Barat pun menyebut periode tersebut sebagai sebuah masa kegelapan (The Dark Ages). Dalam ketidaksadaran masyarakat ini, Gereja menciptakan mitos-mitos agama yang merupakan sebuah legalitas atas kekuasaan yang mereka rampas atas masyarakat Eropa itu sendiri.

Islam sebagai kekuatan pencerahan seakan membawa cahaya baru bagi hutan ‘kelam’ rimba Eropa. Secara perlahan, pembebasan yang dilakukan oleh Islam mulai merambah wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi kekuasaan dominasi hegemonistik Gereja. Bermula dari pembebasan Yerussalem, Istanbul, Mesir, Cartago, hingga akhirnya mengelilingi daerah yang sebelumnya adalah wilayah kekuasaan absolutis Gereja, Andalusia di barat dan gerbang kota Wina di timur. Bukti kejayaan sejarah ini menciptakan sebuah ketakutan tersendiri bagi Barat, yang merupakan keturunan dari Eropa, terhadap Islam (Islamophobia).

Sepertinya, ketakutan tersebut menjadi sebuah warisan sejarah yang terus disosialisasikan dan diinternalisasikan dalam individu di masyarakat Barat. Akibatnya, pencitraan Barat terhadap Islam selalu bergerak ke arah yang bersifat negatif. Faktor lain yang menjadi kekhawatiran Barat terhadap Islam adalah perbedaan fundamental mengenai pemahaman mereka tentang konsepsi kehidupan. Pada masa hegemoni Gereja, masyarakat Eropa dibawa dalam sebuah kegelapan dengan dominasi doktrin ortodok Gereja tentang hidup yang bersifat teologis. Masyarakat terkekang dengan semua aturan mati yang tak terbantahkan, meskipun hal tersebut adalah sesat. Namun, Renaisans mampu membawa masyarakat pada sebuah era pencerahan (The Ages of Enlightment) dengan konsepsi kebebasan mutlak manusia. Dampaknya adalah Gereja sebagai simbol teologis didefinisikan sebagai kekuatan yang menghambat perkembangan kemajuan masyarakat. Walhasil, agama dikucilkan oleh Barat hanya pada sudut-sudut gereja.

Sementara itu, Islam merupakan sebuah kekuatan peradaban yang mampu mengelaborasikan antara kekuatan dari doktrin teks dengan konteks masyarakat, sebagaimana telah terjadi pada masa pertengahan. Karenanya, Barat melihat bahwa Islam merupakan sebuah hambatan bagi Barat yang materialistis dalam menyebarkan eksistensinya dengan pola modernitas yang menjauhkan agama dari kehidupan sehari-hari (sekular). Perbedaan fundamental ini menjadi salah satu penyebab timbulnya ketegangan antara Barat dan Islam. Islam merupakan kekuatan sesungguhnya yang menjadi hambatan bagi Barat. Karena itu, Huntington (2005) menulis bahwa konflik antara Kapitalis dan Marxis hanyalah konflik yang sesaat yang berifat dangkal.

Lantas muncul pertanyaan, apakah memang Barat dan Islam ditakdirkan menjadi sebuah seteru abadi yang tak pernah usang terlekang zaman? Paul Brass (1993) melihat bahwa perbedaan menjadi sebuah sumber daya politis yang diciptakan dan dieksploitasi oleh elite politik. Karenanya, konflik yang terjadi sepanjang perjalanan sejarah manusia bukan disebabkan mereka berbeda secara fisik dan ideologis, tetapi karena adanya kekuatan elit politik yang mengeksploitasi dari perbedaan eksistensi setiap dari mereka.

Konsepsi tentang Clash of Civilization merupakan sebuah bentuk eksploitasi perbedaan tersebut. Gambaran tersebut menunjukkan bagaimana sosok Huntington sebagai seorang analis politik pemerintah AS, yang merupakan subjek utama Barat, menciptakan sebuah stereotipe dan citra negatif tentang Islam. Dalam tesisnya, Huntington (2005) menggambarkan bagaimana Islam merupakan bentuk peradaban yang sangat tidak beradab. Dengan data kuantitatif yang sederhana, Huntington memaparkan bahwa Islam merupakan satu-satunya peradaban yang paling banyak memiliki konflik dengan entitas non-Islam lainnya. Dari asumsi singkat tersebut, Huntington membuat sebuah konsepsi sesat bahwa Islam adalah teroris yang menyukai konflik terhadap kelompok lainnya.

Salah satu analisa Huntington (2005) adalah konflik di Bosnia yang mempertentangkan antara Muslim Bosnia dan Kristen Serbia. Dalam penjelasan tersebut, ia hanya menulis bahwa terjadi konflik antara Islam dan non-Islam. Namun, tidak dijelaskan apa dan bagaimana asal-muasal konflik itu terjadi. Analisa deskriptif seperti ini tentunya membangun citra negatif terhadap Islam yang dikuantifikasikan secara sederhana sebagai peradaban yang menyukai perang. Padahal, dalam konflik tersebut, posisi Islam merupakan objek yang lemah yang tengah dibantai oleh Kristen Serbia dalam sebuah Ethnic Cleansing. Kondisi yang tidak lebih buruk dari Holocaust yang masih dipertanyakan kebenaran sejarahnya.

Analisa Huntington mengenai Clash of Civilization ini tampaknya menjadi panduan bagi Barat, khususnya AS dan sekutunya, dalam menentukan setiap sikap mereka untuk berinteraksi dengan Islam. Clash of Civilization telah membawa perubahan sikap politik luar negeri AS. Jika sebelumnya AS menggunakan containtment (penangkalan) dan detterence (penangkisan) dalam menghadapi rivalnya, Uni Soviet dalam Perang Dingin. Maka, kini AS menggunakan preemptive strike dalam menghadapi kekuatan Islam (Husaini, 2005).

Tentunya menimbulkan sebuah kesangsian, adalah bagaimana AS menggunakan tindakan containtment dan detterence dalam menghadapi Uni Soviet yang merupakan kekuatan adidaya pada masanya. Tapi, justru menerapkan preemptive strike saat berhadapan dengan Islam. Hal ini tentunya tidak akan terjadi jika AS dan sekutunya (Barat) tidak menggunakan konsepsi Clash of Civilization atas kebijakan global dan internalnya.

Sementara, aspek lain yang membuat pertentangan tersebut menjadi nyata adalah pendudukan tanah Palestina oleh Israel. Palestina adalah satu-satunya tempat di dunia kontemporer yang masih terjadi kolonialisasi model kuno. Ia merupakan pusat dunia, strategis baik secara potensi sumber daya alam, ekonomi, politik, maupun militer (Sandhiyuda, 2005). Keberadaan Israel di tanah Palestina merupakan konflik yang hingga saat ini menjadi problematikan dalam relasi Islam dan Barat. Sengketa tersebut menciptakan pergesekan yang keras.

Dalam tulisannya, Hasan Al-Banna (2005) menjelaskan bahwa setiap jengkal tanah di mana ada manusia yang memeluk Islam, maka tanah tersebut adalah bagian dari tanah air Islam yang harus terbebaskan. Penjajahan Israel di Palestina merupakan satu hal yang melanggar aturan universal tentang eksistensi sebuah bangsa. Sebelumnya, Israel merupakan bangsa yang terdiaspora di berbagai penjuru dunia. Namun, dalam perjanjian Balfour yang merupakan produk politik Barat membawa Israel menduduki tanah Palestina. Dengan kondisi tersebut tentunya sangat menyakiti hati ummat Islam, terutama Indonesia yang merupakan negara dengan jumlah mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia. Bukankah kemerdekaan adalah hak setiap bangsa, karenanya penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

Proses dialektika damai antara Islam dan Barat memang menjadi harapan bagi kita semua. Namun, untuk hasil tersebut, tentunya harus didasarkan pada rasa saling percaya. Bukan dengan asumsi-asumsi fobia, terlebih dengan dekonstruksi wacana media yang tak beralasan. Saatnya kembali menata dunia yang adil. Merenovasi dunia yang sudah hampir lapuk dengan ketamakan dan dendam sejarah yang tak berujung. Tidak dengan arogansi kekuasaan. Tapi dengan prasangka baik dan niat untuk membangun kehidupan dunia yang lebih baik, dan berkeadaban.

Written by hanumisme

August 24, 2009 at 9:16 am

Posted in tentang Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: