khuzaifah hanum

share to others

Pancasila dan Identitas Ummat Islam

with one comment

Pembajakan identitas yang dilakukan oleh rezim orde baru, membuat Pancasila menjadi sebuah identitas ‘sekular’ yang ditentang oleh banyak elemen ummat Islam. Terutama sejak diberlakukannya azas tunggal, beberapa entitas ummat Islam menentang dan memilih menjadi oposisi biner terhadap Pancasila. Padalah, dalam lintas sejarahnya, Pancasila dilahirkan dari rahim ummat Islam sendiri. Namun, kecelakaan sejarah pada era orde baru, membawa sebuah petaka bagi ummat Islam di era selanjutnya, sebuah pertarungan identitas antara Pancasila dan ummat Islam.

Reaksi dan penentangan terhadap identitas nasional Pancasila semakin menguat semenjak bergulirnya reformasi. Di saat pintu kebebasan terbuka, setiap kelompok ideologis menampakkan wajahnya, termasuk juga kalangan Islam yang pada periode sebelumnya hanya bisa bergerak di bawah tanah akibat tekanan dan tindakan represif dari pemerintah dan militer rezim berkuasa. Akibatnya, perlawanan ummat Islam terhadap Pancasila semakin mengkristal. Pancasila kini diidentikkan sebagai thagut yang merupakan musuh dari nilai-nilai Islam. Padahal, Pancasila itu merupakan  produk dialektis nilai Islam dan kebangsaan Indonesia yang dirancang oleh tokoh-tokoh pendahulu Islam di era Revolusi.

Memang, istilah Pancasila pertama kali tidak dikemukakan oleh kalangan Islam, melainkan produk pemikiran Soekarno yang dipaparkan dalam sidang di hadapan panitia persiapan usaha kemerdekaan. Dalam pidatonya tersebut, Soekarno menyebut secara urut mengenai lima asas negara, yang disebutnya sebagai Pantja Sila, yaitu Nasionalisme, Humanisme, Demokrasi, Sosialisme, dan Ketuhanan. Kelima konsepsi tersebut merupakan hasil sintesa pemikiran dari paradigma demokrasi Barat, gagasan Islam modernis, marxist, serta gagasan komunalistik lokal yang mewakili seluruh elemen tingkat elite politik nasional pada masa itu (Kahin, 1952).

Pidato ini mendapat reaksi dari dari hampir seluruh tokoh elite ummat Islam. Untuk meminimalkan kemungkinan perpecahan nasional, beberapa tokoh dari kalangan Islam membentuk tim kecil yang berisi sembilan orang yang bertugas untuk merevisi naskah Pancasila tersebut. Dari revisi inilah kemudian lahir Pancasila yang telah direvisi, dan lebih dikenal dengan Piagam Jakarta. Penolakan tokoh elite dari kalangan Islam terhadap konsepsi Pancasila versi Soekarno bukanlah upaya untuk menolak bentuk nasionalisme Indonesia, melainkan usaha revisi konstruktif untuk membumikan nilai-nilai Islam dalam konteks persatuan dan kebangsaan Indonesia.

Tulisan ini berusaha menggambarkan bahwa nilai-nilai Islam telah menjiwai Pancasila dan merupakan sebuah identitas tersendiri bagi ummat Islam di Indonesia. Berikut merupakan sebuah analisa atas revisi yang dilakukan terhadap Pancasila. Pertama, Sekalipun, nasionalisme-lah yang menjadi dasar filsafat suatu Indonesia merdeka. Namun, kemerdekaan Indonesia tidaklah terbatas pada sebuah nation baru dengan sekat-sekat geopolitik yang sempit. Kemerdekaan sebuah upaya untuk menciptakan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Karenanya, nasionalisme dalam Islam tidaklah ditentukan oleh teritori wilayah negara dan batasan geografis. Melainkan, setiap jengkal tanah di muka bumi, di mana di atasnya ada seorang Muslim, maka itulah tanah air bagi setiap muslim (Al-Banna, 1997). Artinya, nasionalisme yang diusung oleh kaum muslimin ditujukan bagi kesejahteraan universal.

Kedua, humanisme merupakan paham yang mutlak berorientasi pada manusia. Nilai luhur dalam masyarakat menjadi sebuah definisi yang kabur dalam pandangan humanisme. Tidak ada acuan baku mengenai baik dan buruk, semuanya didasarkan pada pendefinisian individual oleh manusia. Tentunya, kondisi ini membahayakan bagi stabilitas nasional, yang membutuhkan sebuah integrasi nasional. Oleh karenanya, humanisme kemudian ditransliterasikan dalam sebuah frase yang lebih bernuansa nasional dan aplikatif, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Sementara itu, definisi adil dan beradab didasarkan pada nilai-nilai religius Islam, sebagai rambu-rambunya. Dengan demikian, ada batasan baku mengenai arti sebuah kemanusiaan, bukan relativitas nilai seperti apa yang diciptakan oleh humanisme.

Ketiga, demokrasi pada masa revolusi merupakan sebuah kekuatan supra-nasional yang menggelora dan tengah menyihir masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Namun, demokrasi bukanlah konsep yang mudah dipahami, sebab demokrasi memiliki banyak konotasi makna (Suhelmi, 2004). Kekhawatiran ini ditanggkap oleh revisionis Pancasila dari kalangan Islam terdahulu. Karenanya, harus ada sebuah dasar nilai yang menjadi rambu-rambu demokrasi, agar demokrasi tidak menjadi sebuah mekanisme destruktif. Oleh karenanya, opsi yang ditawarkan adalah sebuah sistem kerakyatan yang diatur dalam sebuah aturan kebijaksanaan melalui musyawarah perwakilan.

Keempat, pemikiran Soekarno dalam menyusun konsepsi Pancasila, tidak terlepas dari pemikiran sosialisme-marxist tentang sebuah negara. Tujuan kemerdekaan Indonesia adalah menciptakan sebuah negara kesejahteraan. Karenanya, negara seharusnya mampu mengatur distribusi kepemilikan materi rakyatnya agar pemerataan dapat tercipta. Namun, pandangan ini menimbulkan sebuah ketakutan akan hilangnya hak privat rakyat. Untuk menghindari hal ini, tim sembilan mengubah konsep pemerataaan dalam sosialisme menjadi sebuah sistem keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena, kesejahteraan tidak tercipta hanya dengan pemerataan, melainkan sebuah sistem yang berkeadilan bagi seluruh rakyat.

Kelima, keempat sila di atas merupakan sebuah rangkaian utuh kesatuan Indonesia dalam sebuah sila ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Artinya, upaya membangun Indonesia merdeka adalah sebuah rangkaian pelaksanaan syariat bagi setiap ummat Islam. Sehingga, ada nilai transendental yang mendasari kehidupan bernegara setiap individu yang bertujuan menciptakan kehidupan manusia Indonesia yang lebih baik.

Namun, dialektika Pancasila tidak berhenti sampai di sini. Kalangan nasionalis sekular merasa berkeberatan dengan sila pertama Pancasila yang diajukan oleh tim sembilan, “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Kompromi politik terus dilakukan untuk menjaga integritas nasional. Hingga akhirnya dalam sebuah kesepakatan nasional, tokoh elite dari kalangan Islam merelakan penghapusan tujuh kata dalam sila pertama Piagam Jakarta dan diganti dengan frase Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dari potret sejarah tersebut, terlihat jelas bahwa peran tokoh elite dari kalangan Islam memberikan sumbangsih yang cukup besar dalam terbentuknya Pancasila. Semangat mereka memperjuangkan identitas Islam tidak lantas memudarkan jiwa nasionalisme mereka sebagai bangsa Indonesia. Mereka tidak secara kaku dan membabi buta berteriak syariat Islam sebagai jargon dan simbol identitas. Dengan lebih dewasa, para tokoh pendahulu Islam mencoba membumikan Islam dalam konteks lokal. Lantas, layakkah ummat Islam saat ini mempertanyakan identitas mereka dan mempertentangkannya dengan Pancasila?

Written by hanumisme

July 27, 2009 at 7:56 am

Posted in Indonesia ku

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. identitas umat islam, sejauh yang saya fahami, sebenarnya bukan jenggot, jilbab, gamis, kubah masjid, warna hijau, teriakan allahu akbar dll. islam adalah sebuah ajaran dengan nilai-nilai transenden yang sangat substansial, dan bukan penampilan-penampilan simbolis seperti yang banyak ditunjukkan oleh banyak aktivis muslim fundamentalis di parlemen atau di jalan-jalan. identitas umat islam seharusnya tidak jauh-jauh dari seruan doktrin Islam tentang musyawarah, kelemahlembutan, kesucian jiwa, kepedulian sosial, kemerdekaan untuk berfikir dan bersikap, dan nilai-nilai fundamental lainnya.

    blog kamu sangat menarik. terus terang saya ingin mempunyai teman anak sosiologi. saya sangat ingin mengerti tentang teori konflik, interaksionisme simbolik, dll. saya undang untuk mampir dan berkomentar di blog saya…

    widjojo dipo

    October 3, 2009 at 5:41 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: