khuzaifah hanum

share to others

Banjir Pasti (Tak kan) Berlalu

leave a comment »

Banjir kembali membayangi Jakarta. Bencana yang terus berulang secara rutin. Bagi sebagian besar warga Jakarta, banjir sepertinya merupakan sebuah fenomena alam yang wajar terjadi dan bahkan dianggap sebagai sebuah ciri khusus untuk menandai telah datangnya musim penghujan. Seakan Jakarta tak akan pernah luput dari banjir. Benarkah?

Tingginya curah hujan menjadi faktor dominan penyebab terjadinya banjir di kawasan Ibukota. Hujan yang mendera tidak mampu terserap secara baik oleh lahan-lahan di kawasan Jakarta, akibatnya banjir pun tak dapat terelakkan. Faktor curah hujan menjadi penyebab utama munculnya bencana banjir dan ini memang telah terjadi sejak tahun 1960-an.

Selain itu, secara fisik, kawasan Jakarta memang sangat rentan terserang banjir. Dengan posisi yang terletak pada dataran rendah dan bahkan ada sebagian wilayah berada di bawah permukaan air laut, Jakarta juga dilalui 13 sungai yang bermuara ke teluk Jakarta. Di sisi timur ada kali Cakung, Jati Kramat, Buaran, Sunter, dan Cipinang, sedangkan di tengah ada kali Ciliwung, Krukut, dan Cideng, sementara itu di sisi barat ada kali Grogol, Sekretaris, Pesanggarahan, Mookervaart, dan Angke.

Faktor alam memang memegang peranan cukup besar sebagai penyebab terjadinya bencana banjir di Jakarta. Namun, pokok permasalahan banjir yang sesungguhnya terletak pada penyimpangan dalam konsep pembangunan wilayah Jakata. Pembangunan yang terjadi di Jakarta selama ini bersifat parsial yang sangat terpaku pada kepentingan manusia (antroposentris) dan menihilkan faktor lain yang berperan dalam proses pembangunan. Ini berdampak pada kerusakan lingkungan kawasan Jakarta itu sendiri. Banjir menjadi indikasi nyata dari kegagalan pembangunan Jakarta.

Dalam perspektif ekologi-sosial, agenda pembangunan seharusnya tidak menanggalkan pola pembangunan berkelanjutan yang memadukan konsep tiga E (economy, ecology, dan social equality). Aspek pertama dan terpenting adalah ekonomi. Aspek ini merupakan faktor utama yang berperan besar dalam proses pembangunan yang tengah berjalan. Tanpa adanya motivasi ekonomi, pembangunan akan kehilangan elan vitalnya. Aspek ekonomi pula yang telah membuat pembangunan semakin pesat. Kemajuan fisik dan materi merupakan tujuan dan karakteristik dari pembangunan yang berbasiskan pada aspek ekonomi.

Aspek kedua adalah ekologi yang didefinisikan secara nyata dalam bentuk eksistensi lingkungan hidup. Lingkungan hidup sebagai salah satu elemen pembangunan memiliki peran yang cukup besar. Lingkungan hidup merupakan sumber pokok pemasok sumber daya dan energi yang menopang proses pembangunan yang ada. Dalam mata rantai produksi, lingkungan menempati posisi awal dari sebuah proses pembangunan. Tanpa ada suplai dari lingkungan hidup, maka pembangunan tidak akan pernah terjadi.

Selanjutnya, aspek ketiga adalah social equality atau keserasian sosial. Dalam aspek ini, keserasian pola hubungan manusia dalam pembangunan menentukan apakah pembangunan itu berhasil atau tidak. Pembangunan yang baik idealnya mampu meningkatkan kesejahteraan sosial bagi masyarkatnya secara keseluruhan. Bukan malah menghasilkan jarak sosial yang menimbulkan berbagai segregasi dan pemisahan masyarkat ke dalam kelompok-kelompok sosial tertentu.

Namun, pembangunan yang terjadi di Jakarta jauh dari konsep ideal pembangunan berkelanjutan. Pembangunan yang dilakukan di Jakarta masih bersifat parsial yang hanya mementingkan aspek ekonomi. Kemajuan fisik dan materi menjadi tujuan utama dari pembangunan di Jakarta. Sementara itu, dimensi lingkungan dan sosial menjadi “anak tiri” dalam program pembangunan di Jakarta.

Sebenarnya, banjir yang kini menggenangi Jakarta merupakan akumulasi dari kegagalan pembangunan yang dilakukan di Jakarta. Dari aspek ekologi, sudah sangatlah jelas. Jakarta hingga saat ini tidak memiliki sistem drainase yang mampu mengelola siklus air sepanjang tahun. Daerah aliran sungai (DAS) yang seharusnya menjadi kawasan serapan air tidak difungsikan secara normal. Selain itu, keberadaan kawasan hijau dan waduk penampungan air sebagai stabilisator siklus air di Jakarta sangat minim.

Kondisi tersebut menjadikan Jakarta sebagai kawasan rawan bencana kekeringan dan banjir. Pada musim kemarau, air menjadi barang langka di Jakarta dan kekeringan menjadi hal yang lumrah terjadi. Sementara itu, pada musim penghujan, jumlah debit air yang menerjang Jakarta melonjak secara cepat. Akibatnya, seperti yang kita lihat seperti sekarang ini, banjir kembali menggenangi Jakarta.

Ketimpangan pembangunan dalam dimensi sosial juga memberikan pengaruh yang cukup signifikan penyebab terjadinya banjir di Jakarta. Pembangunan pesat yang dialami Jakarta menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat di berbagai penjuru tanah air untuk mencari peruntungan di Ibukota. Terlebih lagi, Daerah belum mampu memberikan kesejahteraan yang layak bagi masyarakanya. Walhasil, banyak kaum urban dari berbagai daerah di tanah air berbondong-bondong masuk dan memenuhi Jakarta.

Dengan kemampuan dan skill individu yang minim, membuat kaum urban ini tidak mampu bersaing dalam kegiatan ekonomi yang sangat terbuka di Jakarta. Akibatnya muncul segregasi sosial yang disebabkan perbedaan kemampuan ekonomi. Kondisi menjadi masalah akut yang terus dialami oleh masyarakat Jakarta. Sebuah ironi dari pembangunan pesat Jakarta.

Pemisahan masyarakat berdasarkan tingkat kemampuan ekonomi berdampak pada dikotomi horizontal yang tercermin pada pemisahan area permukiman dan kemunculan kawasan elite  Bagi masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi cukup mapan, area permukiman mereka terpusat pada pusat-pusat kota yang strategis. Ini dikarenakan mereka mampu menanggung beban ekonomi yang harus dikeluarkan sebagai konsekuensi logis atas hak yang telah mereka dapatkan untuk menempati kawasan tersebut.

Sedangkan, bagi masyarakat dengan kemampuan ekonomi yang kurang, dengan jumlah mayoritas dan umumnya kaum urban, mereka terpaksa untuk menyingkir dan tersebar ke wilayah kulit dan luar dari area permukiman yang telah disediakan oleh pemerintah daerah. Akhirnya, mereka menggunakan kawasan non-pemukiman sebagai kawasan tempat tinggalnya yang umumnya di DAS, kawasan penyerapan air, dan sebagainya.

Dari bencana banjir ini, seharusnya pemda Jakarta sebagai pembuat kebijakan pembangunan, seharusnya mampu merumuskan konsep pembangunan yang terpadu sesuai dengan karakteristik lingkungan hidup dan masyarkat Jakarta. Pembangunan Jakarta selayaknya tidak lagi terbatas pada tampilan fisik dan materi sebagai pencerminan aspek ekonomi. Tetapi menyeimbangkannya dengan aspek lingkungan hidup dan sosial.

Pembangunan berkelanjutan merupakan konsep kunci dalam menanggulangi bencana banjir sebagai akibat siklus air yang tidak normal di kawasan Jakarta. Diperlukan peninjauan kembali dan revisi atas program pembangunan kawasan Jakarta. Jika bencana ini tidak segera diantisipasi secara komprehensif, maka mungkin saja banjir pasti tak kan pernah berlalu dari Jakarta.

Written by hanumisme

June 24, 2009 at 11:12 am

Posted in masyarakat Madani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: