khuzaifah hanum

share to others

Zakat untuk UMK

leave a comment »

Zakat merupakan pilar rukun Islam yang memiliki kekhasan dibandingkan rukun yang lainnya. Keutamaan zakat adalah karakter sosialnya dalam konteks ibadah yang diwajibkan oleh Islam. Zakat bukan sekedar agenda peribadatan Islam yang transenden, namun memiliki peran mu’amalah yang melibatkan aspek-aspek sosial perekenomian. Zakat sebagai regulasi kesejahteraan sosial bagi masyarakat muslim.

Keberadaan zakat sebagai instrumen rukun Islam menjadi sebuah keutamaan tersendiri. Di sini, menunjukkan bahwa Islam memiliki sebuah resolusi atas sistem perekonomian yang khas. Islam bukan sekedar agama ritualisme yang mengatur dimensi spiritual semata. Melainkan, Islam memiliki sebuah model proaktif yang produktif dalam pembangunan kesejahteraan dan penanganan kemiskinan, yang berada dalam konsep zakat.

Secara eksplisit, Islam menentang adanya akumulasi harta kekayaan oleh kelompok tertentu dalam masyarakat, “supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (al-Hasyr [59]: 7). Bukan sekedar penentangan atas akumulasi harta, ayat tersebut juga menekankan adanya sebuah proses regulasi harta. Bahwa, peredaran harta sebagai modal dalam aktifitas perekonomian merupakan sebuah keniscayaan yang harus dilakukan.

Akumulasi harta ini dikhawatirkan akan menimbulkan kesenjangan antara kelompok kaya dan masyarakat miskin. Dan, hal inilah yang terjadi dalam realitas kontemporer. Di mana, para pemilik modal berupaya semaksimal mungkin mengakumulasikan modal mereka dan menjadi motif ekonomi yang mendasari aktifitas mereka di pasar. Modal dan harta tersebut menjadi senjata ekonomi untuk memperkaya diri. Akibatnya, masyarakat kelas menengah-bawah, yang tidak memiliki modal dan harta tersebut, menjadi golongan yang tertindas, dalam sistem kapitalis yang menghegemoni institusi ekonomi kontemporer.

Kelompok ekonom kapitalis kaya, pada saat ini, mendominasi posisi-posisi strategis dalam struktur ekonomi yang ada. Tidak terkecuali di Indonesia, struktur persebaran penguasaan modal dan kekayaan sangat timpang. Sebagian kecil kelompok elite menguasai mayoritas kekayaan dan kepemilikan modal. Sementara itu, mayoritas masyarakat kelas menengah-bawah, memperebutkan prosi kesejahteraan yang relatif miskin.

Secara empirik, minoritas pengusaha kaya menguasai sebagian besar aset-aset perekonomian nasional. Meskipun secara estimatif, kelompok ini memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi makro nasional, yang terlihat dengan peningkatan sejumlah angka-angka ekspor. Namun, secara riil, aktifitas ekonomi makro tersebut tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan kesejahteraan mayoritas masyarakat. Keuntungan ekonomi yang dihasilkan tidak mampu merembas ke lapisan bawah masyarakat di mana mayoritas penduduk Indonesia berada. Trickle down effect yang menjadi jargon perekonomian makro gagal. Pertumbuhan ekonomi terus berlanjut tanpa adanya perkembangan kesejahteraan masyarakat secara riil, sebuah distorsi pembangunan.

Mayoritas masyarakat yang tersingkir dari lingkaran utama perekonomian nasional ini, kemudian memilih dalam aktifitas-aktifitas ekonomi tingkat bahwa dalam usaha mikro dan kecil (UMK). Dengan segala keterbatasannya, terutama pada akses terhadap kepemilikan modal, pelaku UMK ini membangun perekonomian yang lebih riil. Justru, UMK inilah yang menjadi penyelamat perekonomian nasional, ketika krisis ekonomi terburuk melanda pada paruh akhir 1990-an. Di saat, usaha makro yang padat modal berguguran, maka UMK mampu menjadi buffer ekonomi yang menyerap sejumlah tenaga kerja yang terbuang dari sektor formal.

Sekalipun demikian, keberadaan UMK belum sepenuhnya mendapat perhatian penuh dari pemerintah. Baru dalam beberapa tahun terakhir ini saja, kemudian pemerintah memberikan fokus pada sektor mikro dan kecil ini, dengan sejumlah program pemberdayaan. Namun, langkah tersebut dirasakan belum optimal, karena anggaran program sangat bergantung pada proporsi belanja negara yang saling terkait dengan sektor lain. Sehingga, optimalisasi program pemberdayaan sektor mikro dan kecil ini belum maksimal.

Di sini, zakat memiliki potensi besar untuk mereduksi ketimpangan kepemilikan modal bagi UMK tersebut. Sebagai instrumen redistribusi kesejahteraan, zakat pada dasarnya merupakan mekanisme share harta di kalangan masyarakat. Memang selama ini, share kesejahteraan tersebut telah dijalankan dalam institusi zakat. Namun, agenda tersebut lebih banyak dirasakan dalam bentuk karitatif, yang justru menimbulkan ketergantungan mustahik (orang-orang yang berhak menerima zakat).

Sudah selayaknya, zakat ditransformasikan menjadi agenda redistribusi kesejahteraan masyarakat secara produktif. Salah satu resolusi yang memungkinkan adalah memaksimalkan dana zakat ini sebagai suntikan modal dalam pemberdayaan UMK. Pelaku UMK pada umumnya merupakan kelas masyarakat miskin, yang menjadi prioritas utama dari delapan asnaf penerima zakat. Di sini, implementasi pengelolaan zakat sedikit diubah. Jika sebelumnya dana zakat disalurkan langsung sebagai sarana konsumtif. Maka, dalam agenda ini, zakat dialokasikan secara produktif sebagai modal bagi UMK dalam pengembangan usahanya.

Untuk merealisasikan agenda tersebut, setidaknya diperlukan sejumlah agenda taktis yang saling terkait. Pertama, transparansi dan amil yang akuntabel. Salah satu kendala utama yang membuat belum optimalnya pengelolaan zakat sebagai sarana produktif peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah manajerial zakat yang tidak profesional. Akibatnya, banyak para muzakki (orang-orang wajib zakat) tidak membayarkan zakatnya kepada lembaga pengelola zakat. Sehingga, zakat yang terkumpul dalam lembaga cenderung sedikit. Dengan transparansi dan amil yang akuntabel. Diharapkan, tingkat pengumpuolan zakat dapat lebih maksimal.

Kedua, pencerdasan muzakki. Disadari bersama, bahwa para muzakki belum banyak memahami tentang hakikat penunaian zakat. Selama ini, zakat hanya dipahami sebatas zakat fitrah, sehingga potensi ketersediaan zakat maal, yang jumlahnya mayoritas belum tergarap. Di sinilah kemudian penting untuk mencerdaskan muzakki akan pemahamannya tentang zakat, sehingga dana zakat yang terkumpul dapat lebih maksimal. Ketiga, instrumen formal dari regulasi zakat yang mendukung. Peran pemerintah sebenarnya sangat sentral dalam pengelolaan zakat. Namun, hingga saat ini, pemerintah dirasakan belum optimal dalam menajalani perannya ini. Zakat sebenarnya bersifat penarikan, dan bukan hal karitis. Pemerintah berperan untuk menarik zakat. Langkah yang paling memungkinkan adalah dilakukannya regulasi tentang kewajiban zakat bagi muzakki.

Keempat, program pemberdayaan UMK terpadu. Dari dana zakat yang terkumpul, kemudian dialokasikan bagi tambahan modal kepada UMK. Modal UMK dari dana zakat ini dapat menjadi solusi yang lebih baik dibandingkan dengan regulasi modal dalam pinjaman konvensional. Karena, modal usaha dari dana zakat tidak ditujukan untuk menarik keuntungan dari dana yang digulirkan. Sehingga, pelaku UMK dapat lebih ringan dalam mengembangkan usahanya. Selain itu, tujuan program ini bukan sekedar menggulirkan modal, melainkan ditujukan pada pencetakan muzakki baru. Sehingga, bantuan program yang diberikan kepada UMK tidak sebatas modal finansial, namun dapat berbentuk pendampingan program hingga UMK tersebut mapan, sebagai muzakki baru.

Kelima, membentuk lembaga zakat yang fokus pada advokasi kebijakan publik dalam hal pemberdayaan UMK. Diakui atau tidak, keberadaan lembaga advokasi dalam ranah kontemporer menjadi sangat penting. Dengan keberadaan lembaga advokasi ini, maka kebijakan pemerintah akan dapat lebih terarahkan dan berpihak pada pemberdayaan UMK. Selama ini, sisi penting mengapa UMK tidak terberdayakan adalah karena belum adanya keberpihakan kebijakan pemerintah terhadap sektor mikro dan kecil ini. Karenanya, lembaga advokasi ini diharapkan dapat menjadi benteng pertahanan dalam menghadang rancangan dan kebijakan publik yang dirasakan tidak adil.

Written by hanumisme

June 10, 2009 at 9:52 am

Posted in masyarakat Madani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: