khuzaifah hanum

share to others

Dakwah Islam dan Tantangan Kontemporer

leave a comment »

Hakikat dakwah Islam pada dasarnya adalah menyerukan apa yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhkan semua yang dilarang-Nya. Masalah langkah teknis dan strategi dakwah itu sendiri sepenuhnya diserahkan bagi para da’i untuk ‘berijtihad’ dengan mempertimbangkan aspek-aspek kontemporer yang dihadapi oleh dakwah Islam itu sendiri. Secara sederhana, posisi peran da’i adalah berkontestasi dalam berbagai ranah yang ada untuk memenangkan dakwah Islam ini.

Hasan al-Banna dalam Risalah Pergerakan menulis bahwa hakikat dakwah karakter dakwah Islam adalah Rabbaniyah ‘Alamiyah. Dikatakan rabbaniyah karena hakikat dakwah Islam ini adalah memperkenalkan manusia kepada Rabbnya. Dimensi materi bukan menjadi orientasi utama dari dakwah Islam ini, melainkan sebuah ketunduk-patuhan kepada Allah SWT sebagai Rabb semesta alam. Namun, bukan berarti dakwah Islam menegasikan eksistensi materi. keberadaan materi hanyalah orientasi pengantara yang ditujukan sebagai sarana dalam membangun hubungan transendental yang mengikat manusia sebagai hamba kepada Allah tabaraka wa ta’ala.

Sementara itu, dikatakan ‘alamiyah karena dakwah Islam ditujukan bagi manusia secara keseluruhan. Dakwah Islam yang diwariskan oleh Nabi saw memiliki orientasi pada pembinaan manusia, tanpa memandang perbedaan-perbedaan fisik dan regional. Dakwah Islam tidak hanya dikhususkan bagi masyarakat lokal Arab di jazirah timur tengah. Namun, jauh dari batasan sempit tersebut. Dakwah Islam dikhususkan bagi seluruh masyarakat dunia, yang meliputi berbagai ras dan etnik, di berbagai penjuru dunia. Dengan pandangan ini, tidak ada alasan, terlebih tuduhan, bahwa dakwah Islam merupakan agenda rasial yang hanya ditujukan pada golongan tertentu dari umat manusia ini.

Karena ditujukan kepada manusia, maka dakwah Islam ini bukan ajaran normatif yang tidak dapat direalisasikan dalam kehidupan manusia. Konsep dakwah Islam bukanlah nilai ideal yang abstrak yang jauh dari realitas kemanusiaan. Dakwah Islam merupakan seruan yang realistis dan acheivable bagi manusia. Hal tersebut tampak telah dibuktikan di masa Nabi saw, yang mampu mengimplementasikan secara sempurna ajaran-ajaran rabbaniyah Islam dengan kapasitasnya sebagai manusia biasa. Di sini, dakwah Islam memiliki tujuan untuk membina manusia dengan karakter kemanusiaannya dalam panduan nilai-nilai ilahiyah. Konsep Rabbaniyah ‘Alamiyah inilah yang seharusnya menjadi basis gerakan dari dakwah Islam dalam menghadapi setiap tantangan di setiap masanya.

Barat: Dari ekstrim metafisik ke radikal rasional

Sejarah mencatat bahwa alur kehidupan peradaban manusia hingga saat ini merupakan sebuah dialektika, dan bahkan pertarungan, ideologi. Secara sederhana, setiap ideologi mencoba membangun hegemoni atas peradaban manusia di setiap masanya. Dan, gambaran itulah yang terjadi saat ini. Ideologi Barat dengan berbagai variasi praktikal-nya mampu menaklukkan peradaban dunia dan berada dalam genggamannya. Barat mencoba membangun hegemoni universal dengan basis pemikiran yang didasarkan pada konsepsi materialisme dan pandangan radikal rasional.

Dengan cukup mendetail, Adian Husaini mendeskripsikan bagaimana kemunculan peradaban Barat kontemporer dalam Wajah Peradaban Barat (2005). Barat kontemporer merupakan sebuah hasil pergumulan pemikiran yang terangkum dalam sebuah transformasi pemikiran dari pandangan ekstrim metafisik menjadi radikal rasional. Peradaban Barat lahir dari masa yang disebut sebagai ‘the Dark Ages’. Sebuah masa di mana dogma-dogma metafisik menghegemoni masyarakat Eropa dan nalar terkungkung oleh otoritas Gereja yang tak terbantahkan. Pemberontakan nalar, Rennaisance, pun tak terelakkan, dan Gereja hancur bersama sejarah kediktatorannya.

Gelombang Rennaisance dan pengalaman historis yang buruk tentang konsep metafisik, membuat peradaban baru tersebut berpandangan bahwa nalar adalah segalanya. Nalar diperlukan untuk sebuah kesadaran (consciousness), untuk menghancurkan dogma membelenggu yang tampak sebagai sebuah kebenaran (unconsciousness). Karenanya, kemudian peradaban baru ini bersandarkan sepenuhnya pada kekuatan nalar, yang kemudian mengarah pada radikalisasi rasio, menentang semua konsep di luar nalar. Pandangan radikal rasional inilah yang kemudian menjadi landasan peradaban yang dibangun oleh Barat.

Dampak terbesar dari rasional radikal ini adalah peradaban yang terbangun, sepenuhnya didasarkan pada asumsi-asumsi empirik yang hanya dapat ditangkap oleh indera manusia. Hakikat kebenaran hanya dapat diperoleh dari dialektika materi yang terukur secara objektif, bukan asumsi dogmatik yang hadir dari wahyu ilahiyah. Di sini, fokus peradaban Barat hanya ditujukan pada pembangunan fisik dalam dimensi materialisme. Dampaknya, masyarakat Barat tidak menerima sesuatu yang imateri. Karenanya, kemudian wajar jika dalam masyarakat Barat yang ideal, tidak terdapat kasih sayang dan kemanusiaan. Semua hubungan inter-relasi manusia sebatas pada pertukaran materi.

Efek domino yang juga hadir dari pemberontakan nalar tersebut adalah munculnya chauvinism dalam bentuk nasionalisme di berbagai negara-negara Eropa. Sebelumnya, dalam otoritas Gereja, Eropa dihimpun dalam kesatuan wilayah, Christendom. Setelah kedigdayaan Gereja runtuh, dan diperparah dengan paradigma materialisme yang tidak mengenal persamaan kemanusiaan. Yang ada hanya sentimen etnik yang kemudian menjadi cikal bakal nation-state di negara-negara Eropa modern. Setiap nation-state tersebut didasarkan pada persamaan fisik dan materi.

Islam: Antara Lokalitas dan Universalitas

Setiap peradaban memiliki batas usia dan kapasitasnya masing-masing. Dan, sunnatullah ini pun berlaku pada Daulah Islamiyah yang telah dirintis sejak hijrah kaum muslimin ke Negara Madinah. Kehancuran supra-state ummat Islam terakhir di Kesultanan Turki Utsmani tak terelakkan. Di samping faktor-faktor internal, namun eksistensi eksternal juga tidak seharusnya terlupakan. Dan, salah satu determinan kuat yang mengguncang tersebut adalah wacana nasionalisme chauvinism di Eropa. Persatuan ummat Islam yang universal tersebut kemudian terpecah belah berdasarkan sentimen etnis dan semangat lokal. Gelombang kehancuran tersebut berlanjut dengan hadirnya ekspansi imperialis Barat, yang kemudian banyak disadari sebagai rangkaian episode Perang Salib.

Dalam konteks institusi kekuasaan, kolonialisasi Barat atas wilayah Islam tidak hanya menghancurkan struktur fisik ummat, namun juga kapasitas kognitif dari pemikirannya. Banyak generasi Islam yang terpukau dengan pemikiran Barat dan terlepas ideologi Islamnya. Tidak sedikit ummat Islam yang terpaku pada lingkup sempit nasionalisme, dan melupakan universalitas yang dibawa Islam. Bahkan, tidak jarang, hadir sejumlah kalangan ‘intelektual muslim’ menghujat Islam sebagai keladi dari kemuduran kaum muslimin.

Seperti yang diutarakan Nabi saw, bahwa suatu saat nanti, ummat Islam bagaikan buih di samudera, besar namun tak berarti. Realitas itulah yang terjadi saat ini. Jumlah ummat Islam secara statistik dapat dikatakan besar, membentang dari kepulauan Mauritania di Pasifik hingga gugusan Nusantara, dan dari semenanjung Balkan hingga semenanjung Cape Town. Kekuatan besar tersebut tidak dapat terberdayakan secara optimal. Satu hal, ummat Islam terkungkung dalam paradigma lokalitas yang menegasikan kekuatan universalitasnya.

Meskipun demikian, Islam tidak menolak keberadaan karakteristik lokal tersebut. Islam memiliki paradigma khusus dalam memahami relasi aspek lokal dan universal ini. Bagi Islam, kekhasan lokal merupakan pilar-pilar bagi tegaknya universalitas Islam. Sebagai sebuah perkembangan pemikiran, Islam menghargai nasionalisme. Bahkan dalam sejarahnya, nasionalisme merupakan symbolic power dalam membebaskan negeri-negeri Islam dari belenggu imperialisme Barat. Kaum muslimin di berbagai penjuru dunia, bertanggung jawab untuk membebaskan negerinya dari berbagai bentuk penjajahan. Karena, pada dasarnya, Islam dan penjajahan merupakan paradoks.

Sejarah mencatat bahwa, mayoritas perjuangan kemerdekaan negara-negara di Asia-Afrika, di mana mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin, dilakukan oleh ummat Islam. Sumbangsih kaum muslimin dalam menegakkan nasionalisme di setiap wilayahnya tidak dapat diragukan. Namun, sering kali fakta tersebut terputar-balikkan oleh Barat, dalam berbagai symbolic violence dalam bentuk pemikiran-pemikiran kontemporer. Bahwa Islam merupakan musuh bagi nasionalisme, karena universalitas yang dibawanya. Dan, sayangnya, tidak jarang ummat Islam terpancing dalam hal ini.

Memang, Nabi saw tidak pernah mengajarkan dengna eksplisit definisi konseptual dari nasionalitas, lokalitas, dan universalitas Islam. Namun, secara substantif, Islam memerintahkan ketunduk-patuhan kepada Allah SWT, dengan berbagai turunannya. Di sini, makna nasionalitas hingga universalitas selayaknya dipahami sebagai sebuah rangkaian dakwah Islam di masa kontemporer. Penyikapan yang dilakukan bukan dengan membenturkan semua konsep kontemporer tersebut dengan ajaran Islam. Melainkan menjadikannya sebagai ranah pertarungan untuk memenangkan dakwah Islam, sebagaimana Nabi telah mencontohkan.

Dalam gerak dakwah Islam yang telah dilakukan, Nabi saw tidak pernah menegasikan perbedaan empirik yang ada dikalangan muslimin. Perbedaan-perbedaan fisik tersebut disatukan dengan persatuan iman. Hal ini terlihat bahwa di masa itu, terdapat golongan Muhajirin dan Anshar, yang dipersaudarakan, tidak dengan dihapuskan atribut identitasnya. Selain itu, Islam mengakui adanya golongan Arab dan Ajam. Semua perbedaan tersebut tetap ada, namun dipersatukan dalam ikatan iman, nasionalisme Islam. Setelah menyatukan iman dari kaum muslimin, maka Nabi saw, kemudian menggerakkan kekuatan persatuan tersebut dalam amal nyata secara bersama-sama, membangun peradaban dan masyarakat baru di Madinah.

Estafet kepemimpinan Nabi saw, kemudian bergulir. Abu Bakar ra dalam waktu singkat mampu menjaga integrasi nasional negara Madinah, yang kemudian dilanjutkan oleh Umar ra. Pada masa Umar ra ini, gerak universalitas Islam semakin kentara. Hakikat Islam bukanlah ajaran yang eksklusif coba direalisasikan lebih jauh pada masa kepemimpinan Umar ra ini. Islam mencoba disyi’arkan secara universal kepada seluruh masyarakat dunia. Hingga akhirnya, Islam kini tersebar hampir di seluruh penjuru bumi. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa dakwah Islam merupakan sebuah perjuangan sistematis yang berorientasi pada universalitas, namun tidak menegasikan aspek lokalitas. Nasionalisme tetap ada, namun bukan menjadi orientasi tunggal.

Nasionalisme Islam dan Indonesia Madani

Dalam konteks Indonesia, Islam tidaklah menentang keberadaan nasionalisme Indonesia. Deliar Noer (1982) mencatat bahwa pergerakan Islam lah yang lebih dahulu membuka jalan medan politik kemerdekaan di tanah air ini, yang mula-mula menanam bibit persatuan Indonesia yang menyingkirkan sifat kepulauan dan keprovinsian, yang mula-mula menanam persaudaraan dengan kaum yang sama senasib di luar batas etinistas dan kedaerahan dengan tali ke-Islam-an.

Mohammad Natsir (1951) menambahkan bahwa nasionalisme Indonesia kontemporer ini dapat hadir karena ikatan kebangsaan Islam, yang sebelumnya telah berhasil menyingkirkan sentimen perbedaan etnis dan kedaerahan tersebut. Modal historis tersebut seharusnya mampu menjadi kapasitas internal dari kalangan muslim untuk terus memperjuangkan Indonesia dengan nuansa Islam, bukan dengan menghujat nasionalisme yang telah ada.

Namun, perjuangan dakwah Islam di Indonesia juga tidak semestinya terpaku pada aspek ke-indonesia-an semata. Karakter universalitas Islam harus tetap ada, karena dakwah Islam bukanlah dakwah eksklusif yang hanya ditujukan bagi masyarakat Indonesia saja. Bukankah Nabi dan para sahabat juga mencontohkan bagaimana meng-internasional-kan dakwah Islam di masa mereka. Karenanya, dakwah Islam kontemporer tidak semestinya tersekat oleh lingkup lokal-regional.

Relasi lokal-regional-internasional tersebut dalam pandangan Hasan al-Banna merupakan tahapan perjuangan dakwah Islam kontemporer. Bukan sebagai sesuatu hal yang menyekat. Sebagaimana yang dilakukan Nabi saw, bahwa relasi tersebut merupakan fase perjuangan yang harus dilalui secara bertahap, yang pada dasarnya mencoba membangun kapasitas dan persatuan iman di setiap tatarannya. Mulai dari individu, yang berlanjut pada lingkup keluarga, masyarakat, kemudian negara, regional, dan seluruh dunia.

Perjuangan dakwah Islam di Indonesia merupakan sebuah tahapan perjuangan dakwah Islam itu sendiri. Setiap negara yang berpenduduk muslim, sudah selayaknya menegakkan Islam sebagai nilai dasar operasional dari institusi kekuasaan dan pemerintahannya. Ketika dakwah Islam menyentuh ranah lokal Indonesia, bukan berarti ajaran Islam dipotong-potong sesuai dengan ‘wadah Indonesia’. Sebaliknya, bahwa konsep Indonesia itulah yang semestinya dinuansakan oleh ajaran Islam.

Dakwah Islam di Indonesia tidak ditujukan untuk menciptakan Islam yang Indonesia, tapi sebaliknya, untuk membangun Indonesia yang Islam. Islam di sini menjadi kata sifat yang memberikan warna atas kata benda Indonesia, dan bukan sebaliknya. Begitu pun, terminologi Islam dalam Indonesia yang Islam, bukan secara kaku merujuk Islam yang Arab. Namun, rujukan istilah Islam tersebut didasarkan pada al-Qur’an dan as-Sunnah.

Membangun Indonesia yang Islam bukanlah copy and paste dari sejarah peradaban Islam yang telah lalu. Namun, proses tersebut merupakan upaya modifikasi instrumen masyarakat dan negara dalam menjalankan Islam secara kaffah. Posisi Islam dalam upaya tersebut diletakkan sebagai rambu-rambu universal dalam membangun institusi-institusi Islam dalam kehidupan kontemporer di berbagai ranahnya. Keberadaan institusi tersebut tidak lain ditujukan untuk membangun hubungan transenden antara manusia dengan Allah SWT.

Perlu di sadari, bahwa agenda dakwah Islam untuk membangun Indonesia yang Islam bukan menjadi orientasi akhir. Namun, langkah tersebut semestinya diproyeksikan sebagai salah satu upaya untuk membangun kembali eksistensi Islam di dunia, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi saw dan para sahabat ra. Membangun Indonesia yang Islam tidak dapat dilakukan dengan melupakan keberadaan masyarakat muslim di belahan dunia lainnya. Namun, tidak juga dengan melupakan tanggung jawab untuk membangun Indonesia itu sendiri.

Karenanya, dalam dakwah Islam, semestinya tidak muncul istilah Islam lokal ataupun Islam trans-nasional. Yang ada hanyalah Islam dengan variasi instrumennya di berbagai level tingkatan dakwah Islam tersebut. Di sini, menjadi peran da’i dengan ijtihadnya untuk memenangkan da’wah Islam tersebut di berbagai ranahnya. Di manapun ranahnya, tetaplah Islam pemenangnya. Sebagaimana pesan Nabi saw, Islam ya’lu wa la yu’la ‘alaih.

About these ads

Written by hanumisme

June 8, 2009 at 9:49 am

Posted in tentang Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: