khuzaifah hanum

share to others

Reinterpretasi Masyarakat Madani

with 3 comments

 

Permasalahan yang terus melanda ilmu-ilmu sosial hingga saat ini adalah ketidakmampuan menjelaskan apa dan bagaimana seharusnya tatanan ideal sebuah masyarakat. Civic Society, yang selama ini menjadi sebuah paradigma ideal mengenai masyarakat dalam diskursus para ahli di Barat, terus mengalami kebingungan dan distorsi konseptual ketika pemahaman itu harus diaplikasikan dalam aktifitas masyarakat riil. Walhasil, teori-teori yang dihasilkan oleh ilmu-ilmu sosial pasca Renaisans ini terbatas pada wacana yang tidak pernah membumi.

Namun, jauh empat belas abad yang lalu, telah berdiri sebuah masyarakat yang mampu melakukan lompatan besar peradaban dengan berdirinya sebuah komunitas yang bernama Masyarakat Madinah (Umari, 1999: 69). Transformasi radikal dalam kehidupan individual dan sosial mampu merombak secara total nilai, simbol, dan struktur masyarakat yang telah berakar kuat dengan membentuk sebuah tatanan baru yang berlandaskan pada persamaan dan persaudaraan. Bentuk masyarakat Madinah inilah, yang kemudian ditransliterasikan menjadi ‘Masyarakat Madani’, merupakan tipikal ideal mengenai kosepsi sebuah masyarakat.

Eksistensi masyarakat Madinah tidaklah serta merta terbentuk begitu saja, melainkan melalui sebuah proses panjang. Namun, lompatan besar yang berhasil dilakukan oleh masyarakat Madinah pada masa itu adalah sebuah proses panjang dari kemampuan mereka mengaplikasikan nilai dan simbol Islam secara bersamaan. Nilai Islam ini bersumber dari al-Qur’an dan perintah Nabi sebagai penjelasan nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai Islam sebagai dasar terbentuknya masyarakat merupakan buah sosialisasi nilai yang dilakukan Nabi dan sahabat selama tiga belas tahun di Makkah. Dengan demikian, saat proklamasi masyarakat Madinah, setiap individu tidak lagi mengalami kebingungan dengan apa dan bagaimana seharusnya mereka bertindak.

Simbol Islam menjadi penting dalam proses pembangunan masyarakat Madinah yang membedakan sebuah masyarakat baru ini dengan masyarakat jahiliyah yang ada di sekitarnya. Simbol Islam merupakan bentuk aktualisasi nilai-nilai Islam ke dalam konteks lingkungan sosial pada masa tersebut. Karenanya, keberadaan simbol-simbol Islam menjadi lekat dengan kewajiban individu muslim menjalankan syi’ar Islam. Sehingga, gaung Islam semakin menggema di dunia.

Sementara itu, Piagam Madinah menjadi sebuah konsepsi fenomenal dan sangat penting yang mampu mengabadikan masyarakat di Madinah sebagai sebuah masyarakat ideal yang melegenda sepanjang masa. Pada masa itu, nilai, simbol, dan struktur sosial masyarakat merupakan sebuah warisan dari para leluhur yang tidak boleh diganggu-gugat. Namun, Nabi dan masyarakat Madinah melakukan sebuah terobosan sejarah dengan membuat sebuah kontrak sosial di dalam masyarakat yang baru terbentuk tersebut. Dari Piagam Madinah inilah kemudian banyak pemikir di era Revolusi Perancis yang menandakan perubahan di masyarakat Eropa.

Rousseau dalam Social Contract-nya juga tidak lepas dari pengaruh Islam. Bahkan dia secara jelas menyebut: “Muhammad memiliki kekuatan besar yang mampu menjaga persatuan dalam sistem politik masyarakatnya, dan selama pemerintahannya mampu melahirkan kekhalifahan yang dapat mewarisi kesukesesannya, pemerintah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat, hal inilah yang membuat masyarakat muslim semakin berkembang.” (Azizi, 2000: 94). Piagam Madinah merupakan sebuah kontrak sosial yang pertama di dunia ketika setiap elemen masyarakat memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses pembentukannya sebagai elemen penting dalam politik masyarakat.

Kotrak sosial merupakan sebuah prasyarat mutlak dalam rangka pembentukan Masyarakat Madani. Keberadaannya merupakan sebuah proses inovatif yang memadukan antara nilai dasar Islam dengan kondisi situasional di setiap zaman. Mengambil istilah Marx, bahwa setiap periode memiliki mode of production yang berbeda-beda (Allan, 1951: 76). Hal serupa pun menjadi sebuah karakteristik umum pembentukan kontrak sosial dalam masyarakat Madani selanjutnya, yang mampu menyesuaikan dengan kondisi di mana nilai Islam dari teks suci al-Qur’an dan sunnah diinterpreatasikan berdasarkan konteks kehidupan masayarakat pada masanya.

Permasalahan yang terjadi saat ini adalah ketidakmampuan kaum muslimin menjalankan nilai dan simbol Islam secara bersamaan yang saling berkaitan erat. Individu dan masyarakat muslim seakan tertarik pada dua kutub ekstrim antara nilai atau simbol keagamaan yang terbawa oleh peradaban di luar Islam. Pada satu sisi, nilai keagamaan, mendominasi masyarakat dengan cengraman yang sangat kuat. Akibatnya, setiap individu muslim dalam masyarakat mengkultuskan nilai-nilai Islam sebagai sesuatu yang sangat sakral. Kondisi tersebut menjadikan masyarakat jauh dari realitas sosialnya yang berdampak pada terkucilnya Islam pada sudut-sudut masjid atau ‘goa-goa yang jauh dari peradaban’. Mereka tidak mampu menciptakan sebuah produk nilai Islam yang terintegrasi dengan konteks sosial masyarakat.

Pada sisi lain, simbol-simbol Islam, yang merupakan warisan masyarakat muslim terdahulu, menghegemoni dengan kuat setiap pemikiran individu muslim. Masyarakat muslim menjadi sarat dengan simbol-simbol Islam, namun mereka tidak memiliki pemahaman yang memadai apa, mengapa, dan bagaimana simbol itu ada. Akibatnya, simbol tersebut sekedar menjadi sebuah baju yang membedakan masyarakat muslim dengan yang lain secara fisik. Sementara, tidak ada perbedaan nyata dan kebermanfaatan antara ada atau tidaknya masyarakat muslim.

Pemahaman Piagam Madinah sebagai sebuah konstruksi sosial yang bersifat temporal pada masa terdahulu menjadi penting. Pemahaman tersebut tentunya akan membuka sebuah dialektika yang berkelanjutan antara nilai Islam dari teks suci al-Qur’an dan simbol Islam yang merupakan produk konteks sosial masyarakat di setiap era. Proses inilah yang mampu membawa lompatan besar peradaban pada masyarakat awal di Madinah. Mereka tidak hanya mampu meninternalisasikan nilai Islam sebagai identitas pribadi, namun juga mampu menggunakan nilai tersebut sebagai sebuah paradigma praktis untuk memandang, memahami, dan bertindak dalam setiap kondisi sosial yang terjadi dalam fungsinya sebagai elemen komunal dalam masyarakat.

Namun, banyak pemikir masyarakat Islam saat ini yang terpaku pada analisa tekstual dari simbol-simbol yang merupakan produk masyarakat Madinah empat belas abad yang lalu. Akibatnya, perencanaan mengenai konsep masyarakat madani merupakan sebuah proses cetak-mati dari kebudayaan yang telah luput empat belas abad yang lalu. Karenanya, diperlukan sebuah interpretasi ulang terhadap pemahaman masyarakat madani yang merupakan ‘anak kandung’ dari konsepsi Islam tentang masyarakat ideal. Masyarakat madani sesungguhnya merupakan sebuah proses yang dialektis antara teks Islam dan konteks sosial masyarakat. Dengan demikian, konsepsi Islam dan masyarakat madani tidak menjadi sebuah paradigma utopis yang usang termakan zaman.

 

Written by hanumisme

May 27, 2007 at 3:39 am

Posted in masyarakat Madani

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. What? Sepi beuth, Pak! hehe
    Terkait dengan tulisannya, hmmm…Kalimat terakhir itu yang perlu direalisasikan karena selama ini kita selalu terjebak pada paradigma bahwa masyarakat madani hanya utopis belaka. Belum ada sebuah perencanaan yang make sense can prove that Islam is more than a faith!
    Someday… it will be proved! Islam will be the winner (thats Allah’s promise). But who will fight for it, is the question that we have to answer!
    US!! IT’S US!!! (dont read it separated: “U and S” hehe)

    2664

    June 26, 2009 at 4:45 pm

  2. Haloowww…
    Yaa Ampuuun, bahkan postingan tahun 2007 yaahhh!! Kemana aja tho, Pak?

    Semangat2! Di tunggu tulisan2 “master piece” nya..

    Ang

    August 6, 2009 at 4:50 pm

  3. master piece? skripsinya kak hanum gitu?? hee…

    iya ni, semangat mengepos (kalo nulis kayaknya dah sering…) tulisan2 pembangun peradaban Prof! ^^

    ronakhatulistiwa

    August 7, 2009 at 10:41 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: