<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>khuzaifah hanum</title>
	<atom:link href="http://hanumisme.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hanumisme.wordpress.com</link>
	<description>share to others</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 May 2011 07:40:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hanumisme.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/e649df74fd4ac4f3d52575f33eb2d7f6?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>khuzaifah hanum</title>
		<link>http://hanumisme.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hanumisme.wordpress.com/osd.xml" title="khuzaifah hanum" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hanumisme.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Refleksi Uhud</title>
		<link>http://hanumisme.wordpress.com/2011/05/10/refleksi-uhud/</link>
		<comments>http://hanumisme.wordpress.com/2011/05/10/refleksi-uhud/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 May 2011 02:24:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanumisme</dc:creator>
				<category><![CDATA[masyarakat Madani]]></category>
		<category><![CDATA[tentang Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanumisme.wordpress.com/?p=591</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu fragmen dalam sejarah dalam kehidupan Rasulullah SAW (Sirah Nabawiyah) yang begitu dikenang oleh ummat Islam. Dalam lembar sejarah tersebut, tidak kurang 70 sahabat penghafal al-Qur’an syahid disaksikan para malaikat. Tidak hanya itu, di medan Uhud, hembusan fitnah akan kematian rasulullah begitu dekat di telinga para sahabat. Perang Uhud terjadi pada tanggal 15 Syawal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=591&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada satu fragmen dalam sejarah dalam kehidupan Rasulullah SAW (Sirah Nabawiyah) yang begitu dikenang oleh ummat Islam. Dalam lembar sejarah tersebut, tidak kurang 70 sahabat penghafal al-Qur’an syahid disaksikan para malaikat. Tidak hanya itu, di medan Uhud, hembusan fitnah akan kematian rasulullah begitu dekat di telinga para sahabat.</p>
<p><span id="more-591"></span>Perang Uhud terjadi pada tanggal 15 Syawal 3 H di Bukit Uhud. Perang ini terjadi 13 bulan setelah perang Badar (17 Ramadhan 2 H). Tulisan ini tidak bermaksud mengurai kisah penyebab dan detail peristiwa berlangsungnya perang tersebut. Namun lebih melihat bagaimana sikap Nabi SAW dan kaum muslimin dalam menangani krisis Uhud tersebut.</p>
<p>Seperti yang telah banyak diketahui, Bukit Uhud menjadi saksi kekalahan kekalahan barisan kaum muslimin dari pasukan musyrikin Makkah di bawah komando Khalid bin Walid. Para mujahidin pun kocar-kacir dan berhimpun kembali di perbatasan Madinah dengan kekuatan seadanya. Sementara, kaum musyrik Makkah berpesta pora merayakan kemenangannya di kamp Uhud.</p>
<p>Rasulullah SAW dengan kapasitas kepemimpinannya tidak membiarkan kekuatan mujahidin tenggelam dalam duka dan isu-isu yang terus menggulir dan membesar tentang kekalahan kaum muslimin. Menjelang subuh, Rasulullah SAW menghimpun para sahabat yang sebelumnya menghadiri kekalahan di Uhud.</p>
<p>Dengan membawa obor-obor besar, para mujahidin kembali menuju medan Uhud di sepertiga malam tersebut. Dari kejauhan di bukit Uhud, pasukan musyrikin Makkah melihat seakan ada serombongan pasukan besar dari arah Madinah menuju Uhud. Dalam kondisi yang lelah setelah perang dan lengah setelah pesta kemenangan, tanpa komando, pasukan musyrikin lari tunggang langgang meninggalkan Uhud untuk menyelamatkan diri dan rampasan perang kembali menuju Makkah.</p>
<p>Dari kisah tersebut, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita semua bagaimana memutarbalikkan krisis menjadi sebuah supremasi. Rasulullah menyadari betul, bahwa setelah kekalahan di Uhud, seluruh mental juang para sahabat mengalami krisis yang luar biasa, belum lagi hembusan fitnah yang melumpuhkan semangat dan nalar para mujahidin, serta kerugian fisik, luka-luka, serta kematian para sahabat yang tidak sedikit.</p>
<p>Namun, Rasulullah SAW berkeinginan untuk membangun kembali semangat jihad para sahabat dengan menyerang kembali bukit Uhud pada saat menjelang subuh. Bukan dengan serangan yang diam-diam, tapi dengan menampakkan kebesaran diri melalui obor-obor raksasa. Dan hasilnya, pasukan musyrikin Makkah yang di siang harinya meraih kemenangan, justru lari dengan rasa takut yang luar biasa.</p>
<p>Langkah kecil yang dilakukan, namun memiliki efek yang luar biasa besar. Bisa dibayangkan, apabila Rasulullah SAW dan para sahabat tidak berinisiatif menegakkan supremasi masyarakat muslim pada waktu itu. Pasukan musyrik Makkah dipastikan mengejar sisa-sisa para mujahidin beserta Rasulullah SAW, dan bukan tidak mungkin Madinah yang tanpa pertahanan akan dibumihanguskan oleh pasukan musyrik Makkah. Dan, kisah sejarah Islam pun berakhir tragis.</p>
<p>Dua langkah yang berbeda memiliki hasil yang sangat berbeda. Di sinilah Nabi SAW dan para sahabat mengajarkan kepada kaum muslimin, bahwa dalam kondisi krisis, tidak seharusnya kita menyerah dan pasrah oleh keadaan. Tapi sebaliknya, sudah seharusnya kita mampu mengolah kondisi krisis untuk menjadi peluang dalam menegakkan supremasi kita.</p>
<p>Kita memang tidak diwajibkan untuk menciptakan akhir kisah, tapi kita dituntut untuk menciptakan amal terbaik (<em>ahsanu amala</em>) dalam setiap momen kehidupan kita, baik dalam kondisi normal, dan juga dalam kondisi krisis. Karena, kita yakin bahwa Allah SWT menyaksikan kerja-kerja kita semua.</p>
<p>Ketika kerja dipenuhi dengan niat yang ikhlas dan semangat yang sungguh-sungguh menjalankan sunnatullah kemenangan, bukan tidak mungkin Allah SWT akan ridha dengan perjuangan kita. Dan, pada saat itulah pertolongan Allah SWT datang.</p>
<p>Kondisi Uhud inilah yang tengah menimpa Bangsa Indonesia. Saat ini, bangsa kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang tangguh. Pemimpin yang bukan sekedar mampu membangun peradaban bangsa dalam kondisi yang normal. Tapi, pemimpin yang mampu menanggulangi krisis menjadi supremasi, untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanumisme.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanumisme.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanumisme.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanumisme.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanumisme.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanumisme.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanumisme.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanumisme.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanumisme.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanumisme.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanumisme.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanumisme.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanumisme.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanumisme.wordpress.com/591/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=591&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanumisme.wordpress.com/2011/05/10/refleksi-uhud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b9a62815d49ead98418f2b072d8d6f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hudzaifahh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anatomi Gerakan Islam di Indonesia</title>
		<link>http://hanumisme.wordpress.com/2011/03/23/anatomi-gerakan-islam-di-indonesia/</link>
		<comments>http://hanumisme.wordpress.com/2011/03/23/anatomi-gerakan-islam-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Mar 2011 04:39:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanumisme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia ku]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat Madani]]></category>
		<category><![CDATA[tentang Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanumisme.wordpress.com/?p=585</guid>
		<description><![CDATA[Kegagalan dalam mengkomunikasikan perbedan merupakan problem mendasar yang kerap kali melanda, bahkan meremukkan gerakan Islam di mana pun, tidak terkecuali di Indonesia. Problem ini merupakan sebuah keniscayaan yang pasti ada di setiap masa, bahkan sejak masa Nabi saw. Perbedaan yang tidak mampu dikomunikasikan dengan baik tidak hanya berdampak pada perpecahan, namun juga berunjung pertikaian hingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=585&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kegagalan dalam mengkomunikasikan perbedan merupakan problem mendasar yang kerap kali melanda, bahkan meremukkan gerakan Islam di mana pun, tidak terkecuali di Indonesia. Problem ini merupakan sebuah keniscayaan yang pasti ada di setiap masa, bahkan sejak masa Nabi <em>saw</em>. Perbedaan yang tidak mampu dikomunikasikan dengan baik tidak hanya berdampak pada perpecahan, namun juga berunjung pertikaian hingga peperangan antar kelompok dari gerakan Islam.</p>
<p><span id="more-585"></span>Perang Shiffin telah menjadi contoh bagaimana sebuah perpecahan yang sedemikian kronis, hingga berujung pada peperangan antara sahabat-sahabat <em>ra</em>. Perbedaan pendapat tidak mampu dikelola dengan baik hingga tumpah dalam medan peperangan. Meski pun demikian, pasca perang Shiffin, konflik tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan tidak terwariskan turun temurun.</p>
<p>Di era kontemporer, para orientalis sangat jeli melihat titik lemah gerakan Islam ini. Karenanya, dengan dalih akademik, mereka membuat klasifikasi-klasifikasi terhadap kelompok Islam. Gerakan Islam disekat-sekat dalam ruang antara kelompok fundamental dan liberal, sebagaimana banyak disinggung dalam tinjauan sosiologi konvensional. Sebuah kategorisasi yang sebenarnya tidak perlu dan tidak benar.</p>
<p>Dalam terminologi Islam, tidak ada pembedaan semacam itu. Kategorisasi gerakan dalam konsep Islam yakni gerakan Islam (kelompok <em>mu’minuun</em>) dan gerakan non-Islam (seperti kelompok <em>musyrikuun</em>, <em>faasiquun</em>, <em>munafiquun</em>, dan lainnya). Kelompok <em>mu’minuun</em> adalah kelompok yang meyakini Islam sebagai asas yang paling benar, dan tidak ada keselamatan (akhirat) di luar Islam. Karenanya, kelompok ini senantiasa memperjuangkan Islam sesuai dengan arahan Nabi <em>saw</em>.</p>
<p>Lantas, bagaimana dengan gerakan Islam liberal yang sedang marak dewasa ini? Maka, tentu saja, kelompok liberal tersebut bukan bagian dari gerakan Islam. Karena mereka tidak memiliki orientasi yang benar terhadap Islam dalam berkehidupan di dunia maupun di akhirat (pasca-dunia).</p>
<p>Adapun, dalam konteks Indonesia, terdapat gerakan Islam yang beragam. Keragaman ini hadir karena perbedaan pandangan dalam hal metodologi dan strategi perjuangan, bukan dalam hal yang <em>ushul</em>, terkait masalah keyakinan. Secara umum peta gerakan dapat dilihat dalam bagan dibawah ini.</p>
<p><a href="http://hanumisme.files.wordpress.com/2011/03/bagan.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-586" title="bagan" src="http://hanumisme.files.wordpress.com/2011/03/bagan.jpg?w=700" alt=""   /></a></p>
<p>Problem klasik yang masih menimpa gerakan Islam saat ini adalah kegagalan dalam membangun komunikasi antar elemen gerakan. Semisal saat ini, yang sangat ekstrim, sangat sulit bagi kalangan Salafi berkompromi dengan kaum NU yang bernuansa kultural. Dalam dunia politik, PKS yang disokong oleh gerakan Tarbiyah, masih belum mampu berkomunikasi secara efektif dengan kalangan Muhammadiyah maupun NU. DDII yang dahulu diharapkan mampu menghimpun gerakan Islam sebagaimana dicitakan sebagai manifestasi Masyumi, ternyata kandas ditinggal gerakan-gerakan Islam lainnya. Belum lagi perbedaan metodologi dan strategi perjuangan antara PKS dan HTI yang tidak juga terselesaikan.</p>
<p>Perbedaan pada hakikatnya adalah sebuah kewajaran. Namun, ketika perbedaan tersebut memicu pertikaian, maka perbedaan tersebut tidak lagi menjadi sebuah kewajaran. Karenanya, dalam konsep Islam, sudah sepatutnya dalam perbedaan tersebut, setiap elemen gerakan Islam dapat saling menasehati. Saling menasehati di sini tentunya didasarkan pada kejujuran serta niat yang ikhlash dan adab yang benar tentunya.</p>
<p>Untuk ke depan, pekerjaan rumah gerakan Islam masih cukup berat untuk membangun soliditas gerakan. Dua langkah yang mendukung hal ini adalah menjalin silaturahim antar sesama gerakan Islam dan menentukan ‘musuh bersama’. Sehingga energi gerakan tidak terbuang sia-sia hanya untuk menyelesaikan friksi internal yang tak jua kunjung padam.</p>
<p>Terakhir, sudah sepatunya setiap gerakan Islam menyiapkan masyarakat yang akan menopang kebangkitan. Ada dua karakter masyarakat yang bangkit. <em>Pertama</em>, masyarakat yang memiliki tradisi ilmu. <em>Kedua</em>, masyarakat yang mencintai pengorbanan, di mana ikatan sosial jauh lebih diutamakan dari egoisme personal.<em> </em>Ini telah dicontohkan hampir oleh semua peradaban. Masyarakat Madinah di masa Nabi <em>saw</em>, atau pun masyarakat Eropa di <em>pre-renaissance</em>, masyarakat Jepang di masa Restorasi Meiji maupun pasca Perang Pasifik, dan masyarakat peradaban lainnya. [khh]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*) Tulisan ini merupakan catatan diskusi #10 Komunitas LENTERA20, bersama Dr. Adian Husaini</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanumisme.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanumisme.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanumisme.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanumisme.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanumisme.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanumisme.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanumisme.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanumisme.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanumisme.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanumisme.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanumisme.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanumisme.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanumisme.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanumisme.wordpress.com/585/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=585&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanumisme.wordpress.com/2011/03/23/anatomi-gerakan-islam-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b9a62815d49ead98418f2b072d8d6f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hudzaifahh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanumisme.files.wordpress.com/2011/03/bagan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bagan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masa dan Konsistensi Amal</title>
		<link>http://hanumisme.wordpress.com/2011/03/16/masa-dan-konsistensi-amal/</link>
		<comments>http://hanumisme.wordpress.com/2011/03/16/masa-dan-konsistensi-amal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 02:56:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanumisme</dc:creator>
				<category><![CDATA[tentang Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanumisme.wordpress.com/?p=580</guid>
		<description><![CDATA[Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-Ashr [103]: 1-3) Imam Syafi’I radhiyallahu anhu pernah berkata, “Sekiranya Allah tidak menurunkan al-Qur’an secara keseluruhan, niscaya surah al-Ashr tersebut sudah cukup bagi manusia”. Bukan tanpa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=580&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.</em></p>
<p>(Q.S. Al-Ashr [103]: 1-3)</p></blockquote>
<p><span id="more-580"></span>Imam Syafi’I <em>radhiyallahu anhu</em> pernah berkata, “<em>Sekiranya Allah tidak menurunkan al-Qur’an secara keseluruhan, niscaya surah al-Ashr tersebut sudah cukup bagi manusia</em>”. Bukan tanpa alasan Imam Syafi’i mengutarakan hal tersebut. Bagi sang imam, surah <em>makiyyah </em>ini dirasa sudah mewakili dan mencakup seluruh hikmah yang terkandung dalam al-Qur’an, tentang sebuah jalan keselamatan.</p>
<p>Adalah sebuah kepastian bahwa al-Qur’an merupakan kitab yang memuat tentang peringatan dan kabar gembira. Begitupun dalam surah ini, Allah <em>Subhanallahu Wa Ta’ala</em> memberikan sebuah peringatan yang keras bagi setiap manusia, bahwa setiap manusia tanpa terkecuali senantiasa berada dalam kondisi yang merugi.</p>
<p>Namun, Allah Maha Adil. Karena, justifikasi atas kondisi merugi di sini bagi manusia bukan tanpa arahan jalan keselamatan. Dalam kelanjutan ayat berikutnya, Allah Yang Maha Rahiim mensyaratkan bahwa ada empat fase jalan keselamatan bagi setiap manusia yang harus ditempuh.</p>
<p><em>Pertama</em>, keselamatan ada bagi orang-orang yang beriman. Di sini, beriman dimaknai sebagai beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, beriman kepada kitab-kitab-Nya, beriman kepada para nabi dan rasul-Nya, beriman kepada hari akhir, serta beriman kepada <em>qada’ </em>dan <em>qadar </em>Allah atas manusia. Di luar keimanan ini, tidak ada jalan keselamatan.</p>
<p><em>Kedua</em>, keimanan seseorang ternyata bukan menjadi syarat tunggal bagi keselamatan manusia. Keimanan tersebut menuntut sebuah amal shalih sebagai sebuah pembuktiannya. Amal shalih merupakan indikator sesungguhnya dari keimanan. Iman dan amal merupakan dua hal yang saling berkaitan dan tak terpisahkan. Seseorang yang beriman tanpa beramal shalih, jadilah ia dalam golongan kaum <em>maghdub</em>. Sementara itu, suatu amal tanpa keimanan, sekalipun sangat banyak menggunung, maka jadilah amal-amal tersebut seperti anai-anai yang beterbangan, sia-sia.</p>
<p>Keimanan dan amal shalih ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan manusia dari kerugian, kecuali diikuti dengan syarat yang ketiga, yakni “<em>nasihat menasehati dalam kebenaran</em>”. Dalam bahasa yang lebih spesifik, implementasi dari makna nasihat menasehati dalam kebenaran ini adalah berdakwah, menyebarkan kebenaran kepada orang-orang di sekitar melalui proses nasihat menasihati yang baik. Dakwah merupakan bagian peran yang tidak terlepaskan dari setiap orang-orang yang beriman.</p>
<p>Kewajiban untuk menyebarkan kebenaran ini berlaku baik dalam dakwah yang menyerukan kebaikan (<em>amar ma’ruf</em>), maupun dalam dakwah yang mencegah kerusakan (<em>nahi munkar</em>). Karena, prinsip hidup seorang mu’min adalah menyebarkan kebenaran walau hanya satu ayat. Setiap mu’min harus mampu memimpin lingkungannya untuk taat kepada Allah SWT. Sebagaimana amanah Rasulullah, “<em>perbaikilah lingkungan mu dengan tangan mu; dan jika tidak bisa, perbaikilah dengan lidah mu; dan jika tidak bisa, perbaikilah dengan hati mu; dan itu adalah selemah-lemahnya iman</em>”.</p>
<p>Namun, dakwah, amal shalih, dan keimanan, belum menjamin keselamatan bagi manusia ketika tidak menjalankan syarat yang keempat yakni “<em>nasihat menasihati dalam kesabaran</em>” atau dalam bahasa yang lebih lugas &#8216;konsisten&#8217;. Poin yang keempat ini mengingatkan kita akan sebuah hadist Nabi, bahwa keimanan itu sangat fluktuatif. Bisa jadi seseorang beriman di pagi hari, namun ingkar di sore hari. Dan, bisa jadi seseorang beriman di sore hari, namun ingkar di pagi harinya.</p>
<p>Karenanya, konsistensi baik dalam dakwah, amal shalih, dan keimanan menjadi sebuah prasyarat mutlak untuk sebuah keselamatan di dunia dan di akhirat. Keimanan, amal shalih, bahkan dakwah yang temporer tidak menjamin manusia. Di sinilah kemudian makna waktu yang diambil sebagai awal dari peringatan bagi manusia. Bahwa, setiap kadar kebajikan yang dibuat oleh manusia, hanya akan dapat terbukti setelah melewati ujian masa. Pembuktian tersebut hadir dalam bentuk konsistensi. Tentunya konsistensi dalam keimanan, beramal shalih, dan berdakwah.</p>
<p>Dalam kesimpulan ini, masa menjadi variabel yang menentukan dari setiap amal perbuatan. Inilah yang sudah seharusnya hadir tidak hanya dalam alam sadar, namun sejak alam bawah sadar setiap orang yang menyatakan dirinya sebagai seorang muslim. Bahwa, setiap amal kita tidak akan berarti apa-apa jika gagal melewati ujian masa, bagaimana menjadi manusia-manusia yang senantiasa menyebar kebajikan dari awal hingga akhir. Bukan sekedar semangat kebaikan di awal, namun luntur di akhir. Memiliki konsistensi yang kontinyu dalam menyebarkan kebaikan sebagaimana telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul, serta para ulama yang mewarisi mereka.</p>
<p>Konsisten untuk keimanan, beramal shalih, dan berdakwah memperbaiki masyarakat merupakan prinsip hidup yang harus terjaga dalam diri setiap muslim. Konsisten untuk membangun Islam yang <em>rahmatan lil ‘alamiin</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanumisme.wordpress.com/580/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanumisme.wordpress.com/580/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanumisme.wordpress.com/580/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanumisme.wordpress.com/580/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanumisme.wordpress.com/580/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanumisme.wordpress.com/580/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanumisme.wordpress.com/580/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanumisme.wordpress.com/580/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanumisme.wordpress.com/580/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanumisme.wordpress.com/580/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanumisme.wordpress.com/580/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanumisme.wordpress.com/580/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanumisme.wordpress.com/580/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanumisme.wordpress.com/580/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=580&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanumisme.wordpress.com/2011/03/16/masa-dan-konsistensi-amal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b9a62815d49ead98418f2b072d8d6f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hudzaifahh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paradoks Pluralisme</title>
		<link>http://hanumisme.wordpress.com/2011/02/18/paradoks-pluralisme/</link>
		<comments>http://hanumisme.wordpress.com/2011/02/18/paradoks-pluralisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2011 07:52:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanumisme</dc:creator>
				<category><![CDATA[jejak hari]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanumisme.wordpress.com/?p=578</guid>
		<description><![CDATA[Mereka berkata tentang indahnya dunia yang penuh harmoni Dunia yang tiada lagi sekat-sekat primordial keagamaan Dunia yang tidak lagi terhimpit oleh aturan-aturan tradisi Dunia yang tidak lagi membeda-bedakan keyakinan &#160; Mereka berkata tentang indahnya kehidupan yang damai Kehidupan tanpa kekerasan atas nama agama Kehidupan tanpa konflik berbasis ideologi Kehidupan tanpa prasangka atas perbedaan nilai &#160; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=578&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Mereka berkata tentang indahnya dunia yang penuh harmoni</p>
<p>Dunia yang tiada lagi sekat-sekat primordial keagamaan</p>
<p>Dunia yang tidak lagi terhimpit oleh aturan-aturan tradisi</p>
<p>Dunia yang tidak lagi membeda-bedakan keyakinan<span id="more-578"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mereka berkata tentang indahnya kehidupan yang damai</p>
<p>Kehidupan tanpa kekerasan atas nama agama</p>
<p>Kehidupan tanpa konflik berbasis ideologi</p>
<p>Kehidupan tanpa prasangka atas perbedaan nilai</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mereka berkata tentang indahnya alam yang satu</p>
<p>Alam ketika manusia menyatukan semua keimanan yang berbeda</p>
<p>Tidak ada lagi sekterian agama</p>
<p>Yang ada hanya keyakinan bersama</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tapi lihat apa yang mereka perbuat</p>
<p>Mereka mengutuk manusia yang meyakini keesaan Tuhannya</p>
<p>Mereka menghujat hamba yang ingin khusyu’ dalam ibadahnya</p>
<p>Mereka mencerca setiap orang yang membela agamanya karena dinista</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengki,</p>
<p>Karena masih ada engkau yang berbeda dengan mereka</p>
<p>Karena masih ada engkau yang meyakini satu keyakinan saja</p>
<p>Karena masih ada engkau yang mengagungkan Tuhan,</p>
<p>Yang bukan rekayasa mereka</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adalah salah, ketika engkau meyakini keimanan yang tunggal</p>
<p>Itu dianggap tidak universal</p>
<p>Adalah salah, ketika engkau menggenggam iman dalam keseharian</p>
<p>Itu dianggap primordial</p>
<p>Adalah salah, ketika engkau mengkhususkan ibadah untuk satu Tuhan</p>
<p>Itu dianggap tidak toleran</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salah ketika engkau mengkhususkan diri dan meyakini,</p>
<p>Untuk mu agama mu, dan untuk mereka agama mereka</p>
<p>Salah ketika engkau tidak mengikuti ibadah orang lain, yang berbeda dengan engkau</p>
<p>Salah karena engkau kaku dalam berkeyakinan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Karenanya,</p>
<p>Engkau dianggap sebagai makhluk yang keras kepala</p>
<p>Engkau dicap sebagai makhluk yang sok suci</p>
<p>Engkau dihina sebagai makhluk yang tidak plural</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebajikan yang diserukan, kedengkian yang disebarkan</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanumisme.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanumisme.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanumisme.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanumisme.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanumisme.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanumisme.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanumisme.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanumisme.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanumisme.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanumisme.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanumisme.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanumisme.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanumisme.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanumisme.wordpress.com/578/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=578&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanumisme.wordpress.com/2011/02/18/paradoks-pluralisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b9a62815d49ead98418f2b072d8d6f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hudzaifahh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua Episode Cinta</title>
		<link>http://hanumisme.wordpress.com/2011/02/14/dua-episode-cinta/</link>
		<comments>http://hanumisme.wordpress.com/2011/02/14/dua-episode-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 10:01:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanumisme</dc:creator>
				<category><![CDATA[jejak hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanumisme.wordpress.com/?p=574</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah atsar dari Ali ibn Abi Thalib r.a., ia mengatakan bahwa cinta itu memiliki dua episode. Yang pertama adalah pengorbanan, dan yang kedua adalah keberanian. Meskipun saya tidak begitu mengetahui lebih jauh tentang periwayatan atsar tersebut, tapi sepertinya matan yang disampaikan cukup bagus. Ingin saya berbagi, dengan bahasa pemaparan saya sendiri.. Yang pertama adalah pengorbanan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=574&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hanumisme.files.wordpress.com/2011/02/cinta.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-575 alignleft" title="cinta.." src="http://hanumisme.files.wordpress.com/2011/02/cinta.jpg?w=150&#038;h=114" alt="" width="150" height="114" /></a>Sebuah <em>atsar</em> dari Ali ibn Abi Thalib r.a., ia mengatakan bahwa cinta itu memiliki dua episode. Yang pertama adalah pengorbanan, dan yang kedua adalah keberanian. Meskipun saya tidak begitu mengetahui lebih jauh tentang periwayatan <em>atsar </em>tersebut, tapi sepertinya <em>matan</em> yang disampaikan cukup bagus.</p>
<p>Ingin saya berbagi, dengan bahasa pemaparan saya sendiri..</p>
<p><span id="more-574"></span>Yang pertama adalah pengorbanan. Episode ini mengambil <em>setting</em> waktu di saat kita belum bisa memenuhi panggilan cinta, dan &#8216;merayakan&#8217;nya. Adalah di saat ketika kita belum siap dan belum mampu menikah. Dalam kondisi ini, episode cinta setiap anak manusia adalah pengorbanan. Pengorbanan untuk membatasi angan-angan cinta. Pengorbanan untuk mengendalikan hawa nafsu. Pengorbanan untuk, pada akhirnya, merelakan jika cinta itu melayang mendahului kita.</p>
<p>Yang kedua adalah keberanian. Episode ini hadir ketika kita telah bisa memenuhi panggilan cinta, merayakannya dalam pernikahan yang suci. Momen di saat kita telah siap dan mampu untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan. Dalam waktu ini, tema dari episode cinta telah berubah, keberanian. Dalam episode ini, keberanian menjadi penentu jalan cinta kita. Keberanian mengambil tanggung jawab. Keberanian memimpin keluarga. Keberanian membangun cinta yang benar.</p>
<p>Namun, banyak dari kita yang keliru memahami dua episode cinta ini. Tidak jarang kita temui banyak orang yang memutarbalikkan episode cinta tersebut. Di saat tema cerita yang sesungguhnya adalah pengorbanan, malah diyakini sebagai episode keberanian. Sementara, pada episode keberanian, dikembalikan menjadi cerita pengorbanan.</p>
<p>Kesalahan dalam memahami episode cinta inilah yang kemudian banyak menodai hakikat dan arti cinta. Makna cinta menjadi sesuatu yang hina. Episode pengorbanan menjadi kisah pendusta. Sementara, episode keberanian menjadi cerita para pengecut.</p>
<p>Kisah pendusta adalah episode ketika cerita pengorbanan diputarbalikkan dengan semangat keberanian. Banyak dari kita yang belum mampu, bahkan belum siap menikah, membuat cerita pengorbanan cinta dalam bingkai keberanian yang salah. Banyak dari kita yang mengutarakan cinta, tanpa ada kemampuan untuk bertanggung jawab. Ada yang berdalih &#8216;penjajakan&#8217; cinta, atau dalam bahasa yang lebih <em>syar&#8217;i</em>, &#8216;<em>ta&#8217;aruf</em>&#8216;.</p>
<p>Keberanian mengutarakan cinta didasarkan pada fondasi dusta. Ya, dusta. Karena, mengutarakan cinta bukan sekedar membuka pintu hati untuk saling menerima, namun juga ada tanggung jawab besar dibalik itu semua, <em>mitsaaqan ghalizha</em>. Sebuah tanggung jawab besar, yang dianalogikan dengan perjanjian para rasul. Namun, keberanian tersebut hanya didasarkan oleh nafsu yang tak menentu dan kemampuan bertanggung jawab yang sangat lemah. Akhirnya, banyak dari keberanian tersebut kemudian berbalik arah menjadi sebuah kedustaan. Jadilah orang-orang yang gagal tersebut diibaratkan seperti kisah para kaum <em>maghduub</em>.</p>
<p>Sementara, episode keberanian menjadi cerita para pengecut. Di saat, &#8216;panggilan cinta&#8217; telah datang. Banyak dari kita tidak berani menyambutnya dengan penuh keberanian. Episode ini hanya membutuhkan keberanian. Tidak yang lain.</p>
<p>Episode keberanian akan datang dengan sendirinya. Ketika Allah SWT menilai kita telah siap untuk bertanggung jawab atas cinta. Episode ini tidak lagi membutuhkan kemampuan. Karena, Sang Pemilik Rezeki telah menganugerahkan kesiapan bagi kita untuk menjalani bahtera cinta.</p>
<p>Pada saat inilah kemudian muncul nyali para pengecut. Ketakutan akan rezeki, ketakutan akan prestasi, ketakutan akan segala hal yang semestinya tidak perlu ditakuti, seketika membentang luas di hamparan pandangan mata. Cinta yang telah menanti, terkhianati oleh ketidakberanian kita.</p>
<p>Padahal, sebelum episode ini dimulai, banyak dari kita yang mengaku berani. Episode pengorbanan yang sebelumnya ada, justru digadang-gadang sebagai cerita keberanian (mengutarakan cinta). Tapi, ketika episode keberanian itu datang, maka hadirlah banyak dari kita yang menjadi pengecut. Hadirlah banyak dari kita menjadi para pengkhianat cinta. Mendeklarasikan cinta yang belum saatnya dengan penuh keberanian. Tapi, kemudian mundur diam-diam, di saat cinta itu meminta tanggung jawabnya.</p>
<p>Semoga kita bukan menjadi para pendusta yang pengecut dalam menjalani episode cinta kita. Biarlah cinta tumbuh dan bersemi dengan indah, dalam naungan <em>ridha</em> Sang Penguasa Cinta. Bersabar dalam pengorbanan (yang mungkin sangat teramat berat) di saat kita belum siap. Namun, hadirlah menjadi sosok-sosok yang pemberani, dengan keberanian yang utuh di saat kita siap dan momentum cinta itu telah tiba. Hingga kemudian para malaikat, orang-orang shalih, dan semua makhluk di muka bumi mendo&#8217;akan kita..</p>
<p><em>Barakallahu laka wa baraka &#8216;alaika wa jam&#8217;a bainakuma fii khair</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanumisme.wordpress.com/574/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanumisme.wordpress.com/574/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanumisme.wordpress.com/574/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanumisme.wordpress.com/574/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanumisme.wordpress.com/574/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanumisme.wordpress.com/574/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanumisme.wordpress.com/574/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanumisme.wordpress.com/574/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanumisme.wordpress.com/574/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanumisme.wordpress.com/574/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanumisme.wordpress.com/574/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanumisme.wordpress.com/574/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanumisme.wordpress.com/574/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanumisme.wordpress.com/574/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=574&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanumisme.wordpress.com/2011/02/14/dua-episode-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b9a62815d49ead98418f2b072d8d6f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hudzaifahh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanumisme.files.wordpress.com/2011/02/cinta.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">cinta..</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>7 Perangkap Setan</title>
		<link>http://hanumisme.wordpress.com/2011/02/14/7-perangkap-setan/</link>
		<comments>http://hanumisme.wordpress.com/2011/02/14/7-perangkap-setan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 07:05:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanumisme</dc:creator>
				<category><![CDATA[jejak hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanumisme.wordpress.com/?p=558</guid>
		<description><![CDATA[Mengutip salah satu ulama terkenal, Ibnu Qayyim al-Jauzi, di sini ingin saya berbagi tentang sebuah nasihat baik yang semoga bermanfaat bagi kita semua. Dalam kutipannya tersebut, setidaknya ada 7 (tujuh) tingkatan godaan setan terhadap manusia. Pertama, setan mengajak manusia kepada kemusyrikan. Pada level ini, setan mencoba mengecoh asas keimanan manusia untuk mengingkari Allah SWT sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=558&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hanumisme.files.wordpress.com/2011/02/ghost.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-559 alignleft" title="ghost" src="http://hanumisme.files.wordpress.com/2011/02/ghost.jpg?w=150&#038;h=150" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Mengutip salah satu ulama terkenal, Ibnu Qayyim al-Jauzi, di sini ingin saya berbagi tentang sebuah nasihat baik yang semoga bermanfaat bagi kita semua. Dalam kutipannya tersebut, setidaknya ada 7 (tujuh) tingkatan godaan setan terhadap manusia.</p>
<p><em><span id="more-558"></span>Pertama</em>, <strong>setan mengajak manusia kepada kemusyrikan</strong>. Pada level ini, setan mencoba mengecoh asas keimanan manusia untuk mengingkari Allah SWT sebagai Tuhan yang harus disembah. Seruan kepada kemusryikan ini terus mengalami perkembangan dan penyesuaian di setiap masa. Namun, pada hakikatnya, seruan kemusyrikan ini mengajak manusia untuk mengingkari Allah SWT, Tuhan Yang Esa, dan membelokkan keimanan manusia kepada tuhan-tuhan lain (<em>thagut</em>), yang bisa berbentuk uang, kekayaan, dan sebagainya.</p>
<p>Jika seorang manusia berhasil lepas dari jeratan setan yang pertama, maka setan terus menggoda manusia dengan tipuan yang <em>kedua</em>, yakni <strong>seruan kepada </strong><em><strong>khurafat </strong></em><strong>dan </strong><em><strong>bid’ah</strong></em>. Esensi amal yang masuk dalam kategori <em>khurafat </em>dan <em>bid’ah</em> adalah ketika amalan tersebut tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Banyak orang yang merasa telah menghimpun banyak amal-amal saleh, niatnya sudah benar dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Namun, karena ilmu yang sedikit dan tidak mau bertanya kepada alim-ulama, maka terjebaklah manusia-manusia itu kepada seruan setan, dengan menjalankan <em>khurafat </em>dan <em>bid’ah</em> yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasul.</p>
<p>Lepas dari dua muslihat tersebut, setan tidak berputus asa menjebak manusia. Maka pada tingkat <em>ketiga </em>ini, setan menipu manusia yang telah beriman dan beramal shaleh, untuk <strong>melakukan dosa-dosa besar</strong>. Tidak masalah bagi setan, jika ada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, selama mereka melakukan dosa-dosa besar. Karena, bisa jadi, keimanan dan amal saleh seseorang akan rusak ketika mereka terbiasa melakukan dosa-dosa besar.</p>
<p><em>Keempat</em>, ketika orang-orang yang beriman dan mengamalkan amal saleh berhasil lepas dari tipuan dosa-dosa besar, maka setan terus membujuk manusia untuk terkecoh <strong>melakukan dosa-dosa kecil</strong>. Dosa-dosa kecil memang tidak seberat dosa-dosa besar, apa lagi amal yang bernuansa <em>khurafat, bid’ah</em>, dan kemusyrikan. Namun, dosa-dosa kecil yang dilakukan secara rutin dipastikan akan menutupi mata hati manusia (nurani). Sehingga, manusia yang terbiasa melakukan dosa-dosa kecil akan kehilangan nurani-nya, hingga kemudian hidayah Allah SWT, tidak akan pernah menyentuh hati manusia tersebut. Di sinilah, sudah sepatutnya kita menghindari dosa-dosa kecil, sekecil apapun.</p>
<p>Di level <em>kelima</em>, di mana setan telah gagal menyeru manusia kepada kemusyrikan, <em>khurafat </em>dan <em>bid’ah</em>, dosa-dosa besar, hingga dosa-dosa kecil, maka setan terus mencoba menjerumuskan manusia untuk <strong>terkecoh dengan amal-amal yang melalaikan secara berkelanjutan</strong>. Amal-amal ini tidak menimbulkan dosa bila diamalkan, namun tidak juga memberikan pahala dan manfaat bagi yang melakukannya. Dalam tingkatan ini, setan terus mencoba mempengaruhi manusia agar tidak berbuat kebaikan, tapi terhenti amalnya pada perbuatan yang sama sekali tidak memberi manfaat, sia-sia.</p>
<p>Di tingkat yang lebih tinggi (<em>keenam</em>), setan terus mencoba memperdayai manusia. Ketika seseorang sudah memiliki akidah yang lurus, amal yang benar, menjauhkan diri dari perbuatan dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, bahkan dari sekedar amal yang sia-sia, maka setan terus menggoda manusia tersebut untuk gagal dalam memberikan prioritas amal. Ketika dihadapan manusia yang beriman tersebut hadir pilihan-pilihan amal kebajikan yang bervariasi nilai-nilai kebaikan dan kebermanfaatannya, maka setan mencoba menggelincirkan manusia tersebut kepada amal yang nilai kebaikan dan kebermanfaatannya paling rendah dari semua pilihan amal yang tersedia. Pada level ini, seharusnya kita bisa mengukur kadar amal yang hendak dilakukan berdasarkan kebermanfaatannya.</p>
<p>Di level tertinggi (<em>ketujuh</em>), merupakan level di mana para nabi, rasul, dan para ulama penerus nabi dan rasul berada. Pada level ini, setan tidak lagi menampakkan godaan-godaan yang bersifat metafisik. Namun, setan yang telah frustasi ini dengan usaha yang keras mencoba mengecoh manusia melalui <strong>serangan yang bersifat psikologis</strong>, bahkan <strong>serangan fisik</strong>, sebagaimana dahulu telah dirasakan oleh para nabi, rasul, dan para ulama penerus para nabi dan rasul. Setan di level ini menyamar menjadi manusia yang menyebarkan fitnah-fitnah kepada orang-orang yang beriman untuk menghentikan ibadah dan amal kebaikannya. Bahkan, tidak segan, setan-setan tersebut menampakkan diri baik dalam wujud jin dan manusia, untuk mencelakakan orang-orang yang beriman.</p>
<p>Barangkali, sulit bagi kita yang <em>notabene</em> manusia-manusia biasa yang tak pernah luput dari kelalaian untuk menyamai &#8216;kelas&#8217; kita sebagaimana para Nabi, Rasul, dan ulama <em>warasatul anbiyaa</em>. Namun, tidak semestinya juga kita berputus asa dalam amal kebaikan. Tidak ada salahnya bagi kita untuk meng<em>up-grade</em> diri dari perangkap-perangkap setan. Idealnya, kita berada di level keenam, persis di bawah tingkatan para Nabi, Rasul, dan ulama penerusnya. Adalah ketika kita senantiasa lurus dalam aqidah, benar dalam amal, selalu terjaga dari dosa-dosa kecil apalagi dosa-dosa besar, serta sangat menjaga diri dari perbuatan yang sia-sia.</p>
<p>Karena, kita selalu menyibukkan diri dengan amal-amal kebaikan. Yang bahkan dengannya, kita diharuskan untuk membuat prioritas amal yang memiliki kandungan kebermanfaatan terbanyak. Ketika itu, kita menjadi insan yang gemar menabur kebajikan kepada setiap orang di sekeliling kita, bahkan lingkungan alam tempat kita menetap, menjadi <em>rahmatan lil &#8216;alamiin</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanumisme.wordpress.com/558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanumisme.wordpress.com/558/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanumisme.wordpress.com/558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanumisme.wordpress.com/558/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanumisme.wordpress.com/558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanumisme.wordpress.com/558/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanumisme.wordpress.com/558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanumisme.wordpress.com/558/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanumisme.wordpress.com/558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanumisme.wordpress.com/558/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanumisme.wordpress.com/558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanumisme.wordpress.com/558/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanumisme.wordpress.com/558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanumisme.wordpress.com/558/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=558&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanumisme.wordpress.com/2011/02/14/7-perangkap-setan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b9a62815d49ead98418f2b072d8d6f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hudzaifahh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanumisme.files.wordpress.com/2011/02/ghost.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">ghost</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Separatisme RMS dan Ahmadiyah</title>
		<link>http://hanumisme.wordpress.com/2010/10/08/separatisme-rms-dan-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://hanumisme.wordpress.com/2010/10/08/separatisme-rms-dan-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Oct 2010 23:40:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanumisme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia ku]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[RMS]]></category>
		<category><![CDATA[separatisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanumisme.wordpress.com/?p=554</guid>
		<description><![CDATA[Apa keterkaitan antara gerakan separatisme Republik Maluku Selatan (RMS) dan Ahmadiyah? Rasa-rasanya, tidak ada relasi antara keduanya. Namun, akhir-akhir ini, pemberitaan tentang RMS dan Ahmadiyah tengah gencar di media massa. Pemerintah pun dibuat gusar karenanya. Isu separatisme RMS belakangan mencuat seiring dengan penundaan kunjungan Presiden SBY ke Belanda. Hal tersebut disebabkan karena pada jadwal kunjungan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=554&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa keterkaitan antara gerakan separatisme Republik Maluku Selatan (RMS) dan Ahmadiyah? Rasa-rasanya, tidak ada relasi antara keduanya. Namun, akhir-akhir ini, pemberitaan tentang RMS dan Ahmadiyah tengah gencar di media massa. Pemerintah pun dibuat gusar karenanya.</p>
<p><span id="more-554"></span>Isu separatisme RMS belakangan mencuat seiring dengan penundaan kunjungan Presiden SBY ke Belanda. Hal tersebut disebabkan karena pada jadwal kunjungan presiden, sidang gugatan RMS terhadap Presiden RI tengah digelar. RMS menuding presiden telah melanggar hak asasi manusia, terkait dengan penangkapan sejumlah aktivis RMS pada saat peringatan Hari Keluarga Nasional, di Ambon, tahun 2007 lalu.</p>
<p>RMS berdiri pada April 1950 dan dipimpin oleh Chris Soumokil, yang merupakan mantan jaksa agung Negara Indonesia Timur. Pendirian RMS ditujukan untuk menggagalkan upaya integrasi nasional dari Republik Indonesia Serikat. Karena menolak tawaran re-integrasi ke dalam Negara Kesatuan RI (NKRI) dan melancarkan serangan pemberontakan, RMS kemudian ditumpas pada November 1950. Sejak saat itu, RMS terus melakukan perlawanan bawah tanah terhadap NKRI.</p>
<p>Intensitas gerakan RMS sering kali meningkat pada saat menjelang perayaan kelahirannya, setiap tanggal 25 April. Aksi tersebut muncul terutama di daerah yang menjadi kantong-kantong kekuatannya, di sekitar Pulau Haruku. RMS kerap melakukan  serangan-serangan perusakan dan propaganda terhadap masyarakat di Maluku. Bahkan, RMS dituding berada di balik pertikaian Muslim-Kristen di Maluku antara 1999-2004. Kini, di bawah kendali pemerintahan pengasingan di Belanda, RMS tidak henti melancarkan  aksi-aksi separatis.</p>
<p>Sementara itu, Ahmadiyah merupakan aliran keagamaan yang didirikan di Qadian, India. Keberadaan Ahmadiyah tidak dapat dipisahkan dengan pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad. Jamaah ini meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad merupakan nabi yang diutus setelah Nabi Muhammad saw, nabi terakhir ummat Islam. Konsep keimanan ini tersurat jelas dalam kitab sucinya, Tadzkirah. Persoalan inilah yang tidak dapat diterima oleh masyarakat muslim, termasuk di Indonesia.</p>
<p>Sejak tahun 1980, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebenarnya telah memfatwakan bahwa aliran Ahmadiyah adalah jamaah di luar Islam, sesat dan menyesatkan. Opsi yang ditawarkan jelas, bergabung kembali kepada ajaran Islam, berdiri menjadi agama sendiri yang terpisah dari Islam, atau dibubarkan. Namun, fatwa MUI tersebut tidak mendapat dukungan yang kuat dari pemerintah. Ahmadiyah pun bersikeras tetap menjadi bagian dari masyarakat muslim di Indonesia.</p>
<p>Jika dilihat secara sosiologis, ada sebuah benang merah antara gerakan RMS dan jamaah Ahmadiyah. Keduanya merupakan entitas minoritas yang melakukan langkah dekonstruktif terhadap pandangan kelompok <em>mainstream</em> dalam ranah sosialnya.</p>
<p>Sejarah RMS merupakan sejarah pemberontakan atas konsep negara-bangsa Indonesia. Pada saat tawaran re-integrasi hadir, RMS secara nyata menentang dan melakukan konfrontasi bersenjata. RMS memandang bahwa wilayah Maluku merupakan domain yang terlepas dari kekuasaan NKRI. Dalam persepsi RMS, selamanya, Maluku adalah Maluku, bukan Indonesia.</p>
<p>Bagi Indonesia, RMS merupakan kelompok separatis yang selamanya mengancam keutuhan ke-Indonesia-an. RMS sebagai entitas politik merupakan anti-tesis terhadap persatuan Indonesia. Wajar karenanya, kemudian Indonesia menerapkan berbagai agenda preventif dalam menangkal re-eksistensi RMS. Bila perlu, Indonesia memiliki hak yang sangat layak untuk menumpas habis gerakan separatis RMS. Bagi Indonesia, Maluku adalah bagian dari ke-Indonesia-an yang majemuk, dan keberadaan RMS tertolak.</p>
<p>Hal yang jauh tidak berbeda terjadi pada jamaah Ahmadiyah. Keyakinan akan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi jelas mengguncang fondasi keimanan dalam masyarakat muslim. Sekiranya, jamaah Ahmadiyah tunduk pada kaidah keimanan Islam dan menyatakan Mirza Ghulam Ahmad bukan seorang nabi. Atau setidaknya, Ahmadiyah menyatakan dirinya adalah bukan bagian dari Islam dan merupakan agama dengan keyakinannya tersendiri, mungkin masalah akan selesai.</p>
<p>Namun, Ahmadiyah bersikeras mengklaim dirinya tetap sebagai bagian dari masyarakat muslim. Pada saat yang bersamaan, Ahmadiyah juga menyerang konsep dasar keimanan masyarakat muslim. Dalam hal ini, Ahmadiyah merupakan kelompok separatis-menyimpang (<em>deviant separatist</em>)<em> </em>yang memporak-porandakan batas wilayah keimanan dalam Islam, yang diyakini sudah paripurna.</p>
<p>Persoalan RMS dan Ahmadiyah ini tidak terletak pada isu kebebasan berpolitik dan beragama. Masyarakat internasional menyayangkan sikap preventif pemerintah Indonesia yang mengekang kebebasan politik dari aktivis RMS. Begitupun, kelompok agamawan liberal di Indonesia mencela ummat Islam yang menolak Ahmadiyah sebagai bagian dari masyarakat muslim. Sikap ini dianggap tidak toleran dan menghalangi kebebasan beragama.</p>
<p>Di sini, titik masalah sesungguhnya adalah RMS dan Ahmadiyah merupakan kelompok separatis yang berorientasi pada upaya de-legitimasi terhadap ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an. Tawaran bagi RMS dan Ahmadiyah sebenarnya sudah jelas, kembali ke dalam konsep Indonesia dan Islam secara benar, atau berada di luar wilayah Indonesia dan Islam.</p>
<p>Namun, keduanya seakan mendapat angin harapan dari ketidaktegasan pemerintah Indonesia. RMS terus menggalang dukungan masyarakat internasional. Ahmadiyah terus disokong oleh kelompok agamawan liberal. Diperlukan langkah tegas dari pemerintah dalam menyikapi dua problem separatis ini. Jika tidak, kita mungkin tinggal menunggu waktu terjadinya konflik-konflik yang berkepanjangan, atau saat-saat keruntuhan bagi Indonesia sebagai negara-bangsa dan Islam sebagai agama.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanumisme.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanumisme.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanumisme.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanumisme.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanumisme.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanumisme.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanumisme.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanumisme.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanumisme.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanumisme.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanumisme.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanumisme.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanumisme.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanumisme.wordpress.com/554/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=554&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanumisme.wordpress.com/2010/10/08/separatisme-rms-dan-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b9a62815d49ead98418f2b072d8d6f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hudzaifahh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>#1 Pagi yang Indah</title>
		<link>http://hanumisme.wordpress.com/2010/10/05/1-pagi-yang-indah/</link>
		<comments>http://hanumisme.wordpress.com/2010/10/05/1-pagi-yang-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 00:01:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanumisme</dc:creator>
				<category><![CDATA[cermin jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanumisme.wordpress.com/?p=550</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, aku membaca sebuah surat elektronik dari salah seorang teman ku. Judulnya “Surat Cinta untuk Calon Istri Ku”. Isinya begitu romantis sekali. Tak ku sangka, ia begitu berani menuliskannya, bahkan mengirimnya secara terbuka kepada beberapa milis serta memposting surat tersebut di blog pribadinya. Sejenak aku merenung, ia saja yang belum jelas istrinya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=550&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, aku membaca sebuah surat elektronik dari salah seorang teman ku. Judulnya “Surat Cinta untuk Calon Istri Ku”. Isinya begitu romantis sekali. Tak ku sangka, ia begitu berani menuliskannya, bahkan mengirimnya secara terbuka kepada beberapa milis serta memposting surat tersebut di blog pribadinya.</p>
<p>Sejenak aku merenung, ia saja yang belum jelas istrinya, berani menulis dan mempublikasikannya seperti itu. Sepertinya, aku lebih pantas menulis seperti itu, untuk istriku ya..</p>
<p><em><span id="more-550"></span>Bismillah ar-Rahman ar-Rahiim..</em></p>
<p>Ku mulai surat cinta ini dengan sebuah do’a..</p>
<p>Yaa Rabb kami, berkahilah kami, berkahilah atas kami, dan himpunlah pernikahan kami dalam kebaikan..</p>
<p>Teruntuk Istri tercinta ku, yang semoga Allah SWT senantiasa memberkahi pernikahan kita..</p>
<p>Sudah tujuh bulan lebih, Allah SWT mempertemukan kita. Dari sebuah alur takdir yang tidak terduga, Allah Yang-Rahman-Nya-Begitu-Luas menganugerahkan kita kemudahan menggapai karunianya, yang bagi ku, itu sangat tak terhingga. <em>Alhamdulillah</em>, semoga kita dapat senantiasa bersyukur.</p>
<p>Aku ingat betul, begitu selesai akad nikah kita. Engkau mencium tangan ku dengan begitu hormat dan sayang. Meskipun, aku agak kaku, karena untuk pertama kalinya ada seorang akhwat (selain adik-adik ku) mengagungkan ku sedemikian rupa. Pada saat itu, engkau mendampingi ku saat aku melantunkan sebuah mahar, <em>ar-Rahmaan</em>, di sebuah rumah Allah dengan nama terbaik, <em>Baitul Ihsan</em>.</p>
<p>Aku masih sangat ingat, ketika kita pulang bersama menuju rumah. Engkau menggandeng tangan ku dengan begitu erat, dan aku masih juga ‘canggung’ jalan di sisi mu. Sementara, para saudara, kerabat, dan teman-teman kita yang lain mengiringi kita, bersama gerimis halus yang menambah syahdu suasana.</p>
<p>Aku tentu begitu ingat, saat satu-per-satu, para keluarga dan sahabat yang menghadiri akad nikah kita bergegas izin untuk pulang. Engkau begitu setia mendampingi ku dengan senyum terindah itu.</p>
<p>Dan kini, tujuh bulan telah berlalu di saat keindahan mu semakin mewarnai dunia ku.</p>
<p>Mungkin, tidak terbayangkan oleh ku, engkau kini melayani ku dengan penuh kerelaan. Padahal, aku tahu, sebelum ini engkau mungkin selalu dilayani oleh orang tua mu, sebagai puteri tercantik satu-satunya yang mereka miliki.</p>
<p>Di saat menjelang pagi, engkau membangunkan aku dengan penuh kasih sayang. Senyum manis itu selalu mengunjungi bangun tidur ku dan mengajak ku kepada kebaikan. Sementara, aku mungkin tidak jarang merengut, karena terbangunkan dari tidur nyenyak ku.</p>
<p>Engkau begitu sabar menunggu ku, untuk kita shalat berjamaah. Sembari menunggu aku berwudhu, engkau bertadarus ria atau mengulang-ulang hafalan terbaik mu. Saat aku selesai berwudhu, shaf-shaf sajadah sudah tersusun rapi, menanti kita shalat berjamaah.</p>
<p>Adzan subuh pun berkumandang, di saat kita menyisakan waktu untuk sedikit bercerita tentang hari yang akan kita jalani pagi-siang-sore ini. Jika sebelumnya, langkah menuju mushalla di subuh-ku hanya ditemani temaram fajar.</p>
<p>Kini, segalanya berubah. Aku tak lagi sendiri menuju masjid dalam kegelapan. Melainkan engkau mendampingi ku di setiap langkah kita, insyaAllah dengan cahaya kebahagiaan. Awal pagi yang nyatanya masih begitu gelap, kini tampak benderang indah.</p>
<p>Seperti biasa, godaan pagi begitu berat untuk tidak lagi memejamkan mata. Saat aku tergiur untuk kembali tertidur, engkau meletakkan al-Quran dalam dekapan ku. Meminta ku untuk melantunkan beberapa ayat suci, atau sekedar mengulang-ulang hafalan ku, atau melantunkan kembali mahar kita. Tidak jarang aku mengelak, tapi engkau begitu sabar mengingatkan ku.</p>
<p>Tak tersadar, aku terbangunkan oleh dentingan cucian piring. Hehe, aku malu, saat aku tertidur di saat tilawah, engkau justru sibuk di dapur. Menyiapkan sarapan pagi kita.</p>
<p>Aku tahu, itu pekerjaan yang sangat berat. Di saat mata ‘seharusnya’ kembali terpejam, tapi engkau menyibukkan diri di dapur. Tak terbayang, seberapa besar usaha mu. Aku hanya tahu, engkau selalu berucap, “hanya mengharap ridha sang suami tercinta,, <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ”.</p>
<p>“Kakak, air hangatnya segera digunakan ya.. Nanti <em>keburu </em>dingin..”, suara lembut itu menyapa ku saat handuh sudah ku genggam. <em>Subhanallah</em>, aku tidak menyangka akan sebahagia ini dalam pernikahan yang ‘tak terbayangkan’ sebelumnya. Mau mandi di pagi yang dingin, ternyata ada air hangat.</p>
<p>Begitu keluar kamar mandi, engkau meminta ku untuk merapihkan tempat tidur kita, seraya berkata, “nanti, ajarkan anak-anak kita merapihkan tempat tidurnya ya..”. Hehe, aku semakin tersipu malu. Sementara, seperti biasanya, engkau mencocok-cocokkan pakaian kita untuk hari ini.</p>
<p>Di meja makan, beberapa makanan sudah tersaji dengan cantik. Walau ku tahu, rasanya belum se-cantik penampilannya (hehe, maaf ya, kalo jujur ^^’v). Tapi, ku tahu, usaha mu menyajikan makanan-makanan itu begitu berat.</p>
<p>‘Menyihir’ bahan-bahan mentah menjadi makanan siap saji tidaklah mudah. Karena, aku beberapa kali pernah mencoba-nya. Teringat kata-kata adik-bungsu-ku, “yah, <em>lumayan </em>lah,<em> dari pade lu manyun</em>.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ”. Tapi, sarapan pagi ini begitu <em>amazing</em>. Bukan dari rasanya, tapi dari perasaan dan pengorbanannya, untuk sang suami tercinta. (hehe, bener kan ya.. :”&gt;)</p>
<p>“ayo dunnnnk, kita udah kesiangan nih”, seru ku di saat engkau masih tersibukkan di depan cermin. Hehe, maaf ya, aku emang kurang <em>sabaran</em>, dan emang suka <em>kayak </em>begini kalo udah rapid an siap berangkat. Tapi, terima kasih, engkau hanya membalas seruan ku dengan senyum.</p>
<p><em>Subhanallah</em>, engkau masih terus merapihkan diri, agar tetap ‘<em>good-looking</em>’, menata jilbab kain mu agar tetap rapih setelah menikah. Engkau begitu ingin menghormati ku, di saat banyak akhwat-akhwat lain yang sudah tidak begitu rapi menggunakan jilbab setelah menikah, biasanya hanya <em>bergo</em>. Tapi, engkau ingin tetap memuliakan ku dengan jilbab yang tersusun rapi. “<em>Anna di KCB pun ga ada apa-apanya dibandingin kamu deh.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </em>”.</p>
<p>Saat aku menyiapkan sepeda-motor kita, engkau membekali hari kita dengan satu kotak makan siang. Salah satu ‘bos’ di kantor ku bilang, “<em>whew, it’s a-lunch-tasted-love..</em>”. Dan, kita siap memualai hari ini dengan semangat!</p>
<p>Di sebuah pagi yang indah, selama tujuh bulan lalu.. semoga terus berlanjut.. amiiiiiiin.. ^^</p>
<p>(bersambung..)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanumisme.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanumisme.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanumisme.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanumisme.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanumisme.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanumisme.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanumisme.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanumisme.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanumisme.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanumisme.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanumisme.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanumisme.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanumisme.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanumisme.wordpress.com/550/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=550&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanumisme.wordpress.com/2010/10/05/1-pagi-yang-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b9a62815d49ead98418f2b072d8d6f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hudzaifahh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zakat sebagai Insentif Pajak</title>
		<link>http://hanumisme.wordpress.com/2010/09/22/zakat-sebagai-insentif-pajak/</link>
		<comments>http://hanumisme.wordpress.com/2010/09/22/zakat-sebagai-insentif-pajak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Sep 2010 03:03:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanumisme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia ku]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanumisme.wordpress.com/?p=533</guid>
		<description><![CDATA[Upaya revisi UU Pengelolaan Zakat kembali terkendala. Menteri Keuangan menyatakan keberatannya atas usulan zakat sebagai pengurang pajak. Insentif pajak merupakan salah satu dari tiga poin mendasar dari upaya revisi UU PZ yang tengah bergulir. Adakah kerugian zakat sebagai insentif pajak? Penolakan Menteri Keuangan tersebut tampak wajar. Kesadaran membayar pajak masyarakat Indonesia saat ini masih rendah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=533&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Upaya revisi UU Pengelolaan Zakat kembali terkendala. Menteri Keuangan menyatakan keberatannya atas usulan zakat sebagai pengurang pajak. Insentif pajak merupakan salah satu dari tiga poin mendasar dari upaya revisi UU PZ yang tengah bergulir. Adakah kerugian zakat sebagai insentif pajak?</p>
<p><span id="more-533"></span>Penolakan Menteri Keuangan tersebut tampak wajar. Kesadaran membayar pajak masyarakat Indonesia saat ini masih rendah. Berdasarkan APBN 2010, <em>tax ratio</em> di Indonesia hanya 12,4 persen dari PDB. Angka ini berada di bawah rata-rata <em>tax ratio </em>negara-negara Eropa (39,3 persen), bahkan di bawah negara-negara ASEAN (20 persen).</p>
<p>Sementara itu, pajak merupakan sumber utama penerimaan negara. Saat ini, hampir 78 persen pemasukan negara berasal dari pajak. Hingga kini, pemerintah terus meningkatkan perolehan pajak. Karenanya, wajar jika wacana zakat sebagai insentif pajak tertolak. Hal ini dikhawatirkan menjadi kebijakan yang kontra produktif dalam upaya optimalisasi penghimpunan pajak, yang tentunya akan memangkas pendapatan negara.</p>
<p><strong>Titik Tengah</strong></p>
<p>Melihat zakat sebagai insentif pajak secara kasar, tentu akan berdampak pada pertentangan konseptual, yang mungkin tak akan pernah selesai. Karenanya, tulisan ini mencoba mencari titik tengah antara zakat dan pajak. Mensinergikan keduanya menjadi komponen yang kontributif dalam mengupayakan kemakmuran bersama.</p>
<p>Pajak pada dasarnya merupakan kewajiban masyarakat terhadap negara. Dalam penggunaannya, pajak ditujukan untuk membangun fasilitas umum bagi masyarakat. Seiring berkembangnya pemikiran negara kesejahteraan, di beberapa negara kemudian mengalokasikan pajak sebagai bantuan subsidi ataupun program jaminan sosial bagi warga negara.</p>
<p>Meski secara teoritik tidak ada yang menyatakan pajak digunakan bagi masyarakat miskin. Namun, di Indonesia, konstitusi mengamanahkan negara untuk memajukan kesejahteraan umum. Secara sederhana, negara (pemerintah) bertanggung jawab untuk memanfaatkan pajak untuk membangun kesejahteraan masyarakat, mengurangi kesenjangan dan mengentaskan kemiskinan.</p>
<p>Objektif pajak tersebut terlihat tidak begitu berbeda dengan orientasi zakat. Zakat dengan sangat eksplisit ditujukan bagi orang-orang yang dikategorikan lemah (<em>dhuafa’</em>). Baik lemah dalam hal ekonomi (<em>fakir</em>, <em>miskin</em>), sosial (<em>muallaf</em>, <em>ibn</em> <em>sabil</em>), maupun politik (<em>gharim</em>, <em>riqab</em>, <em>fii</em> <em>sabilillah</em>). Pemanfaatan zakat diluar kategori tersebut jelas-jelas tertolak.</p>
<p>Zakat secara harfiah yang berarti tumbuh dan berkembang. Karenanya, zakat memiliki tujuan untuk menumbuh-kembangkan kesejahteraan masyarakat <em>dhuafa’</em>. Hakikat zakat adalah agar kemakmuran tidak hanya dinikmati oleh sekelompok elite masyarakat. Dalam pengertian ini, zakat dan pajak memiliki maksud yang sama, yakni redistribusi harta untuk kemakmuran bersama.</p>
<p><strong>Sinergi Positif</strong></p>
<p>Malaysia merupakan contoh menarik dari kebijakan sinergis antara zakat dan pajak. Pengelolaan zakat sejak awal memang sudah dilaksanakan oleh aparatur negara. Namun, baru pada tahun 2004, pengelolaan zakat resmi berada dalam Departemen Zakat, Wakaf, dan Haji (JAWHAR). Departemen ini secara langsung bertanggung jawab kepada perdana menteri.</p>
<p>Setiap negara bagian memiliki Pusat Pungutan Zakat (PPZ). Lembaga ini melakukan penyuluhan intensif kepada masyarakat tentang kewajiban zakat. PPZ merupakan unit teknis pengelola zakat yang berperan dalam menghimpun dan mendayagunakan zakat pada setiap negara bagian.</p>
<p>Di samping pelaksanaan penyuluhan zakat, keberadaan zakat sebagai insentif pajak berhasil mendorong pertumbuhan angka penghimpunan zakat. Model ini mengintegrasikan zakat dengan sistem perpajakan nasional. Sistem ini memungkinkan adanya pertukaran informasi antar institusi pengelola pajak dengan pengelola zakat.</p>
<p>Pola sinergi zakat dan pajak tersebut memudahkan pemerintah mendeteksi siapa yang tidak membayar zakat dan siapa yang tidak membayar pajak. Karenanya, dengan kebijakan tersebut, secara tidak langsung, penghimpunan pajak juga mengalami peningkatan, dengan <em>tax ratio </em>diperkirakan mencapai 20,2 persen.</p>
<p>Model seperti inilah yang ke depannya perlu dikembangkan di Indonesia. Ada sinergi positif antar institusi, bukan ego sektoral yang menyekat. Dalam hal ini, kerja sama antara institiusi pajak dan pengelola zakat.</p>
<p><strong>Harus oleh Negara</strong></p>
<p>Namun, perlu ditekankan bahwa skema zakat sebagai insentif pajak juga harus didukung dengan sistem pengelolaan zakat yang terpadu. Negara harus mengambil alih peran sebagai komando yang mengayomi pengelolaan zakat nasional. Peran ini tidak ditujukan hanya sebagai operator zakat yang berjibaku sekedar pada proses penghimpunan dan pendayagunaan.</p>
<p>Fungsi regulator dan koordinator dalam pengelolaan zakat merupakan peran sentral yang semestinya dijalankan oleh negara. Dalam artian, negara membuat sejumlah kebijakan dan arahan yang mendorong optimalisasi penghimpunan zakat, transparansi pengelolaan zakat, dan efektifitas pendayagunaan zakat dalam memberdayakan kelompok <em>dhuafa’</em>.  Untuk operator teknis, partisipasi masyarakat tak ada salahnya.</p>
<p>Dari peran sentral tersebut, diharapkan negara memiliki informasi agregat pengelolaan zakat nasional, baik penghimpunan maupun pendayagunaan. Dari data penghimpunan, informasi tersebut dapat diolah menjadi sumber data wajib pajak. Kebijakan insentif pajak diharapkan menstimulus pembayar zakat. Ini tentunya juga akan memperbesar jumlah wajib pajak. Artinya, target pemasukan pajak negara tentu akan meningkat, seiring dengan pertumbuhan zakat.</p>
<p>Dengan demikian, zakat sebagai insentif pajak sama sekali tidak akan merugikan negara. Zakat tidak lagi diasumsikan mengurangi pemasukan pajak. Sebaliknya, kebijakan tersebut justru akan mendorong pertumbuhan pajak. Ini tentunya akan meningkatkan kebermanfaatan negara bagi masyarakat, yakni sebagai redistributor kemakmuran.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanumisme.wordpress.com/533/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanumisme.wordpress.com/533/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanumisme.wordpress.com/533/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanumisme.wordpress.com/533/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanumisme.wordpress.com/533/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanumisme.wordpress.com/533/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanumisme.wordpress.com/533/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanumisme.wordpress.com/533/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanumisme.wordpress.com/533/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanumisme.wordpress.com/533/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanumisme.wordpress.com/533/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanumisme.wordpress.com/533/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanumisme.wordpress.com/533/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanumisme.wordpress.com/533/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=533&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanumisme.wordpress.com/2010/09/22/zakat-sebagai-insentif-pajak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b9a62815d49ead98418f2b072d8d6f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hudzaifahh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Pengkhianat</title>
		<link>http://hanumisme.wordpress.com/2010/05/18/sejarah-pengkhianat/</link>
		<comments>http://hanumisme.wordpress.com/2010/05/18/sejarah-pengkhianat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 04:59:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanumisme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia ku]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanumisme.wordpress.com/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Pengkhianat. Mungkin itulah kesimpulan mendasar ketika membaca sejarah Indonesia. Pengkhianatan demi pengkhianatan terus berjalin membuat satu alur cerita yang menyakitkan. Mayoritas muslim terkhianati di sejarah negerinya sendiri. Tapi, begitulah sejarah. Hanya dapat diceritakan, dan tak dapat kembali. Sejak meraih capaian prestatif pada kemerdekaan Indonesia, mayoritas muslim terus mengalami marjinalisasi, baik secara ekonomi dan politik. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=518&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah Pengkhianat. Mungkin itulah kesimpulan mendasar ketika membaca sejarah Indonesia. Pengkhianatan demi pengkhianatan terus berjalin membuat satu alur cerita yang menyakitkan. Mayoritas muslim terkhianati di sejarah negerinya sendiri. Tapi, begitulah sejarah. Hanya dapat diceritakan, dan tak dapat kembali.<span id="more-518"></span></p>
<p>Sejak meraih capaian prestatif pada kemerdekaan Indonesia, mayoritas muslim terus mengalami marjinalisasi, baik secara ekonomi dan politik. Pengkhianatan kaum sekuler di sidang PPKI menjadi awal kemunduran Islam dari struktur kenegaraan. Terhapuskannya peran negara dalam pelaksanaan syariat Islam. Islam terkungkung dalam ranah domestik masyarakat muslim. Muslim kehilangan kedaulatannya di negeri yang diperjuangkannya.</p>
<p>Pengkhianatan terus berlanjut. Begitu berkuasa, Soekarno beraliansi dengan kelompok komunis, yang kemudian menghancurkan Masyumi, partai representasi masyarakat muslim. Selain karena memperjuangkan Islam, Masyumi didakwakan kontra-revolusi karena menuntut demokrasi. Tak ada dialektika, ketika logika kekuasaan begitu berkuasa. Begitulah, kekuasaan Soekarno absolut penuh. Masyarakat muslim kembali tersingkir.</p>
<p>Keabadian bukan milik manusia, hal yang juga berlaku bagi Soekarno. Begitu cepat, Soeharto merebut kekuasaan dengan cerita yang penuh misteri. Situasi yang memunculkan harapan bagi masyarakat muslim. Berharap, penguasa baru lebih bersahabat dengan ummat mayoritas ini. Tapi, ambivalensi sikap begitu tampak di awal Orde Baru. Negara kembali tertutup bagi masyarakat muslim.</p>
<p>Bukan hanya marjinalisasi politik dan ekonomi, Orde Baru begitu hegemonik, mengamputasi Islam sebagai pandangan hidup muslim. Akibatnya, banyak muslim kehilangan identitasnya, menjadi kejawen atau sekuler. Tradisi Hindu dihidupkan sedemikian rupa. Simbolisasi Jawa begitu kentara. Menghapus jejak kebesaran Islam di bumi nusantara. Menggantikannya dengan kedigdayaan negara penjajah klasik, Majapahit.</p>
<p>Pancasila yang tak lain sintesis nilai Islam dalam konteks ke-Indonesia-an, dikooptasi dengan penafsiran filsafat kebajikan Jawa, yang mengada-ada. Di luar definisi mutlak dari Soeharto, pendefinisan makna Pancasila dicap sebagai sebuah ekstrimis. Letupan protes kelompok muslim disambut pembantaian militer; Tanjung Priok, Haur Koneng, dan semua peristiwa yang sengaja dilupakan.</p>
<p>Tapi, sejarah adalah milik penguasa. Siapa yang berkuasa, dialah yang berhak mengarang cerita. Sebusuk apapun pengkhianatan, penguasa berhak merangkainya dengan alur narasi yang indah. Hingga satu saat, biarkan sejarah itu membuka dirinya sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanumisme.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanumisme.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanumisme.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanumisme.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanumisme.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanumisme.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanumisme.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanumisme.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanumisme.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanumisme.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanumisme.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanumisme.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanumisme.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanumisme.wordpress.com/518/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanumisme.wordpress.com&amp;blog=1158386&amp;post=518&amp;subd=hanumisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanumisme.wordpress.com/2010/05/18/sejarah-pengkhianat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0b9a62815d49ead98418f2b072d8d6f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hudzaifahh</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
