Archive for the ‘cermin jiwa’ Category
#1 Pagi yang Indah
Beberapa waktu yang lalu, aku membaca sebuah surat elektronik dari salah seorang teman ku. Judulnya “Surat Cinta untuk Calon Istri Ku”. Isinya begitu romantis sekali. Tak ku sangka, ia begitu berani menuliskannya, bahkan mengirimnya secara terbuka kepada beberapa milis serta memposting surat tersebut di blog pribadinya.
Sejenak aku merenung, ia saja yang belum jelas istrinya, berani menulis dan mempublikasikannya seperti itu. Sepertinya, aku lebih pantas menulis seperti itu, untuk istriku ya..
Adalah Engkau
Adalah engkau dia yang ku rindu
Tuk menjadi bunga di hatiku
Menjadi peneduh kalbu
Di perjalananku
Tibalah waktu yang telah ku rindu
Tuk selalu bersama dengan mu
Tlah terbuka pintu itu
Akad tlah terucap sudah
Dinda marilah melangkah
Dinda temanilah aku di setiap detik ku
Dengan doamu
Bila terpisahkan waktu
Tetaplah di sini di dalam hatiku
Ya Rabbi izinkanlah kami
Untuk terjaga selalu di jalan-Mu
Dinda doamu laksana pelepas dahaga
Di lelahnya jiwa
Adalah engkau dia yang kurindu
Tuk selalu hadir dihidupku
Mengiringi setiap langkah saat menuju
Acuan hidup ini
.
-seismic-
Untuk Mereka
Tuhan,
Sepertinya ku tak perlu menyampaikan seperti ini
Yang mungkin sekedar retorika belaka
Tapi, ini bukan untuk Mu
Tapi, ini untuk mereka yang senantiasa bertanya
Wahai Dunia
Wahai dunia, pergilah engkau!
Aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi untuk kau ambil
Jejak-jejak usaha yang dahulu aku banggakan
Begitu saja engkau rengkuh tak tersisa
.
Wahai dunia, pergilah engkau!
Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk kau rebut
Tetesan jejak karya yang dahulu aku bersamanya
Begitu saja engkau himpun dan berlalu
.
Kelapangan
Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?,
dan, Kami pun telah menurunkan bebanmu dari mu,
yang memberatkan punggungmu,
dan Kami tinggikan sebutanmu bagi mu.
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,
sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Maka apabila engkau telah selesai, tetaplah bekerja keras,
dan hanya kepada Rabbmu lah engkau berharap.
(al-Insyirah: 1-8)
Tentang Harap
Dalam ujung waktu itu
Harap bertanya dalam diam
Mengapa ia harus ada
Tak ada kata-kata yang mampu bercerita
Kalam pun terpaku senyap
Bahasa yang terbiasa bersuara
Kini, pergi dalam hilang
Seiring suara yang tenggelam dalam sepi
Persimpangan Masa
Dalam setiap jengkal waktu yang dahulu selalu ku lalui
Detik-detik itu kini hadir dalam serpihan makna yang memunculkan tanya
Kegamangan seakan kini hadir menjadi sosok yang buas
Meruntuhkan setiap celah yang biasa ku anggap itu sebagai harap
Setiap kali bertampak, mereka mengkritisi setiap puing keyakinan
Yang hingga kini masih mencoba tegak berdiri, di ujung yang mulai redup memudar Read the rest of this entry »
Pelangi
Waktu ku..

dunia adalah waktu ku,
yang ketika itu, penghabisanku tak kembali lagi kepada ku
hanya tali ukhuwah yang mampu membuat semuanya menjadi bermakna
dalam rantai ingatan yang membekas, dan tak kan terlupa
seperti hujan yang tercipta menyejukkan bumi
atau matahari yang selalu menyinari
terima kasih ya Allah, telah menghadirkan mereka
sahabat yang selalu menyemangati
dan menentramkan hati,
dan untuk kesyukuran ini..
…
- saat matahari masih sepenggalah naik
Hujan..

berharap engkau kan terus di sini
menyejukkan lelahnya hari
mendekap setiap asa dalam kedamaian
jangan engkau pergi, sebelum pelangi hadir di sini
dalam indahnya harap..
- menjelang hujan terhenti di satu senja
