Archive for the ‘Refleksi’ Category
Paradoks Pluralisme
Mereka berkata tentang indahnya dunia yang penuh harmoni
Dunia yang tiada lagi sekat-sekat primordial keagamaan
Dunia yang tidak lagi terhimpit oleh aturan-aturan tradisi
Dunia yang tidak lagi membeda-bedakan keyakinan Read the rest of this entry »
Dua Episode Cinta
Sebuah atsar dari Ali ibn Abi Thalib r.a., ia mengatakan bahwa cinta itu memiliki dua episode. Yang pertama adalah pengorbanan, dan yang kedua adalah keberanian. Meskipun saya tidak begitu mengetahui lebih jauh tentang periwayatan atsar tersebut, tapi sepertinya matan yang disampaikan cukup bagus.
Ingin saya berbagi, dengan bahasa pemaparan saya sendiri..
7 Perangkap Setan
Mengutip salah satu ulama terkenal, Ibnu Qayyim al-Jauzi, di sini ingin saya berbagi tentang sebuah nasihat baik yang semoga bermanfaat bagi kita semua. Dalam kutipannya tersebut, setidaknya ada 7 (tujuh) tingkatan godaan setan terhadap manusia.
#1 Pagi yang Indah
Beberapa waktu yang lalu, aku membaca sebuah surat elektronik dari salah seorang teman ku. Judulnya “Surat Cinta untuk Calon Istri Ku”. Isinya begitu romantis sekali. Tak ku sangka, ia begitu berani menuliskannya, bahkan mengirimnya secara terbuka kepada beberapa milis serta memposting surat tersebut di blog pribadinya.
Sejenak aku merenung, ia saja yang belum jelas istrinya, berani menulis dan mempublikasikannya seperti itu. Sepertinya, aku lebih pantas menulis seperti itu, untuk istriku ya..
Matinya si Biang Kerok
“Akhirnya mati juga si Biang Kerok itu!”. Seloroh itu terlontar begitu saja dari salah satu mulut warga yang berkerumun di tepi pemakaman keluarga itu. Beberapa warga lain yang mendengar, hanya tersenyum miris meng-iya-kan. Kata-kata yang tak etis untuk sebuah prosesi pemakaman. Tapi, itulah kenyataannya. Read the rest of this entry »
Salah Antri (Takdir)..
Menjelang siang itu, udara terasa begitu panas tak biasanya. Memasuki sebuah lobi kantor cabang bank swasta di pinggiran ibukota, semilir udara yang terdinginkan cukup menyejukkan. Tapi, pandangan terbelalak dengan panjangnya antrian yang harus dilalui. Read the rest of this entry »
Adalah Engkau
Adalah engkau dia yang ku rindu
Tuk menjadi bunga di hatiku
Menjadi peneduh kalbu
Di perjalananku
Tibalah waktu yang telah ku rindu
Tuk selalu bersama dengan mu
Tlah terbuka pintu itu
Akad tlah terucap sudah
Dinda marilah melangkah
Dinda temanilah aku di setiap detik ku
Dengan doamu
Bila terpisahkan waktu
Tetaplah di sini di dalam hatiku
Ya Rabbi izinkanlah kami
Untuk terjaga selalu di jalan-Mu
Dinda doamu laksana pelepas dahaga
Di lelahnya jiwa
Adalah engkau dia yang kurindu
Tuk selalu hadir dihidupku
Mengiringi setiap langkah saat menuju
Acuan hidup ini
.
-seismic-
Mengenang Gus Dur
Takdir bak misteri. Ia layak sebuah kotak Pandora, yang tak seorang pun tahu apa isinya. Ya, adagium tersebut tampak menunjukkan eksistensinya. Saat mendengar berita kematian Gus Dur, kemarin malam. Terkejut dan hampir tidak percaya, terjadi begitu saja. Begitulah takdir memainkan perannannya. Ia hadir begitu elegan dengan kedigdayaannya. Kadang mengalir cepat, melambat, kembali cepat, dan mendadak terhenti. Read the rest of this entry »
Untuk Mereka
Tuhan,
Sepertinya ku tak perlu menyampaikan seperti ini
Yang mungkin sekedar retorika belaka
Tapi, ini bukan untuk Mu
Tapi, ini untuk mereka yang senantiasa bertanya
Wahai Dunia
Wahai dunia, pergilah engkau!
Aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi untuk kau ambil
Jejak-jejak usaha yang dahulu aku banggakan
Begitu saja engkau rengkuh tak tersisa
.
Wahai dunia, pergilah engkau!
Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk kau rebut
Tetesan jejak karya yang dahulu aku bersamanya
Begitu saja engkau himpun dan berlalu
.


