Paradoks Pluralisme
Mereka berkata tentang indahnya dunia yang penuh harmoni
Dunia yang tiada lagi sekat-sekat primordial keagamaan
Dunia yang tidak lagi terhimpit oleh aturan-aturan tradisi
Dunia yang tidak lagi membeda-bedakan keyakinan
Mereka berkata tentang indahnya kehidupan yang damai
Kehidupan tanpa kekerasan atas nama agama
Kehidupan tanpa konflik berbasis ideologi
Kehidupan tanpa prasangka atas perbedaan nilai
Mereka berkata tentang indahnya alam yang satu
Alam ketika manusia menyatukan semua keimanan yang berbeda
Tidak ada lagi sekterian agama
Yang ada hanya keyakinan bersama
Tapi lihat apa yang mereka perbuat
Mereka mengutuk manusia yang meyakini keesaan Tuhannya
Mereka menghujat hamba yang ingin khusyu’ dalam ibadahnya
Mereka mencerca setiap orang yang membela agamanya karena dinista
Dengki,
Karena masih ada engkau yang berbeda dengan mereka
Karena masih ada engkau yang meyakini satu keyakinan saja
Karena masih ada engkau yang mengagungkan Tuhan,
Yang bukan rekayasa mereka
Adalah salah, ketika engkau meyakini keimanan yang tunggal
Itu dianggap tidak universal
Adalah salah, ketika engkau menggenggam iman dalam keseharian
Itu dianggap primordial
Adalah salah, ketika engkau mengkhususkan ibadah untuk satu Tuhan
Itu dianggap tidak toleran
Salah ketika engkau mengkhususkan diri dan meyakini,
Untuk mu agama mu, dan untuk mereka agama mereka
Salah ketika engkau tidak mengikuti ibadah orang lain, yang berbeda dengan engkau
Salah karena engkau kaku dalam berkeyakinan
Karenanya,
Engkau dianggap sebagai makhluk yang keras kepala
Engkau dicap sebagai makhluk yang sok suci
Engkau dihina sebagai makhluk yang tidak plural
Kebajikan yang diserukan, kedengkian yang disebarkan
I like it!
Salam Damai!
Maren Kitatau
February 18, 2011 at 3:02 pm
[...] sikap primordial dan menghambat nasionalis. Sungguh menggelikan. Anak-anak didoktrin nilai-nilai pluralisme. Anak-anak diberikan gambaran bahwa agama bertolak belakang dengan nasionalisme, agama hanyalah [...]
Aku, Sosiologi, dan Islam « phiy's weblog
February 25, 2011 at 1:20 pm
[...] sikap primordial dan menghambat nasionalis. Sungguh menggelikan. Anak-anak didoktrin nilai-nilai pluralisme. Anak-anak diberikan gambaran bahwa agama bertolak belakang dengan nasionalisme, agama hanyalah [...]
Aku, Sosiologi, dan Islam « afiynih.com
April 8, 2011 at 9:53 am