khuzaifah hanum

share to others

Islam dan Ilmu Pengetahuan

with 6 comments

Dalam diskursus ilmu pengetahuan kontemporer, penjelasan agama terhadap fenomena kehidupan seringkali terabaikan, bahkan tertolak. Agama menjadi sesuatu yang musykil untuk dijadikan landasan argumentatif dalam telaah dinamika struktur dan sistem kehidupan. Sepertinya, terdapat jurang pemisah antara agama dan ilmu pengetahuan yang tak mungkin dipertemukan.

Kondisi tersebut merupakan fakta yang terjadi dalam aktivisme intelektual saat ini. Bukan tanpa alasan, penolakan terhadap agama dalam diskursus ilmu pengetahuan ini memiliki akar sejarah yang panjang, tepatnya pada masa pra-renaisance. Pada periode tersebut, agama (Kristen) merupakan satu-satunya kekuatan dominan yang menghegemoni kehidupan di Eropa (Husaini, 2005). Interpretasi atas realita, mutlak berada di tangan Gereja sebagai institusi otoritatif atas tamsil-tamsil kebenaran Tuhan. Gereja membawa pengetahuan ke dalam domain keimanan dan menjadi bagian dari doktrin agama. Sebuah bentuk kooptasi terhadap kebebasan intelektual.

Relasi kekuasaan pun berubah, otoritas agama tumbang di Eropa. Evolusi pemikiran yang sebelumnya berada dalam keterkungkungan Gereja, telah membawa pada suatu revolusi kehidupan, enlightment. Perubahan ini tidak hanya menciptakan kehidupan baru di dalam alam kebebasan berfikir, namun juga terus membawa dendam historis ilmu pengetahuan atas agama. Hasilnya, agama dijauhkan dari aktivitas keilmuan.

Revolusi ilmu pengetahuan ini telah berhasil membawa Eropa dari ‘Masa Kegelapan’ menuju ‘Era Pencerahan’. Eropa dengan fondasi ilmu pengetahuan pasca-renaisance, telah mengkultuskan diri sebagai pusat peradaban dunia. Pengalaman atas dominasi hegemonik Gereja telah membawa aktor intelektual Eropa untuk membangun ilmu pengetahuan yang resisten terhadap agama. Pemahaman ini terus disebarkan ke seluruh penjuru bumi sebagai upaya pencerahan dunia. Memisahkan agama dalam ilmu pengetahuan menjadi mutlak diperlukan, untuk membangun kejayaan dalam tatanan kehidupan. Karenanya, ilmu pengetahuan haruslah bebas nilai (value free), jauh dari nilai agama.

Hingga kini, paradigma bebas nilai terus menjiwai setiap aktifitas keilmuan. Perspektif atas analisa permasalahan kehidupan, saat ini, hanya disandarkan pada kekuatan akal melalui kapasitas rasionalnya. Nalar ‘dipaksa’ untuk mengkonstruksikan seluruh definisi yang ada dalam fenomena alam dan sosial. Logika rasional menjadi doktrin tersendiri untuk mendefinisikan fakta kehidupan yang tak terbantahkan. Walhasil, ilmu pengetahuan menggantikan peran agama, dan mengklaim diri sebagai pemegang otoritas kebenaran secara mutlak. Dialektika pencarian kebenaran ini telah menghasilkan polarisasi antara ilmu pengetahuan dan agama secara ekstrim.

Perspektif Islam atas Ilmu
Paradigma keilmuan tersebut (baca: paradigma Barat) tentunya sangat berbeda dengan perspektif Islam tentang ilmu pengetahuan. Islam tidak memandang ilmu pengetahuan sebagai musuh keimanan atas konsep kepercayaan terhadap tuhan, Allah SWT. Islam memandang bahwa ilmu pengetahuan merupakan instrumen yang ditujukan untuk memperkokoh keimanan itu sendiri. Sebaliknya, Islam justru menuntut ummatnya untuk menguasai pengetahuan dalam banyak tantangan retoris al-Qur’an, tidakkah kamu melihat, tidakkah kamu perhatikan, tidakkah kamu mengetahui, tidakkah kamu berfikir.

Islam memandang bahwa pada hakikatnya relasi akal dan iman dalam dialektika ilmu merupakan hubungan yang bersifat komplementer. Artinya, kapasitas keilmuan seseorang menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan derajat keimanan. Ilmu dan iman bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, tapi dipadukan untuk membangun fondasi tauhid, untuk menciptakan sebuah harmoni kehidupan sebagai wujud Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Hal inilah yang terjadi pada masa kejayaan Islam terdahulu. Ilmu dan iman mampu membangun kombinasi yang khas hingga menciptakan suatu capaian peradaban yang tak terkira. Tidak pernah terjadi dalam sejarah Islam bahwa, agama melakukan kooptasi terhadap ilmu pengetahuan dan kapasitas nalar, hanya karena produk ilmu pengetahuan tersebut berbeda dengan dalil wahyu. Yang terjadi malah sebaliknya, ilmu melalui logika eksperimental akal, membuktikan kebenaran-kebenaran yang dibawa oleh wahyu. Dengan demikian, Islam tidaklah membuat sebuah segregrasi yang radikal antara kapasitas akal dengan otoritas wahyu.

Relasi ilmu pengetahuan antara akal dan wahyu ini dikarenakan Islam mendiferensiasikan sumber ilmu ke dalam dua kategori, yaitu sumber kauliyah dan sumber kauniyah melalui suatu proses dialektis (Yahya, 2003). Sumber kauliyah merupakan pengetahuan hakiki yang dibawa oleh al-Qur’an dengan kapasitasnya sebagai pedoman hidup manusia. Dengan demikian, al-Qur’an menjadi sumber pengetahuan mendasar bagi manusia. Sementara, sumber kauniyah merupakan pengetahuan karya eksperimental yang diperoleh manusia melalui proses berfikir dengan menggunakan akal. Pencarian pengetahuan dalam Islam tidak dapat berjalan sendiri-sendiri antara akal dan wahyu, melainkan proses mencari jawaban pengetahuan dalam koridor keimanan, sebagaimana kalam ilahi pertama kali yang turun, bacalah dengan menyebut nama Rabbmu.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menyatakan bahwa proses berfikir dalam menemukan pengetahuan merupakan tututan bagi manusia, dan inilah yang membedakannya dengan makhluk yang lain. Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang tidak mengetahui apa-apa mengenai sekelilingnya, hingga akhirnya Allah SWT memberikan pengetahuan pada manusia melalui proses berfikir. Berfikir merupakan proses penerjemahan bayang-bayang di balik perasaan, dan aplikasi akal untuk membuat analisa dan sintesa. Dalam proses ini, akal memiliki peranan yang sangat signifikan untuk mendapatkan pemahaman pengetahuan tersebut melalui penafsiran bayang-bayang kauniyah dan sumber kauliyah.

Kerangka berfikir yang dibangun dalam konsep ilmu dalam Islam merupakan sebuah upaya mengungkap pengetahuan dalam rangka mengagungkan kebesaran Allah SWT. Karenanya, sekalipun mendapatkan hasil temuan yang berbeda antara sumber kauliyah dan kauniyah, maka itu tidak dapat dijadikan alasan untuk menegasikan salah satu sumber, terlebih untuk menegasikan ayat-ayat kauliyah. Temuan ayat kauniyah bersifat relatif dan sementara. Ketika temuan kauniyah berbeda dengan tesis kauliyah, maka tidak bisa disimpulkan bahwa salah satu dari keduanya salah. Sebenarnya dalam proses tersebut, penafsiran atas fenomena kauniyah itu tengah berada dalam proses menuju kebenaran kauliyah hingga ditemukan titik temu antara kedua preposisi sumber ilmu pengetahuan ini.

Islam memiliki fokus yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan. Perpaduan antara dua sumber pengetahuan ini berikut proses pencariannya inilah yang kemudian membangun dasar-dasar keilmuan dalam Islam. Yusuf Qaradhawi (2002) menyatakan bahwa dalam Islam, ilmu pengetahuan menjadi sangat penting untuk dimiliki sebelum melakukan suatu tindakan. Hal ini dikarenakan bahwa dari pilar-pilar keilmuan Islam tersebut, kemudian akan menjadi dasar bagi pembangunan peradaban Islam.

Namun, kondisi ideal ilmu pengetahuan dan Islam sangat jauh dari kenyataan. Saat ini, ilmu pengetahuan tengah‘dijauhkan’ dirinya dari dari sentuhan Islam sebagaimana dalam konsep ilmu pengetahuan kontemporer. Pada saat yang bersamaan, ummat Islam pun jauh dari ilmu pengetahuan dan lekat dengan kebodohan. Revitalisasi keilmuan Islam bukan sekedar membangkitkan kapasitas intelektual kaum cendikia muslim semata. Lebih jauh dari itu, langkah tersebut merupakan sebuah upaya merealisasikan komitmen pada kebenaran.

Membangun paradigma keilmuan Islam merupakan upaya pembangunan sinergi antara kapasitas akal dan iman. Melakukan pembuktian atas kebenaran iman melalui interpretasi akal atas fenomena kehidupan. Hal ini tentunya menjadi tugas generasi muslim saat ini untuk mengembalikan era Tamadun Islam. Membangun kembali peradaban dunia yang baru, dengan ilmu pengetahuan dan Islam.

About these ads

Written by hanumisme

September 15, 2009 at 12:35 am

6 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. wew…i agree, u have a ‘sharp pen’ as a gift for Allah… keep on writing bro!

    Rina

    September 29, 2009 at 12:59 pm

  2. subhanallah, lanjutkan nulis kayak gini bang an lg butuh banyak pencerahan ni terutama tentang keterkaitan antara Islam dan ilmu pengetahuan!

    M. Ichsan kamil

    September 30, 2009 at 4:39 pm

  3. Bahasan yang berani dan berakar.
    Mari kembalikan fungsi ilmu-sains sebagai ayat yang mendekatkan diri pada sang Khaliq, Alloh Subhanahu wa ta’ala. Ini sedikit tulisan dari kami, mudah2an tafakur bisa menjadi jalan kita mengetahui kebesaran Ilahi serta akhirnya bertambah taqwa kepada-Nya.

    http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=143&Itemid=99

    syaefudin

    September 30, 2009 at 5:12 pm

  4. sebaiknya materialisme dibersihkan namanya dr pola pikir masyarakat muslim..br sains dan islam berbaikan..

    dyNA

    October 1, 2009 at 3:13 pm

  5. oya salam kenal,aq dyna,goodwill alumnus..
    klo mo jalan2 ke blog ku,silahkan ke mozaiksynaps.wordpress (serius n jarang di update) or dynablossoms.multiply.com (yg ini baru,personal)
    aq concern di sains,agama,dan isu perempuan..

    dyNA

    October 1, 2009 at 3:20 pm

  6. subhanallah…
    artikel yang sangat menarik, memang sebagai umat islam kita tidak hany mengkaji ilmu agama saja, tapi juga ilmu pengetahuan, untuk kemajuan dan peradaban umat islam,,,

    ninis

    May 11, 2011 at 2:29 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: